Tradisi Halal Bihalal Tetap Hidup, Perkuat Silaturahmi usai Lebaran

  • 31 Mar 2026 09:35 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Halal bihalal menjadi tradisi khas Indonesia untuk mempererat silaturahmi.
  • Masyarakat memaknai halal bihalal sebagai ruang saling memaafkan.
  • Tradisi ini memiliki akar historis dan nilai budaya yang kuat.

RRI.CO.ID, Jakarta – Tradisi halal bihalal masih menjadi ruang penting bagi masyarakat Indonesia untuk mempererat hubungan sosial usai Idulfitri, bahkan ketika aktivitas harian telah kembali berjalan normal.

Suasana Syawal masih terasa hangat di berbagai wilayah, ditandai dengan maraknya kegiatan halal bihalal di lingkungan keluarga hingga komunitas. Tradisi ini menjadi momentum untuk kembali menjalin hubungan setelah jeda aktivitas selama Ramadan dan libur Lebaran.

Melalui program siaran Kabar Jakarta di radio 92,8 FM Pro4 RRI Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026, sejumlah pendengar berbagi pengalaman mereka menjalankan halal bihalal. Ray dari Ciledug berkata menggabungkan acara tersebut dengan arisan keluarga sebagai cara memperkuat kebersamaan. “Ini jadi momen kumpul lagi setelah Lebaran,” ujarnya.

Cerita serupa datang dari Wahyu di Bintaro yang menggelar halal bihalal bersama rekan kerja setelah kembali masuk kantor. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk menjaga hubungan baik antarpegawai. “Halal bihalal wajib dilakukan untuk saling bermaafan dan menjaga silaturahmi,” ucapnya.

Di sisi lain, nilai toleransi juga tampak dalam praktik halal bihalal yang dilakukan Ali Topan di Menteng. Ia menyebut seluruh anggota keluarga, termasuk yang berbeda agama, ikut serta dalam kegiatan tersebut. “Ini bukti kebersamaan dan toleransi bisa berjalan berdampingan,” ucapnya.

Tradisi halal bihalal juga meluas ke lingkup pertemanan dan komunitas. Haris dari Jakarta Barat mengadakan pertemuan alumni yang diisi dengan makan bersama dan berbagi rezeki. “Ada teman yang kehidupannya lebih mapan ikut berbagi THR,” ujarnya.

Fenomena ini sejalan dengan pandangan akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Suwinarno, yang menyebut halal bihalal sebagai sarana memperbaiki hubungan sosial. “Halal bihalal bukan sekadar budaya, tetapi juga sarana spiritual untuk membersihkan hubungan antarmanusia,” ucapnya seperti kami kutip dari laman ums.ac.id yang kami akses pada Selasa, 31 Maret 2026.

Secara historis, praktik halal bihalal telah dikenal sejak awal abad ke-20, bahkan tercatat dalam arsip Majalah Suara Muhammadiyah tahun 1924. Tradisi ini berkembang sebagai medium silaturahmi yang mampu melebur perbedaan, sekaligus menjadi bagian dari modernisasi praktik sosial keagamaan di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....