Revitalisasi Tenun Masalili: Sentuhan Tangan Perempuan Hebat Penjaga Budaya Muna

  • 10 Jun 2026 16:09 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Pernahkah Anda membayangkan selembar kain tradisional yang dibuat di sebuah teras rumah desa terpencil di Sulawesi Tenggara, bisa dihargai hingga puluhan juta rupiah di pasar Eropa? Keajaiban inilah yang lahir dari ketekunan para perempuan di Desa Masalili, Kabupaten Muna. Di balik keindahan helaian benangnya, tersimpan cerita tentang tradisi turun-temurun, pembuktian ekonomi kreatif, hingga perjuangan menjaga kehormatan budaya leluhur yang dikupas tuntas dalam program siaran berjaringan nasional "Suara Budaya Nusantara" di RRI Net, Rabu (10/6) siang.

“Pelestarian kain tradisional di Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga ini sepenuhnya bertumpu pada dedikasi luar biasa dari para perempuan setempat, di mana keahlian menenun mengalir alami dari ibu ke anak perempuan mereka sejak usia belasan tahun,” tutur YM Lukman Ichsan, SH., MH. dalam siaran kolaborasi antara RRI Pro 4 Jakarta dan RRI Pro 4 Kendari tersebut. Tokoh yang menjabat sebagai Kabid Humas Protokoler Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Muna ini menjelaskan, proses pewarnaan kainnya pun masih sangat alami dengan memanfaatkan serat akar nanas hingga bilis kayu.

“Proses pembuatan sehelai tenun Masalili ini membutuhkan waktu seminggu hingga tiga bulan menggunakan sistem gedukan tradisional—bukan mesin—sehingga nilai filosofis dan keaslian teknik mawru inilah yang membuat harganya melambung tinggi di pasar internasional,” tambah Lukman yang juga merupakan Dewan Pembina AMBA SULTRA Bidang Ekonomi Kreatif. Dedikasi tanpa lelah dari para ibu dan remaja putri di desa tersebut kini sukses mengubah selembar kain adat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang mandiri dan disegani.

Corak-corak pada tenun Masalili sendiri terbilang sangat unik karena terinspirasi langsung dari lukisan cadas situs purbakala Gua Lianggobori, seperti motif Kubah Benteng (Kubenteno), Kuda (Kuadarano), layang-layang, hingga keris (Lolabi). Demi melindungi warisan berharga ini dari pembajakan motif dan persaingan bisnis yang tidak sehat, YM Lukman Ichsan bersama sang istri yang memimpin kelompok perajin setempat, telah mengambil langkah tegas dengan mendaftarkan motif-motif sakral tersebut ke Kemenkumham guna mendapatkan sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Nama tenun Masalili sebenarnya kian meroket di panggung nasional setelah sukses dinobatkan sebagai Busana Adat Terbaik di Istana Negara pada peringatan HUT RI ke-79 tahun 2024 lalu, yang saat itu dikenakan langsung oleh Paduka YM La Ode Riago. Tidak puas sampai di situ, kini pihak MAKN Muna dan AMBA SULTRA tengah bersiap melebarkan sayapnya ke kancah global dengan mengagendakan pameran kebudayaan dan benda pusaka ke negara tetangga, Malaysia, dalam waktu dekat.

Siaran interaktif sangat dinamis berkat panduan apik dari duet host Tiara Adinda di Jakarta dan Laode Muh Rismawan di Kendari. Melalui jaringan frekuensi Pro 4 di seluruh Nusantara, dialog ini diharapkan bisa memantik semangat daerah lain untuk ikut mengangkat potensi lokal mereka. Kombinasi eksotisme wisata Gua Lianggobori dan pesona sentra kerajinan Desa Masalili diharapkan terus mengukuhkan posisi kaum perempuan sebagai garda terdepan penjaga marwah budaya sekaligus pahlawan ekonomi daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....