UMKM Jakarta Bersiap Tembus Pasar China

  • 26 Agt 2026 11:46 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pemprov DKI Jakarta membawa 23 pelaku UKM mengikuti CISMEF 2026 di Guangzhou, Chin
  • UMKM Jakarta didorong memperkuat kualitas, legalitas, kemasan, kapasitas produksi, dan jaringan bisnis untuk menembus pasar global.
  • Pelaku usaha melihat China sebagai pasar potensial untuk produk lokal seperti kopi, madu, herbal, rempah, dan produk pangan alami.

RRI.CO.ID, Jakarta: Produk lokal Jakarta mulai mengambil langkah lebih jauh. Bukan hanya bertahan di pasar dalam negeri, sejumlah pelaku UMKM kini bersiap membawa produk mereka ke pasar internasional, termasuk China.

Langkah tersebut menjadi pembahasan dalam program Beranda Asta CitaUMKM” RRI Pro 1 Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026, melalui tema “Choose Jakarta Goes To China”.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, UKM Provinsi DKI Jakarta, Nancy Tangguh Marlina Sianipar, menjelaskan, Jakarta akan membawa 23 pelaku UKM untuk mengikuti China International Small and Medium Enterprises Fair atau CISMEF 2026 di Guangzhou, China, pada 3-6 September 2026.

Menurut Nancy, CISMEF merupakan salah satu pameran internasional besar di kawasan Asia Pasifik yang berfokus pada pengembangan UMKM. Ajang tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian APEC SME Ministerial Meeting 2026.

“Kami ingin produk lokal Jakarta tidak hanya jadi jago kandang, tapi benar-benar naik kelas dan menembus pasar ekspor global di Tiongkok,” ujar Nancy.

Beragam produk akan dibawa dalam kontingen Jakarta, mulai dari madu, kopi, cokelat, gaharu, rempah, makanan beku, hasil laut kering, fesyen hingga perhiasan.

Salah satu pelaku usaha yang ikut dalam program tersebut adalah Ika Puspa Sari dari PT Al Mubarokah Herbal Jakarta. Usahanya memproduksi berbagai produk pangan alami Indonesia, seperti madu, gula semut organik, dan minuman herbal berbahan rempah.

Ika mengatakan, China menjadi pasar yang menarik karena memiliki jumlah konsumen yang besar. Ia tidak hanya menargetkan transaksi selama pameran, tetapi juga ingin mendapatkan buyer, membangun jaringan bisnis, melakukan validasi pasar, dan membuka peluang kerja sama distribusi.

“Target strategis kami tidak hanya sebatas menjual produk selama pameran,” kata Ika. Ia menargetkan keikutsertaan tersebut menjadi fondasi untuk membangun ekspor berkelanjutan, bukan sekadar transaksi satu kali.

Ika mengaku tantangan yang dihadapi bukan hanya persaingan produk, tetapi juga perbedaan bahasa dan budaya bisnis, penyesuaian kemasan, standar produk, hingga kesiapan kapasitas produksi jika permintaan meningkat.

Menurutnya, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar.

“Kami ingin pulang dari Guangzhou bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga membawa data pasar, jaringan baru, calon buyer, dan peluang kerja sama nyata yang dapat dikembangkan menjadi transaksi bisnis berkelanjutan,” ujar Ika.

Pengalaman serupa disampaikan Verra Victoria dari PT Bima Tikhe Berkat melalui brand Pulau Coffee. Perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis dan perdagangan komoditas tersebut telah menjalankan perdagangan ekspor kopi sejak 2022 dan memiliki pasar di Timur Tengah serta China.

Verra menyebut pengiriman kopi ke Shanghai telah dilakukan secara rutin sejak 2023. Karena itu, keikutsertaannya dalam Choose Jakarta diarahkan untuk memperluas jaringan bisnis dan membangun kerja sama jangka panjang dengan importir, distributor, roaster, hingga jaringan kedai kopi di China.

“Masuk ke China bukan hanya masalah menawarkan harga. Yang jauh lebih penting adalah membangun kepercayaan dan hubungan bisnis jangka panjang,” kata Verra.

Verra menilai konsumen dan buyer China semakin tertarik pada specialty coffee serta cerita di balik produk, termasuk asal daerah, petani, proses produksi, dan keterlacakan produk. Kondisi ini dinilai menjadi peluang bagi kopi Indonesia yang memiliki beragam karakter dari berbagai daerah.

Sementara itu, Siti Aisyah dari PT Agrapana Indo Sejahtera membawa produk essential oil berbahan herbal dan tanaman asli Indonesia. Perusahaannya yang berbasis di Jakarta ini mengambil bahan baku langsung dari petani binaan dan telah melakukan pengiriman dalam skala kecil ke Malaysia dan Mesir.

Bagi Siti, China merupakan salah satu pasar besar untuk produk essential oil karena banyaknya industri kosmetik dan parfum di negara tersebut.

“Keikutsertaan kami di sini akan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk kami ke pasar China,” ujar Siti.

Siti juga melihat keikutsertaan dalam pameran sebagai kesempatan untuk mempelajari perkembangan teknologi dan tren wellness serta health di China.

Bagi para narasumber, menembus pasar global membutuhkan lebih dari sekadar produk yang bagus. Legalitas, kualitas, standar produk, kemasan, kapasitas produksi, sertifikasi, komunikasi bisnis, hingga kemampuan menjaga pasokan menjadi bagian penting yang harus dipersiapkan UMKM.

Nancy mengingatkan pelaku UMKM Jakarta agar tidak ragu memanfaatkan berbagai program pendampingan dan membuka jaringan internasional.

“Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Mulailah mempersiapkan diri, terus belajar, dan berani membuka pintu ke pasar global. Karena produk Indonesia memiliki potensi untuk menjadi produk dunia,” ujar Nancy.

Pesan senada datang dari Verra. Menurutnya, UMKM tidak harus menunggu menjadi perusahaan besar untuk mulai mengekspor. Yang terpenting adalah memahami produk, memenuhi standar negara tujuan, menjaga kualitas, dan berani berkomunikasi dengan calon buyer.

Siti pun mengajak pelaku UMKM memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Kalau negara lain bisa, kita juga mampu tembus pasar global. Semangat!” kata Siti.

Program Choose Jakarta Goes To China pada akhirnya bukan sekadar membawa produk Jakarta ke sebuah pameran. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi ruang bagi UMKM untuk belajar membaca pasar, membangun jejaring, menguji daya saing, dan membawa cerita produk Indonesia ke pasar dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....