Baresan Incuputu Pangauban, Merawat Sungai lewat Dharma
- 08 Sep 2026 05:10 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Patanjala adalah komunitas yang didirikan tahun 2017 di kawasan Ciliwung oleh Rahmat Leuweung dengan fokus pada hubungan manusia dengan tanah dan air berdasarkan nilai-nilai masyarakat Baduy Kanekes.
- Komunitas ini menggabungkan praktik seni tari dengan pengukuran dan penentuan batas wilayah sungai secara langsung untuk keperluan pemetaan dan pelestarian.
- Saat ini sekitar 20 anggota telah bergabung dengan Patanjala dan dituntut melakukan keterlibatan langsung dalam proses perhitungan serta pengukuran batas wilayah sungai Ciliwung.
RRI.CO.ID, Jakarta - Baresan Incuputu Pangauban atau Patanjala hadir di kawasan Ciliwung sejak 2017 sebagai komunitas yang menempatkan hubungan manusia dengan tanah dan air sebagai bagian penting dalam kehidupan. Nama Patanjala dimaknai sebagai air dan jala sungai. Komunitas ini dicetuskan oleh Rahmat Leuweung dengan semangat mengajak setiap makhluk hidup menjalankan dharma atau pengabdian terhadap tanah dan air, yang berakar pada nilai-nilai masyarakat Baduy Kanekes.
Keberadaan komunitas ini tidak sekadar berkaitan dengan seni tari, tetapi juga memiliki tujuan untuk melakukan pengukuran dan penentuan batas wilayah sungai secara langsung. Di kawasan Ciliwung, saat ini sekitar 20 orang telah bergabung. Mereka yang ingin menjadi bagian dari komunitas dituntut untuk menjalankan dharma melalui keterlibatan langsung dalam proses perhitungan dan pengukuran batas wilayah sungai.
"Berbagai kegiatan Baresan Incuputu Pangauban digagas dan diselenggarakan secara komunal oleh keluarga Incuputu Ciliwung. Landasan utama kami adalah kesadaran bahwa tanah dan air memiliki haknya masing-masing yang perlu dihormati. Karena bersifat sukarela atau volunteer, perjalanan komunitas kami memiliki suka dan duka tersendiri. Kebahagiaan akan dirasakan ketika seseorang mampu memahami makna dharma, sementara tantangan muncul ketika pengabdian dijalani setengah hati atau masih terikat kuat pada kepentingan duniawi",
ujar Shulton Bijaksana, Ketua Komunitas Puun Kasilaran Pangauban Incuputu Ciliwung, melalui sambungan telp di acara Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 7 September 2026 .
Baca Juga : Komunitas Tari Satria Buwana, Menjaga Tari Tradisi
Baca Juga : Saga Hydroheroes, Berdaya Bersama lewat Kebun Hidroponik

Dalam menjalankan kegiatannya, komunitas ini tidak berorientasi pada perlombaan maupun kejuaraan. Setiap aktivitas dipandang sebagai bentuk dharma, sehingga tidak diperkenankan untuk dilombakan. Prinsip tersebut menjadi cara komunitas menjaga agar kegiatan yang dilakukan tetap berada pada tujuan awal, yakni membangun kesadaran dan hubungan yang selaras antara manusia, tanah, dan air.

Baca Juga : Afdhalu Rizki Ajak Pemuda Minangkabau Aktif Berorganisasi
Ke depan, Baresan Incuputu Pangauban berharap dapat terus menjalankan pengabdian dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Bagi komunitas ini, perjalanan tidak semata-mata ditentukan oleh keinginan manusia, melainkan mengikuti alur yang telah digariskan semesta. “Rampes,” menjadi ungkapan harapan agar seluruh rangkaian perjalanan dapat selesai dan berjalan sesuai dengan rundown-nya semesta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....