Buha Buha Ijuk Tradisi Paskah di Tanah Batak

  • 07 Apr 2026 01:16 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.Id,Jakarta: Tradisi Buha Buha Ijuk kembali menjadi sorotan dalam perayaan Paskah masyarakat Batak, sebuah ritual sarat makna yang merefleksikan kemenangan kehidupan atas kematian. Hal tersebut disampaikan oleh Pendeta Gomar Gultom, M.Th. Anggota Dewan Pembina Nasional BATAK CENTER, saat menjadi narasumber melalui sambungan telepon dalam program Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta, Senin 6 April 2026, yang dipandu host Dermawan Ismail.

Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol spiritual yang hidup dan terus diwariskan lintas generasi.

Menurut Pendeta Gomar Gultom, Buha Buha Ijuk memiliki akar kuat dalam kehidupan agraris masyarakat Batak. Ijuk yang dibakar hingga mengembang (buha) melambangkan kebangkitan dan pembaruan hidup, selaras dengan makna Paskah dalam iman Kristiani.

Ia menjelaskan bahwa simbol ini menjadi pengingat bahwa dari sesuatu yang tampak mati atau tidak bernilai, justru dapat lahir kehidupan baru yang penuh harapan.

“Inilah esensi Paskah yang diterjemahkan secara kontekstual dalam budaya Batak,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberadaan tradisi Buha Buha Ijuk menunjukkan kemampuan budaya lokal dalam mengadopsi dan menginternalisasi ajaran iman tanpa kehilangan identitasnya. Bagi masyarakat Batak, tradisi ini menjadi jembatan antara nilai-nilai kekristenan dengan kearifan lokal yang telah mengakar sejak lama.

Dengan demikian, Paskah tidak hanya dirayakan dalam liturgi gereja, tetapi juga dihidupi dalam ekspresi budaya yang nyata dan menyentuh kehidupan sehari-hari.

Dalam dialog tersebut, Pendeta Gomar juga mengajak generasi muda Batak untuk tidak melupakan warisan budaya seperti Buha Buha Ijuk. Ia menilai bahwa modernisasi tidak seharusnya menggerus nilai-nilai tradisional, melainkan justru menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali tradisi tersebut dalam kemasan yang relevan.

“Budaya adalah identitas. Jika kita meninggalkannya, kita kehilangan jati diri,” tegasnya.

Acara yang berlangsung hangat dan penuh makna itu menjadi bukti bahwa sinergi antara media, tokoh agama, dan pelaku budaya mampu menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Nusantara.

Melalui siaran Pro 4 RRI Jakarta, tradisi Buha Buha Ijuk tidak hanya dikenal oleh masyarakat Batak, tetapi juga oleh khalayak luas sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dibanggakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....