Suara Budaya Nusantara di RRI, Menghidupkan Jiwa Kota Lewat Kreatifitas Seni

  • 05 Jun 2026 18:16 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Bayangkan jika sudut-sudut kota besar seperti Surabaya atau Jakarta hanya dipenuhi beton tinggi, aspal panas, dan deretan ruko tanpa ada satu pun warna yang menyegarkan mata. Pasti rasanya sangat kaku, membosankan, dan bikin cepat stres. Nah, di sinilah seni rupa hadir bukan cuma sebagai pemanis jalanan, melainkan sebagai "obat penenang" sekaligus pengisi jiwa bagi sebuah kota. Hubungan erat antara estetika dan ruang publik inilah yang dikupas tuntas dalam program siaran berjaringan nasional "Suara Budaya Indonesia" di Radio Visual RRI Net, pada Kamis 04 Juni 2026 .

“Kota sebesar Surabaya atau Jakarta ini akan terasa mati dan kaku jika aktivitas warganya hanya berputar di antara kemacetan lalu lintas, gedung perkantoran, dan pusat perbelanjaan tanpa ada sentuhan artistik sama sekali,” ujar Agoes “Koecing” Sukamto, S.Sn., M.Sn., dosen Seni Rupa dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya saat hadir sebagai narasumber utama di studio. Menurut Agoes, kehadiran karya seni rupa seperti patung, lukisan mural, hingga instalasi unik di ruang publik sangat ampuh memberikan "jiwa" agar lingkungan perkotaan terasa lebih humanis, inklusif, dan ramah secara psikologis bagi warganya.

Agoes yang pernah mencicipi pengalaman residensi seni di Prancis ini juga membandingkan bagaimana kota-kota besar di dunia memperlakukan seniman mereka sebagai investasi jangka panjang. “Pemerintah di Paris, Taiwan, hingga Korea Selatan itu sangat konsisten menyulap kawasan kumuh dan gedung-gedung tua yang telantar menjadi distrik seni terpadu (creative hub). Kawasan kreatif seperti ini tidak sekadar jadi tempat kerja atau workshop bagi seniman lokal, tapi terbukti mampu menghidupkan roda ekonomi baru lewat sektor pariwisata yang mendatangkan banyak turis,” jelasnya secara gamblang.

Sebenarnya, Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk meniru konsep creative hub dunia tersebut. Di Surabaya sendiri, kawasan penuh sejarah seperti sepanjang aliran Kalimas hingga Jalan Tunjungan dinilai punya potensi luar biasa jika ditata dengan pendekatan seni rupa yang matang. Bayangkan jika tempat ikonik tersebut diintegrasikan dengan museum seni rupa modern, galeri edukasi, serta patung interaktif di ruang terbuka. Selain mempercantik kota, langkah ini dipastikan bisa memicu rasa bangga dan rasa kepemilikan yang kuat di hati masyarakat, terutama anak-anak muda dari generasi Gen Z dan Gen Alpha.

Sayangnya, mimpi indah untuk mewujudkan kota berbasis seni ini masih sering terbentur oleh satu masalah klasik, yaitu masalah keberlanjutan (sustainability) regulasi. Pergantian kepemimpinan di pemerintahan daerah terkadang ikut mengubah arah kebijakan yang sudah berjalan. Oleh karena itu, Agoes sangat berharap jajaran pemerintah kota bisa duduk bareng secara konsisten dengan para akademisi dan pelaku seni untuk merumuskan sebuah cetak biru (blueprint) kebudayaan yang bersifat jangka panjang dan tidak berubah-ubah.

Diskusi seru yang dipandu oleh Jo Adithya dari Jakarta dan Cahyani Febrianga dari Surabaya ini berjalan sangat interaktif. Setelah obrolan mendalam di paruh pertama selesai, siaran sempat dijeda sejenak dengan pemutaran lagu hits nusantara. Tak lama setelah itu, kedua host langsung membuka lini telepon dan WhatsApp untuk mengajak para pendengar dari berbagai penjuru tanah air ikut urug rembuk dan membagikan ide-ide kreatif mereka tentang wajah kota masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....