Seni Ebeg Gagrak Purbalingga, Ramaikan Studio Gamelan RRI

  • 23 Mei 2026 10:10 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID.Jakarta - Suasana hangat penuh nuansa Banyumasan begitu terasa di Studio Gamelan lantai 2 RRI Jakarta, Jumat (22/5/2026), saat dalang sekaligus penggiat Seni Ebeg Gagrak Purbalingga, Trisno Klawing, hadir sebagai narasumber dalam acara Apresiasi Budaya Banyumasan Pro 4 RRI Jakarta. Dipandu host Noel dan Jori Guplak, perbincangan berlangsung meriah membahas kekayaan seni tradisi Banyumas yang hingga kini masih bertahan di tengah arus modernisasi. Dalam kesempatan itu, Trisno Klawing menegaskan bahwa Ebeg bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi juga identitas budaya masyarakat Banyumasan yang sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan sosial masyarakat desa.

Sebagai dalang Ebeg gagrak khas Purbalingga sekaligus pimpinan Sanggar Segam Budaya, Trisno Klawing menjelaskan bahwa Ebeg memiliki ciri khas berbeda dibanding kesenian kuda lumping dari daerah lain. Menurutnya, kekuatan utama Ebeg Banyumasan terletak pada iringan calung, gamelan Banyumas, serta logat ngapak yang khas dan menghibur. Gerakan para penari yang enerjik berpadu dengan tabuhan kendang dan gong menciptakan suasana atraktif sekaligus magis yang membuat penonton terbawa suasana pertunjukan. Ia mengatakan, Ebeg sejak dahulu tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan, mulai dari hajatan, sedekah bumi, hingga festival budaya rakyat.

Dalam dialog yang berlangsung santai namun penuh makna tersebut, Trisno Klawing juga menyinggung unsur spiritual yang masih melekat dalam pertunjukan Ebeg. Fenomena trance atau “mendem” disebutnya sebagai bagian dari tradisi lama yang harus dipahami secara bijak sebagai bentuk penghayatan pemain terhadap seni pertunjukan. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak hanya melihat Ebeg dari sisi mistis semata, melainkan memahami filosofi dan nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, Ebeg mengajarkan keberanian, solidaritas, disiplin, dan penghormatan terhadap leluhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Banyumas dan Purbalingga.

Host Noel dan Jori Guplak pun beberapa kali mengajak pendengar untuk semakin bangga terhadap budaya daerah sendiri. Mereka menilai Seni Ebeg menjadi salah satu simbol kuat budaya Banyumasan yang masih bertahan hingga kini. Trisno Klawing mengaku bersyukur karena antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan Ebeg masih sangat tinggi, bahkan banyak anak muda mulai tertarik belajar menjadi penari maupun pengrawit Ebeg. Berbagai festival dan pentas rakyat yang rutin digelar di wilayah Banyumas Raya disebut menjadi bukti bahwa seni tradisi ini masih dicintai masyarakat lintas generasi.

Menutup perbincangan di Pro 4 RRI Jakarta, Trisno Klawing berharap Seni Ebeg Gagrak Purbalingga terus dijaga keberlangsungannya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Ia menilai siaran apresiasi budaya di media publik seperti RRI sangat penting untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda. Baginya, Ebeg bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang mengajarkan semangat gotong royong, kecintaan terhadap budaya lokal, serta kebanggaan terhadap jati diri bangsa Indonesia. Dengan pelestarian yang terus dilakukan, ia optimistis Seni Ebeg Banyumasan akan tetap hidup dan berkembang di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....