Gending Rare di Era Digital, Masih Relevan Nggak Sih? Ini Jawabannya
- 28 Apr 2026 15:36 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Gending rare tetap relevan di era digital jika dikemas secara kreatif tanpa kehilangan nilai budaya.
RRI.CO.ID, Jakarta: Di tengah derasnya arus digitalisasi, pertanyaan tentang relevansi budaya tradisional semakin sering muncul. Salah satunya adalah gending rare, lagu tradisional Bali yang selama ini dikenal sarat nilai pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Topik ini menjadi pembahasan menarik dalam program Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Jakarta, Selasa 28 April 2026, yang menghadirkan narasumber I Gusti Ngurah Agung Kresnanada, seorang sociopreneur sekaligus penggiat seni dan lingkungan dari Komunitas Pusaka Indonesia.
Dalam perbincangan bersama Presenter Ferli Djan tersebut, Kresnanada menegaskan bahwa gending rare tidak sekadar lagu anak-anak biasa. “Gending rare itu bukan sekadar lagu anak-anak, tetapi media pendidikan yang sarat nilai kasih sayang, etika, dan pembentukan karakter sejak dini,” ujarnya.
Namun di era digital, tantangannya bukan hanya mempertahankan, melainkan bagaimana membuatnya tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. Menurutnya, kunci utama ada pada kemampuan beradaptasi.
“Di era digital, gending rare tetap relevan selama kita mau mengemasnya dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang, seperti melalui platform digital dan konten kreatif,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa transformasi digital bukanlah ancaman bagi budaya. Justru, hal tersebut dapat menjadi peluang untuk memperluas jangkauan nilai-nilai tradisi.
“Digitalisasi bukan ancaman bagi budaya, justru bisa menjadi jembatan agar nilai-nilai tradisi tetap hidup dan dikenal lebih luas,” jelasnya .
Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah bagaimana menghadirkan budaya dalam bentuk yang menarik bagi generasi muda. “Tantangan terbesar bukan pada minat generasi muda, tetapi pada bagaimana kita menghadirkan budaya dalam bentuk yang menarik dan mudah diakses,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam upaya pelestarian budaya. “Pelestarian budaya tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kolaborasi antara seniman, komunitas, dan pelaku kreatif agar gending rare tetap hidup, bukan hanya sebagai arsip,” ujarnya.
Bagi masyarakat urban seperti di Jakarta, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Di tengah kehidupan modern, mengenalkan kembali budaya melalui cara yang lebih dekat dengan keseharian dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk tetap terhubung dengan akar budayanya.
Menutup perbincangan, Kresnanada mengingatkan bahwa masa depan budaya sangat bergantung pada cara kita memperlakukannya hari ini. “Kalau budaya tidak mengikuti perkembangan zaman, dia akan ditinggalkan. Tapi kalau kita bisa mengemasnya dengan baik, justru akan semakin dicintai,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....