Menemukan Makna Kemenangan Sejati di antara Jiwa, Geopolitik, dan Budaya

  • 11 Apr 2026 00:51 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Malam Syawal menyelimuti Pusat Budaya Makara, Universitas Indonesia, pada Selasa, 7 April 2026, dengan suasana hangat dan penuh makna. Tidak sekadar menjadi ajang halal bihalal, pertemuan ini menjelma sebagai ruang dialektika yang mempertemukan akademisi, budayawan, dan pencari makna kehidupan. Dalam lingkar diskusi yang akrab, para peserta membedah kembali satu pertanyaan mendasar: apa arti menjadi seorang pemenang sejati di tengah dunia yang semakin kompleks.

Renungan mendalam disampaikan oleh Ali M. Abdillah yang mengajak hadirin menelusuri hakikat manusia sebagai khalifah di bumi. Ia menekankan bahwa kemenangan sejati bukanlah tentang mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan menundukkan ego dan hawa nafsu dalam diri. Dalam konteks era pasca-kebenaran, ketika kebenaran sering kabur oleh kepentingan, kejernihan hati menjadi kompas utama kehidupan. “Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan tidak mudah terprovokasi oleh amarah maupun ilusi dunia,” tuturnya.

Ali M. Abdillah yang mengajak hadirin menelusuri hakikat manusia sebagai khalifah di bumi. Ia menekankan bahwa kemenangan sejati bukanlah tentang mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan menundukkan ego dan hawa nafsu dalam diri. (Foto Pusat Budaya Makara Universitas Indonesia)

Diskusi kemudian bergeser ke ranah geopolitik melalui pemaparan Hendrajit dari Global Future Institute. Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan bangsa bisa kalah bukan karena lemahnya kekuatan, tetapi karena kehilangan kesadaran akan jati dirinya. Ia mencontohkan bagaimana penaklukan Sunda Kelapa oleh VOC pada 1619 merupakan bukti kegagalan membaca nilai strategis wilayah sendiri. “Geopolitik sejatinya adalah seni mengenali diri dan posisi, bukan sekadar soal pertahanan,” ujarnya, seraya menyinggung keberhasilan Deng Xiaoping dalam membangun Tiongkok dengan tetap berakar pada identitas budaya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Untung Yuwono yang menyoroti pentingnya rasa percaya diri bangsa dalam percaturan global. Ia mencontohkan bagaimana negara seperti Tiongkok dan Iran mampu berdiri tegak dengan identitasnya. Sementara itu, budayawan Ngatawi al-Zastrouw menyampaikan analogi satir tentang seekor katak yang gagal menjadi kijang karena kehilangan jati diri. Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa modernitas tidak harus mengorbankan akar budaya. “Kita tidak perlu meminjam kaki bangsa lain untuk melompat tinggi,” ungkapnya.

Budayawan Ngatawi al-Zastrouw menyampaikan analogi satir tentang seekor katak yang gagal menjadi kijang karena kehilangan jati diri. Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa modernitas tidak harus mengorbankan akar budaya. Disampaikannya bahwa, “Kita tidak perlu meminjam kaki bangsa lain untuk melompat tinggi,” Tutur Ngatawi.

Menutup rangkaian acara, tarian klasik Sunda Ratu Graeni karya Raden Tjetje Somantri ditampilkan dengan anggun oleh Indonesiana Ayuningtyas, menghadirkan simbol keberanian dan kedaulatan. Suasana kemudian ditenangkan melalui sesi meditasi yang dipandu Turita Indah Setyani, mengajak peserta kembali pada kesunyian batin. Malam itu meninggalkan satu kesadaran mendalam: kemenangan sejati bukanlah tentang mengungguli orang lain, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan antara pikiran, budaya, dan jiwa. “Menang tanpa merendahkan adalah puncak dari kematangan manusia,” menjadi pesan yang menggema hingga akhir perjumpaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....