Halal Bihalal Majelis Nyala Purnama di Kampus UI

  • 08 Apr 2026 20:06 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bersama Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menggelar Majelis Nyala Purnama edisi Halal Bihalal di selasar Gedung Makara Art Center UI, Depok, Selasa 7 April 2026.

Kegiatan rutin ini menjadi ruang teduh untuk merayakan keberagaman sekaligus memperkuat nilai-nilai kebudayaan Indonesia melalui pertunjukan seni, pembacaan puisi, hingga meditasi bersama. Pada kesempatan ini, tema yang diusung adalah “Jadilah Pemenang, Bukan Penakluk”.

Acara tersebut menghadirkan beragam tokoh dan seniman, di antaranya Ngatawi Al-Zastrouw, Ali M. Abdillah, Hendrajit, Fitra Manan, serta sejumlah penampil seni lainnya. Turut hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Untung Yuwono dan Wakil Dekan II FIB UI Lily Tjahjandari yang memberikan tanggapan dalam diskusi kebudayaan.

Acara Majelis Nyala Purnama edisi Halal Bihalal dihadiri oleh Ngatawi Al-Zastrouw, Ali M. Abdillah, Hendrajit, Fitra Manan, serta sejumlah penampil seni lainnya. Turut hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Untung Yuwono dan Wakil Dekan II FIB UI Lily Tjahjandari. (Foto : Humas Direktorat Kebudayaan UI dan Komoenitas Makara)

Direktur Kebudayaan UI, Ngatawi Al-Zastrouw, menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum kemenangan sejati atas diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa kefitrian dapat ternoda oleh ambisi untuk menaklukkan orang lain. “Idul Fitri adalah momentum kemenangan terhadap nafsu dan diri sendiri sehingga manusia dapat kembali fitri. Mari menjaga kemenangan dengan menghindarkan diri dari ambisi menaklukkan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa esensi kemenangan bukanlah tentang menguasai dunia luar, melainkan mengendalikan diri sendiri. Ia menekankan bahwa seorang pemenang sejati adalah mereka yang mampu menundukkan ego dan hawa nafsunya, bukan sekadar menundukkan orang lain demi ambisi pribadi.

Dalam sesi diskusi yang dipandu Ngatawi, Hendrajit menyoroti pentingnya memahami konsep “pemenang tanpa menaklukkan” dari perspektif geopolitik, yakni dengan mengenal diri, tahu diri, dan menjaga harga diri. Sementara itu, Ali M. Abdillah menjelaskan makna tersebut dalam perspektif sufistik. Acara kemudian ditutup dengan sesi meditasi yang dipandu Turita Indah Setyani, mengangkat filosofi Jawa “ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake”. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Direktorat Kebudayaan UI bersama para mitra untuk terus menghidupkan ruang-ruang kebudayaan yang reflektif dan inklusif di masa mendatang.

Baca Juga : Mendorong Akses Layanan Hiperbarik Terjangkau di Indonesia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....