Jejak Literasi Ketahanan Pangan di Festival Payung Indonesia 2026

  • 10 Jul 2026 17:49 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Perhelatan akbar Festival Payung Indonesia (FESPIN) ke-13 siap kembali menyapa masyarakat pada tanggal 4 hingga 6 September 2026 mendatang. Festival prestisius berskala nasional ini rencananya akan dipusatkan di kawasan bersejarah Taman Balekambang, Surakarta. Dikutip dari media promosi online, agenda tahunan ini tidak hanya menyajikan pameran visual yang memanjakan mata semata. Lebih dari sekadar hiburan, FESPIN konsisten membawa misi edukasi mendalam guna mencerdaskan kehidupan anak bangsa melalui jalur kebudayaan. Kehadiran acara ini sekaligus mempertegas posisi Kota Solo sebagai salah satu pusat peradaban seni Nusantara.

Ada tradisi luhur yang membedakan FESPIN dari festival seni kebanyakan di tanah air. Setiap tahunnya, perhelatan megah ini selalu diiringi dengan penerbitan sebuah buku tematik yang merangkum filosofi festival. Kehadiran karya literasi tersebut dirancang khusus untuk melengkapi sajian pertunjukan seni, sarasehan, dan pasar kreatif. Kolaborasi apik antara estetika visual dan kedalaman literasi ini membuat FESPIN memiliki nilai akademis yang tinggi. Pengunjung diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan payung tradisi, melainkan juga meresapi pemikiran di baliknya.

Tahun ini, pihak panitia sepakat memilih tanaman padi sebagai ikon agraris utama dalam festival. Padi dianggap mampu merepresentasikan budaya pertanian yang sangat lekat dengan identitas kehidupan masyarakat pedesaan. Komoditas pangan utama ini juga mencerminkan ketergantungan manusia yang tinggi terhadap kelestarian tanah dan hasil bumi. Melalui simbol tersebut, FESPIN berupaya memperkuat narasi historis sekaligus mitologis yang telah berabad-abad melekat pada masyarakat. Pesan moral tentang pentingnya menjaga kedaulatan pangan nasional menjadi roh utama dalam pergerakan festival kali ini.

Sebagai wujud nyata dari gagasan tersebut, sebuah proyek buku berjudul "Catra Padi" resmi diluncurkan ke publik. Buku tematik ini didedikasikan untuk merefleksikan seluruh simbol kearifan lokal yang berkaitan erat dengan dunia pertanian. Melalui goresan pena para penulis, pembaca akan diajak menyelami filosofi mendalam tentang rantai kehidupan agraris. Karya tulis ini diharapkan mampu menjadi jembatan ingatan bagi generasi muda terhadap akar budaya leluhurnya. Langkah inovatif ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan pencinta literasi dan pemerhati budaya.

Proses kreasi buku ini dipastikan berjalan sangat selektif demi menjaga kualitas konten yang disajikan. Dikutip dari media promosi online, lini masa pengerjaan buku telah dimulai sejak awal bulan Juli 2026. Tahapan krusial seperti pengumpulan naskah, kurasi, hingga proses penyuntingan akan dikawal ketat oleh tim ahli. Semua persiapan matang ini dilakukan agar buku siap diluncurkan tepat waktu pada puncak acara September nanti. Dedikasi tinggi dari seluruh tim kreatif menjadi jaminan lahirnya sebuah mahakarya literasi yang berkualitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....