Teater Mantuli Hidupkan Legenda Sigalegale lewat Panggung Bahasa Isyarat

  • 06 Agt 2026 00:14 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Melalui Legenda Sigalegale, Teater Mantuli tidak hanya memperkenalkan kembali warisan budaya Batak kepada publik, tetapi juga menunjukkan bahwa cerita rakyat tetap relevan ketika dihadirkan dengan pendekatan yang inklusif dan kreatif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Teater Mantuli menghadirkan pertunjukan bertajuk “Legenda Sigalegale” di Gedung Kesenian Jakarta pada 2 Agustus 2026. Karya yang mengangkat cerita rakyat dari Pulau Samosir ini tampil sebagai pembuka Pentas Besar Manna Proxia Theatre UPH yang membawakan Romeo & Juliet. Meski hanya berdurasi singkat, penampilan tersebut terasa istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahun pendiri Teater Mantuli.

Dalam waktu 13 menit, Teater Mantuli mengajak penonton menyelami kisah seorang raja yang larut dalam kesedihan setelah putra tunggalnya gugur di medan perang. Duka yang begitu mendalam membuat sang raja kehilangan semangat hidup dan kepemimpinannya. Untuk menghibur sang raja, seorang pemahat ulung diperintahkan menciptakan boneka kayu yang menyerupai mendiang pangeran.

(Foto: Robert Gunadi)

Baca Juga : Keboen Sastra, Ruang Tumbuh Anak Jalanan lewat Seni dan Pendidikan

Baca Juga : Urban Spiritual Indonesia & Tempo Grup Ajak Kesadaran Harmoni Batin

Boneka itu kemudian dikenal sebagai Sigalegale, sosok yang dalam legenda Batak dipercaya mampu bergerak dan menari seolah hidup. Dengan sentuhan magis dan cinta seorang ayah kepada anaknya, Sigalegale menjadi penghubung antara kenangan, penghormatan, dan harapan. Kisah ini telah diwariskan turun-temurun sebagai simbol duka yang diolah menjadi penghormatan bagi mereka yang telah berpulang.

(Foto: Robert Gunadi)

Yang membuat pementasan Teater Mantuli semakin menyentuh adalah seluruh cerita disampaikan melalui bahasa isyarat. Tanpa banyak kata, para pemain menghadirkan emosi, kehilangan, dan kasih sayang dengan gerak tubuh, ekspresi wajah, serta ritme panggung yang puitis. Pertunjukan ini membuktikan bahwa seni dapat melampaui batas bahasa dan menjangkau hati siapa pun yang menyaksikannya.

(Foto :Robert Gunadi)

Baca Juga : Asnizarti, Bundo Kanduang yang Menjaga Minang di Sydney

Baca Juga : Cucu Nenek FC, Komunitas Sepak Bola yang Merajut Persaudaraan tanpa Batas

Baca Juga : Swara SeadaNya & Panji Laras Matangkan Sutasoma Project menuju Pentas

Melalui Legenda Sigalegale, Teater Mantuli tidak hanya memperkenalkan kembali warisan budaya Batak kepada publik, tetapi juga menunjukkan bahwa cerita rakyat tetap relevan ketika dihadirkan dengan pendekatan yang inklusif dan kreatif. Di panggung Gedung Kesenian Jakarta, Sigalegale kembali menari—bukan sekadar sebagai boneka legenda, melainkan sebagai simbol bahwa cinta, kehilangan, dan penghormatan kepada leluhur akan selalu hidup dalam ingatan budaya bangsa.

(Foto: (Foto :Robert Gunadi)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....