Menjaga Tradisi, Melalui Dialog Budaya antara Swara SeadaNya dan Pakualaman
- 11 Jul 2026 12:17 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Dr. Sri Ratna menjelaskan bahwa manuskrip tidak hanya memuat ajaran kepemimpinan maupun nilai spiritual, tetapi juga mencatat tradisi kuliner, tata cara penyajian makanan ritual, hingga ragam hidangan warisan leluhur.
RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana hangat mewarnai sebuah pertemuan budaya di restoran Cerita Rasa Nusantara, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis 9 Julli 2026. Di tengah nuansa estetik yang berpadu dengan cita rasa Nusantara, kelompok musikalisasi puisi dan musik etnik Swara SeadaNya berdiskusi bersama para akademisi dan budayawan mengenai upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para anggota Swara SeadaNya, yaitu Ayie Suminar, Theressa Rida, Abrar Husin, Indonesiana Ayuningtyas, Wulan Fitria, Sano Rizal, serta Dr. Turita Indah Setyani selaku pakar religi Jawa dan promotor Swara SeadaNya. Hadir pula filolog senior sekaligus Kepala Perpustakaan Kadipaten Pakualaman, Dr. Sri Ratna Sakti Mulya, M.Hum., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FIB UI Dr. Lily Tjahjandari, Ph.D., serta Kepala Ruang Arsip Kadipaten Pakualaman Dr. Drs. Sudibyo Prawiroatmodjo. Pertemuan ini menjadi refleksi lanjutan setelah kehadiran Swara SeadaNya sebagai tamu VIP pada peluncuran Batik Puspawicitra dalam ajang Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan.

Baca Juga: Swara SeadaNya Saksikan Peluncuran Batik Puspawicitra di JCC
Baca Juga : Swara SeadaNya Perkuat Riset Naskah Nusantara lewat Dukungan Kadipaten Pakualam
Dalam diskusi tersebut, Dr. Sri Ratna Sakti Mulya mengulas filosofi Batik Puspawicitra yang diluncurkan oleh Gusti Putri G.K.B.R.A.A. Paku Alam X. Motif batik tersebut lahir dari kajian mendalam terhadap manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Kadipaten Pakualaman. Puspa berarti bunga, sedangkan Wicitra bermakna keberagaman yang indah. Filosofi itu menggambarkan Pakualaman sebagai taman budaya yang menjadi ruang tumbuh bagi berbagai latar belakang, keyakinan, dan pandangan hidup dalam suasana yang harmonis. Menurutnya, karya tersebut menunjukkan bahwa inovasi budaya dapat berkembang tanpa meninggalkan akar tradisi.
Perbincangan kemudian mengalir ke kekayaan gastronomi Nusantara yang juga banyak terekam dalam naskah-naskah kuno. Dr. Sri Ratna menjelaskan bahwa manuskrip tidak hanya memuat ajaran kepemimpinan maupun nilai spiritual, tetapi juga mencatat tradisi kuliner, tata cara penyajian makanan ritual, hingga ragam hidangan warisan leluhur. Bagi Swara SeadaNya, temuan-temuan tersebut membuka peluang baru untuk mengangkat narasi kuliner dan sastra Jawa ke dalam karya seni pertunjukan kontemporer, melanjutkan riset mereka terhadap naskah Kakawin Sutasoma yang akan menjadi bagian dari pementasan pada September mendatang.

Pertemuan di Kemang itu pun ditutup dengan semangat memperkuat kolaborasi antara akademisi, filolog, dan pelaku seni. Sinergi tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui penyimpanan naskah dan koleksi wastra, tetapi juga melalui dialog, riset, dan kreativitas yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai luhur Nusantara dalam bahasa seni yang dekat dengan masyarakat modern. Dengan cara itulah, warisan budaya akan terus hidup, berkembang, dan menginspirasi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....