Guru Besar ITB: Belum Ada Bukti Klinis BPA dari Galon Polikarbonat Sebabkan Kanker
- 09 Jul 2026 20:44 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Johnner Sitompul menyatakan hingga saat ini belum terdapat bukti klinis yang secara langsung menunjukkan bahwa paparan Bisphenol A (BPA) dari galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) menyebabkan gangguan hormon, gangguan reproduksi, maupun kanker pada manusia.
Menurut Johnner, masyarakat perlu membedakan antara BPA sebagai senyawa kimia dengan polikarbonat sebagai produk akhir hasil proses polimerisasi. Ia menjelaskan bahwa BPA yang telah menjadi bagian dari struktur polikarbonat memiliki karakteristik berbeda dibandingkan BPA dalam bentuk senyawa tersendiri.
“Riset itu belum terlihat. Yang banyak dibahas adalah risiko BPA terhadap bayi, kelenjar hormon, atau obesitas sebagai senyawa BPA, bukan polikarbonatnya,” ujar Johnner, di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
Ia menjelaskan, polikarbonat terbentuk melalui proses reaksi kimia yang menghasilkan ikatan polimer yang kuat sehingga tidak mudah terurai kembali menjadi BPA ketika digunakan sebagai kemasan air minum dalam kondisi penggunaan normal.
Menurutnya, hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa polikarbonat pada galon air minum dapat kembali terurai menjadi BPA saat bersentuhan dengan air. Karena itu, ia menilai pembahasan mengenai keamanan galon polikarbonat perlu didasarkan pada perbedaan antara bahan penyusun (monomer) dan material akhir yang telah mengalami proses polimerisasi.
“Kalau sudah bereaksi, dia membentuk senyawa baru yang kuat. Polimer itu memiliki ikatan yang stabil,” katanya.
Johnner menambahkan, penelitian mengenai BPA selama ini lebih banyak berfokus pada senyawa BPA secara terpisah, bukan pada galon polikarbonat sebagai kemasan pangan. Oleh sebab itu, ia menilai masih diperlukan penelitian yang secara khusus menguji kemungkinan migrasi BPA dari galon polikarbonat ke dalam air dalam kondisi penggunaan nyata sehingga dapat menjadi rujukan ilmiah yang objektif.
Sementara itu, hasil penelitian Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga menyimpulkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi air dari galon guna ulang berbahan polikarbonat dengan risiko gangguan hormon, gangguan reproduksi, maupun kanker.
Penelitian tersebut menganalisis pola konsumsi air minum dalam kemasan, kandungan BPA pada 10 merek air minum yang banyak dikonsumsi masyarakat, serta kaitannya dengan berbagai keluhan kesehatan responden.
Dalam kesimpulannya, tim peneliti menyatakan tidak menemukan hubungan yang signifikan antara paparan BPA dari konsumsi air minum dalam kemasan dengan risiko kanker, gangguan reproduksi, maupun gangguan hormon.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kadar BPA yang terdeteksi pada seluruh sampel air minum masih berada jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) maupun nilai Tolerable Daily Intake (TDI) yang ditetapkan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).
Konsentrasi BPA tertinggi yang ditemukan sebesar 0,099 mikrogram per liter, sedangkan yang terendah 0,080 mikrogram per liter. Nilai tersebut masih berada di bawah batas aman migrasi yang ditetapkan BPOM.
BPOM sebelumnya juga menyatakan bahwa kemasan pangan yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan memperoleh izin edar dinyatakan aman digunakan sesuai ketentuan yang berlaku. Lembaga tersebut juga menyampaikan bahwa penggunaan galon polikarbonat secara berulang tidak meningkatkan migrasi BPA ke dalam air minum berdasarkan parameter keamanan yang berlaku.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....