Diatra Anandani Bagikan Cara Membangun Harmoni tanpa Mengorbankan Prinsip Diri
- 12 Mei 2026 12:45 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Hidup di tengah masyarakat yang majemuk menuntut setiap individu untuk mampu menghargai perbedaan, baik dalam pendapat, budaya, maupun keyakinan. Namun, menghormati perbedaan bukan berarti harus mengorbankan prinsip diri.
Hal tersebut disampaikan Coach and Trainer, Diatra Anandani, dalam program Beranda Asta Cita Moderasi Beragama Pro 1 Radio Republik Indonesia Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026, dengan tema Menjadi Tenang dalam Perbedaan.
Menurut Diatra, langkah pertama untuk membangun harmoni di tengah perbedaan adalah menerima bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari.
“Perbedaan itu sudah menjadi konsep kehidupan. Jadi yang pertama harus dilakukan adalah menerima dulu bahwa perbedaan itu pasti ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konflik kerap muncul bukan karena adanya perbedaan, melainkan karena individu terlalu kuat mempertahankan ego dan prinsip pribadinya, sehingga sulit menerima sudut pandang orang lain.
“Kalau mau selaras tanpa mengurangi prinsip diri, yang pertama harus dilakukan adalah melepaskan ego,” kata Diatra.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membiasakan diri untuk berjeda sebelum merespons sesuatu. Menurutnya, respons yang terlalu cepat sering kali dipengaruhi emosi dan pengalaman masa lalu, sehingga berpotensi memicu konflik.
“Berhenti sejenak, tarik napas, lalu amati situasi sebelum bertindak. Dengan begitu kita masuk ke otak logis, bukan sekadar reaksi emosional,” ujarnya.
Diatra juga mengingatkan bahwa menghormati orang lain tidak selalu berarti menyetujui pendapat mereka. Sikap saling menghormati, menurutnya, adalah bentuk kedewasaan dalam berkomunikasi.
“Menghormati itu berbeda dengan menyetujui. Kita tetap bisa menghargai pandangan orang lain tanpa harus sepakat,” ucapnya.
Untuk menciptakan komunikasi yang harmonis, Kadiatra memperkenalkan konsep “HARMONIS”, yakni hening sejenak, amati fakta, rasakan dengan empati, mendengar aktif, olah kata dengan santun, nyatakan pendapat secara asertif, dan selaraskan hati serta pikiran.
“Bangun jembatan, bukan tembok. Pahami orang lain terlebih dahulu sebelum ingin dipahami,” katanya.
Ia menilai, tantangan terbesar dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila di tengah keberagaman saat ini adalah kemampuan masyarakat dalam mengelola emosi dan ego, terutama di era digital yang serba cepat.
“Keberagaman itu fakta, sementara persatuan adalah pilihan. Ketika pikiran tenang, hati lapang, dan perbedaan diterima dengan bijaksana, kita sedang membangun Indonesia yang harmonis dan maju,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....