Memaknai Kembali Dalihan Natolu dalam Sistem Kekerabatan Batak

  • 18 Sep 2026 19:26 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID.Jakarta - Sistem kekerabatan menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan masyarakat Batak yang hingga kini terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya. Salah satu konsep utama yang menjadi landasan hubungan sosial tersebut adalah Dalihan Natolu, sebuah sistem kekerabatan yang mengatur keseimbangan hubungan antarkelompok keluarga dalam kehidupan masyarakat Batak. Hal itu menjadi topik pembahasan menarik dalam acara Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 14 September 2026, yang menghadirkan St. Ev. Drs. Binsar Siregar, M.Psi, Anggota Intelektual Think Tank BATAK CENTER, melalui sambungan telepon dan dipandu oleh host Dermawan Ismail.

Dalam perbincangan tersebut, Binsar Siregar menjelaskan bahwa Dalihan Natolu bukan sekadar istilah adat atau aturan hubungan keluarga, melainkan sebuah nilai kehidupan yang mengajarkan bagaimana setiap individu menempatkan diri secara tepat dalam lingkungan sosial dan kekerabatan. Konsep ini dikenal melalui tiga unsur utama, yakni Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru, yang masing-masing memiliki posisi, peran, serta tanggung jawab dalam menciptakan hubungan yang harmonis. Menurutnya, pemahaman terhadap Dalihan Natolu menjadi penting karena sistem tersebut tidak hanya berbicara mengenai garis keturunan, tetapi juga mengajarkan etika dalam menghormati, menghargai, membantu, dan menjaga hubungan antarsesama.

Lebih jauh, Binsar menyoroti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Dalihan Natolu memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan masyarakat Batak di tengah perubahan zaman. Kemajuan teknologi, mobilitas masyarakat, serta perubahan pola kehidupan sosial membuat generasi muda semakin jarang berinteraksi langsung dengan lingkungan adat. Karena itu, pemaknaan kembali terhadap Dalihan Natolu diperlukan agar nilai-nilai kekerabatan tidak berhenti sebagai pengetahuan simbolik, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat saling menghormati, menjaga persaudaraan, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, serta mengutamakan keseimbangan dalam hubungan sosial dinilai tetap relevan untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang rukun.

Menurut Binsar Siregar, pengenalan Dalihan Natolu kepada generasi muda juga harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan mudah dipahami. Nilai adat tidak semestinya hanya dikenalkan dalam forum-forum seremonial, tetapi perlu dihidupkan melalui keluarga, komunitas, pendidikan, serta berbagai ruang kebudayaan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal istilah-istilah dalam adat Batak, tetapi juga memahami makna dan tanggung jawab yang menyertainya. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian budaya agar sistem kekerabatan Batak tetap memiliki tempat di tengah masyarakat modern tanpa kehilangan akar dan jati dirinya.

Pembahasan mengenai Dalihan Natolu dalam Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya sesungguhnya terletak pada nilai yang terus dipraktikkan oleh masyarakatnya. Melalui dialog yang dipandu Dermawan Ismail, pemikiran Binsar Siregar memperlihatkan bahwa Dalihan Natolu dapat dipandang sebagai warisan budaya yang bukan hanya mengatur hubungan kekerabatan, tetapi juga menjadi pedoman membangun kehidupan sosial yang saling menghormati dan bertanggung jawab. Pemaknaan kembali terhadap konsep tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran generasi penerus untuk menjaga persaudaraan, identitas budaya, dan nilai-nilai luhur masyarakat Batak agar tetap hidup dan berkembang di tengah dinamika zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....