Apresiasi Budaya di RRI, Hadirkan Semangat Pendidikan Dalam Budaya Batak
- 23 Jun 2026 17:11 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Semangat pendidikan yang telah mengakar kuat dalam budaya Batak menjadi tema utama dalam dialog budaya Batak yang berlangsung pada acara Apresiasi Budaya Batak di Pro 4 RRI Jakarta, Senin 22 Juni 2026.
Hadir di acara tersebut sebagai Narasumber, Drs. Nelson Barus, M.M., Widya Iswara Ahli Utama RI, mengungkapkan bahwa pendidikan bagi masyarakat Batak bukan sekadar sarana memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga jalan untuk meraih martabat, kehormatan, dan masa depan yang lebih baik.
Dalam perbincangan yang dipandu Host Dermawan Ismail tersebut, Nelson menegaskan bahwa semangat belajar telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Batak sejak dahulu hingga kini. Nilai-nilai budaya Batak bahkan menempatkan pendidikan sebagai investasi terbesar bagi keluarga dan generasi penerus.
Menurut Nelson Barus, salah satu falsafah yang sangat terkenal dalam masyarakat Batak adalah “Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au” yang berarti anak adalah kekayaan yang paling berharga. Filosofi ini mendorong orang tua Batak untuk bekerja keras demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Tak jarang keluarga rela merantau, berjuang secara ekonomi, bahkan mengorbankan kenyamanan hidup demi memastikan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Semangat tersebut telah melahirkan banyak tokoh Batak yang berkiprah sebagai akademisi, birokrat, profesional, maupun pemimpin di berbagai bidang kehidupan.
Lebih lanjut Nelson, menjelaskan bahwa budaya Batak mengenal nilai-nilai hagabeon, hamoraon, dan hasangapon yang menjadi cita-cita hidup masyarakat. Namun, ketiga nilai tersebut tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai sarana untuk membangun pola pikir yang baik, meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh kehormatan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat Batak memiliki motivasi berprestasi yang tinggi karena keberhasilan pendidikan sering kali dipandang sebagai kebanggaan keluarga sekaligus bentuk penghormatan kepada orang tua.
Dalam dialog tersebut, Nelson juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter yang diwariskan melalui budaya Batak. Nilai hormat kepada orang tua, tanggung jawab, kerja keras, disiplin, gotong royong, dan semangat saling mendukung terus diajarkan sejak usia dini melalui keluarga maupun lingkungan adat. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjaga integritas, etika, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
"Nilai-nilai inilah ini yang membuat budaya Batak tetap relevan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di era modern," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut Nelson Barus juga mengajak generasi muda untuk terus meneladani semangat pendidikan yang diwariskan para leluhur Batak. Di tengah perkembangan teknologi dan tantangan global yang semakin kompleks, pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama sebagai bekal menghadapi masa depan. Ia berharap nilai-nilai budaya Batak yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, kerja keras, dan penghormatan terhadap pendidikan dapat terus dipelihara serta menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Melalui pendidikan yang berakar pada budaya dan karakter yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan bagi bangsa dan negara," jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....