UI Hidupkan Tradisi Malam Satu Suro sebagai Ruang Refleksi Diri

  • 17 Jun 2026 22:03 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Universitas Indonesia menggelar peringatan Malam Satu Suro bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah melalui acara “Malam Tirakat, Hening, dan Menyelaraskan Diri” pada Senin, 15 Juni 2026.
  • Rangkaian acara diisi berbagai tradisi budaya Jawa, seperti senandung kidung, jamasan pusaka, meditasi, tapa bisu, dan makan bubur suro bersama.
  • Para akademisi Universitas Indonesia menegaskan bahwa Malam Satu Suro bukan malam yang angker, melainkan momentum untuk evaluasi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Universitas Indonesia atau UI menghidupkan kembali tradisi Malam Satu Suro melalui kegiatan bertajuk “Malam Tirakat, Hening, dan Menyelaraskan Diri” di Selasar Makara Art Center, Depok, Jawa Barat pada Senin, 15 Juni 2026. Kegiatan yang bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah ini menjadi ruang refleksi budaya dan spiritual bagi masyarakat dalam menyambut tahun baru Jawa dan Islam.

Acara tersebut diselenggarakan Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Urban Spiritual Indonesia, Komoenitas Makara, dan Program Studi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ratusan peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang menggabungkan unsur budaya, spiritualitas, dan nilai kebersamaan.

Foto : Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI dan Humas

Rangkaian acara diisi dengan berbagai ritual spiritual, mulai dari senandung kidung, jamasan pusaka, hingga meditasi dan tapa bisu di tepi danau. Para peserta diajak untuk hening sejenak, mendengarkan suara hati, dan menikmati bubur suro bersama sebagai simbol kebersamaan.

Kehadiran para pamomong kebudayaan seperti Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Prof. Dr. Darmoko, dan Dr. Turita Indah Setyani memberikan kedalaman makna bagi setiap laku spiritual yang dilakukan, mengubah suasana malam menjadi momen kontemplasi yang menyentuh jiwa.

Foto : Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI dan Humas

Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Direktur Kebudayaan UI, menekankan bahwa penyatuan kalender Jawa dan Hijriah adalah bentuk kearifan lokal yang genius dari Sultan Agung. Ia menyatakan, “Perayaan tahun baru Jawa yang bersamaan dengan Hijriyah tidak saja mencerminkan pergantian waktu, tapi memiliki makna kultural dan spiritual. Penyatuan kalender Jawa dan Hijriyah ini merupakan bentuk ijtihad kebudayaan yang genius, kreatif dan inovatif dari Sultan Agung dalam mentautkan agama dan tradisi tanpa meleburkan keduanya.”

Selain itu, acara ini juga bertujuan meluruskan persepsi masyarakat yang sering kali menganggap 1 Suro sebagai hari angker atau menakutkan akibat pengaruh film horor. Dr. Ari Prasetiyo, Pakar Kebudayaan Jawa FIB UI, mengajak peserta untuk kembali pada makna asli 1 Suro sebagai momen introspeksi diri. Ia menegaskan, “Marilah di malam 1 Suro ini kita bersama-sama melakukan evaluasi dan perbaikan diri: Jadi dosen, jadilah dosen yang baik. Jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik. Jadi pejabat, jadilah pejabat yang baik. Jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik.” Pesan ini mengingatkan pentingnya kesucian hati dan tindakan bijak di awal tahun baru.

Foto : Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI dan Humas

Kegiatan ditutup dengan tembang Jawa yang dibawakan oleh Darmoko. Tembang tersebut berisi doa agar Indonesia senantiasa aman, tenteram, dan sejahtera.

Melalui perpaduan ritual, seni, dan doa, Universitas Indonesia berupaya mengembalikan makna malam satu suro sebagai tradisi reflektif yang sarat nilai kebudayaan. Peserta yang hadir diajak mengamalkan prinsip “Eling lan Waspada” atau ingat dan waspada sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih bijaksana dan bermakna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....