Apdaun Pro4, Peran Strategis Pendidikan Ekskul Seni Tradisi di Sekolah
- 29 Apr 2026 02:15 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID,Jakarta - Melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) seni tradisi di lingkungan sekolah, upaya membangun peradaban Nusantara dinilai bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang dapat dimulai dari generasi muda. Hal ini disampaikan oleh Tatang Lesmana, seorang etnomusikolog sekaligus pengajar Seni Budaya di SMPN 1 Tajur Halang, Bogor, Jawa Barat, saat menjadi narasumber melalui sambungan telepon dalam acara Apresiasi Budaya Sunda (Apdaun) di Pro 4 RRI Jakarta, Selasa 28 April 2026.
Bersama host dari Grup Apdaun, perbincangan berlangsung hangat dengan menyoroti peran strategis pendidikan seni tradisi dalam membentuk karakter bangsa.
Dalam pandangannya, Tatang Lesmana menegaskan bahwa ekskul seni tradisi bukan hanya ruang untuk belajar keterampilan teknis seperti memainkan alat musik atau menari, tetapi juga menjadi wahana internalisasi nilai-nilai budaya.
“Di dalam seni tradisi terdapat filosofi hidup, etika, hingga rasa kebersamaan yang kuat. Ini yang menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban Nusantara yang berakar pada kearifan lokal,” ungkapnya.
| Baca juga: 3 Makna Sajian Gendhing Upacara Adat Panggih |
Ia menilai, ketika siswa dikenalkan sejak dini pada budaya sendiri, maka akan tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk melestarikannya.
Lebih lanjut, Tatang menjelaskan bahwa pendekatan etnomusikologi yang ia terapkan dalam kegiatan ekskul mampu membuka wawasan siswa tentang keberagaman budaya di Indonesia. Siswa tidak hanya belajar karawitan Sunda, tetapi juga diajak memahami konteks sosial, sejarah, hingga makna di balik setiap karya seni. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih mendalam dan tidak sekadar bersifat praktik, melainkan juga reflektif. Hal ini diyakini mampu membentuk generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya di tengah arus globalisasi.
Dalam dialog tersebut, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti minimnya minat sebagian siswa terhadap seni tradisi yang dianggap kurang modern. Namun, menurutnya, hal ini dapat diatasi dengan inovasi dalam penyajian, seperti kolaborasi antara seni tradisi dan unsur kekinian tanpa menghilangkan esensi aslinya. “Kita tidak boleh kaku. Seni tradisi harus mampu beradaptasi agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” tambahnya.
Menutup perbincangan, Tatang Lesmana berharap agar ekskul seni tradisi mendapatkan dukungan lebih luas, baik dari pihak sekolah, orang tua, maupun pemerintah. Ia meyakini bahwa dari ruang-ruang kecil seperti ekskul di sekolah, benih-benih peradaban Nusantara dapat ditanam dan tumbuh kuat di masa depan. Melalui siaran Pro 4 RRI Jakarta ini, pesan tersebut diharapkan dapat menginspirasi banyak pihak untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa sebagai identitas yang tak ternilai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....