Ini 6 Tokoh Penting Dibalik Hari Kebangkitan Nasional
- 20 Mei 2024 11:00 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sebagai titik awal bangkitnya rasa persatuan dan kesatuan demi mencapai kemerdekaan dari penjajahan. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional diperingati 20 Mei tiap tahunnya. Penetapan 20 Mei lantaran juga merupakan hari di mana Boedi Oetomo didirikan, tepatnya pada 20 Mei 1908.
Hari Kebangkitan Nasional mengenang semangat perjuangan bangsa Indonesia tempo dulu untuk mengisi kemerdekaan melalui berbagai pembangunan. Kebangkitan Nasional menandakan semangat persatuan, kesatuan, dan kesadaran sebagai sebuah bangsa untuk menggabungkan diri melalui gerakan organisasi yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.
Menilik dari sejarahnya, ada beberapa tokoh yang berperan penting pada peristiwa Kebangkitan Nasional 20 Mei di Indonesia. Berikut enam tokoh Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei yang perlu diketahui:
1. Wahidin Soedirohoesodo
Beliau bersama teman-teman seperjuangannya mendirikan sebuah surat kabar yang diberi nama Retno Dhoemilah. Surat kabar ini menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Jawa dan Melayu. Retno Dhoemilah kali pertama diterbitkan pada 1895 di Yogyakarta. Melalui surat kabar ini, Wahidin Soedirohoesodo menyampaikan pemikirannya tentang nasionalisme, pendidikan, kesetaraan, dan etika. Setelah bertemu dengan Soetomo, akhirnya keduanya sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi. Organisasi tersebut adalah Budi Oetomo, yang didirikan pada 20 Mei 1908. Satu di antara usaha penting yang dilakukan oleh mereka adalah memanfaatkan organisasi tersebut untuk memperbaiki sistem pendidikan dan mengembalikan kehormatan bangsa. Sebagai seorang dokter, ia bahkan memberikan layanan kesehatan secara gratis sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
2. Soetomo
Bersama dengan Wahidin Soedirohoesodo, Soetomo menjadi pencetus Budi Oetomo. Bahkan, Soetomo ditunjuk sebagai ketua organisasi itu. Dengan semangat memajukan pendidikan dan kebudayaan Indonesia, Soetomo aktif mengabdikan dirinya sebagai dokter untuk masyarakat. Tak hanya itu, Soetomo juga aktif di bidang jurnalisme dan sempat menjadi pemimpin di beberapa surat kabar. Selain bergerak di bidang politik, kesehatan, dan jurnalistik, Soetomo mendirikan organisasi tempat berkumpulnya orang terpelajar Indonesia bernama Indonesische Studie Club (ISC). ISC pun berhasil mendirikan koperasi, bank kredit, dan juga sekolah tenun.
3. HOS Tjokroaminoto
HOS Tjokroaminoto dikenal masyarakat sebagai orang yang cakap dalam berpidato. Melalui pidato yang diberikan, masyarakat yang mendengarkan akan terbakar semangat patriotisme pemuda Indonesia. Bukan hanya itu, ia juga memiliki peran penting dalam organisasi sosial-ekonomi dan Islam yang terkenal dengan sebutan Sarekat Islam.
4. Soewardi Soerjaningrat
Soewardi Soerjaningrat merupakan tokoh wartawan sekaligus pendidikan. Awalnya ia memulai karier di dunia wartawan di berbagai surat kabar, seperti Sediotomo, Midden Java, De Express Oetoesan Hindia, dan lainnya. Setelah bertemu Douwess Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, mereka bersama membangun Indische Partij. Kerasnya perlawanan terhadap Belanda membuat Soewardi dan ketiga rekannya diasingkan ke Belanda. Setelah diasingkan, ia kembali dan mendirikan sekolah bernama National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Setelah menginjak 40 tahun, akhirnya Soewardi Soerjaningrat mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.
5. E. F. E. Douwes Dekker
Meski berdarah campuran Indonesia dan Belanda, Ernest Francois Eugene (E.F.E Douwes Dekker) tidak suka melihat ketimpangan antara pribumi dan orang Belanda di Indonesia. Inilah yang menjadi pendorong Douwes Dekker mendukung rakyat Indonesia. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, ia mendirikan Indische Partij. Indische Partij merupakan partai politik Hindia-Belanda pertama di Indonesia yang menentang keras praktik kolonialisme. Inilah yang kemudian membuat partai ini dipaksa bubar oleh pemerinah Belanda. Ketiga tokoh pendiri juga ditangkap dan diasingkan.
6. Tjipto Mangoenkoesoemo
Tokoh kebangkitan nasional ini mengawali kariernya sebagai dokter yang bekerja untuk pemerintah Belanda di Demak. Namun, karena sering menyaksikan ketidakadilan, ia kerap mengkritik pemerintah Belanda melalui surat kabar seperti Bataviaasch Nieuwsblad dan De Locomotief. Lantaran keberatan tersebut, pemerintah Belanda akhirnya memberhentikan Tjipto Mangoenkoesoemo dari jabatannya sebagai dokter pemerintah. Di situlah ia kemudian bertemu dengan Douwess Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Perjuangan ketiga tokoh ini berhasil membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Namun, pemerintah Belanda tidak tinggal diam dan menangkap ketiga tokoh tersebut, serta mengasingkannya ke Belanda.
Tokoh Kebangkitan Nasional atau dikenal dengan Tiga Serangkai adalah dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Douwes Dekker dan Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketiga tokoh tersebut yang melahirkan organisasi Boedi Oetomo atau peringatan Harkitnas. Merekalah yang menjdikan cikal bakal terbentuknya Harkitnas yaitu kondisi dimana bangsa Indonesia yang sedang dijajah oleh Belanda, hidup dalam penderitaan dan kebodohan. Kondisi tersebut merupakan pengaruh sistem kolonialisme yang berusaha membodohi dan membodohkan bangsa jajahannya.
Sistem pendidikan yang rendah serta tertutupnya informasi dunia luar menjadi salah satu penyebabnya. Dengan kejadian tersebut, Dr. Soetomo tergerak untuk melakukan perubahan untuk membangun himpunan di kalangan pelajar yaitu usaha untuk mengejar ketertinggalan serta membakar semangat kebangkitan dan perjuangan demi mencapai kemerdekaan Indonesia.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-116, di tahun 2024 kali ini mengusung tema "Bangkit untuk Indonesia Emas". Dimana tema tersebut dilatarbelakangi oleh harapan agar masyarakat Indonesia bisa bangkit untuk membina persatuan bangsa. Di tengah banyaknya perbedaan dalam masyarakat, Indonesia diharapkan mampu untuk terus bangkit dan bersatu. (Sumber: Wikipedia, Bola.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....