BRIN Kembangkan Pertanian Cerdas Berbasis AI dan Fotonika

  • 13 Nov 2025 15:19 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan transformasi sektor pertanian melalui penerapan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi fotonika. Inovasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem pertanian cerdas yang efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Fotonika BRIN, Sensus Wijonarko, menjelaskan bahwa konsep pertanian cerdas mengintegrasikan sensor, Internet of Things (IoT), big data, otomatisasi, hingga blockchain dalam pengelolaan sumber daya. “Pertanian presisi adalah bagian dari pertanian cerdas yang memanfaatkan data dan teknologi untuk mengatur lahan, air, dan nutrisi tanaman secara optimal,” ujarnya dalam kegiatan InaRI Expo 2025 di JIExpo Kemayoran.

Menurut Sensus, teknologi fotonika memainkan peran penting dalam mendukung inovasi pertanian modern. “Kalau elektronika bekerja dengan elektron, maka fotonika bekerja dengan cahaya,” jelasnya. Teknologi berbasis cahaya ini diterapkan mulai dari pengukuran kekerasan biji, pendeteksian racun pada kentang, hingga sistem pengukuran jarak berbasis laser (laser distance measurement).

BRIN juga mengembangkan teknologi fotonika untuk menentukan tingkat kecerahan kapulaga, serta meningkatkan efisiensi dan keamanan pangan. “Pendekatan ini mampu menekan pemborosan sumber daya sekaligus meningkatkan hasil panen,” tambah Sensus.

Peneliti BRIN lainnya, Purwowibowo, menambahkan bahwa mikrokontroler menjadi otak pengendali sistem smart farming. Teknologi ini menghubungkan sensor dengan perangkat pengatur dan memproses data secara real-time untuk mengendalikan irigasi atau pemupukan otomatis sesuai kebutuhan tanaman.

“Dengan sistem ini, penyiraman dan pemupukan bisa diatur otomatis berdasarkan kebutuhan aktual tanaman. Teknologi ini menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja dan ketidakpastian iklim,” ujarnya.

Sistem pertanian cerdas ini telah diuji di beberapa lokasi, termasuk Cikajang (Garut) dan Jeneponto (Sulawesi Selatan). Melalui jaringan LoRa dan GSM, petani dapat memantau kondisi lahan serta mengatur penyiraman langsung dari ponsel. “Hasilnya terbukti meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan air secara signifikan,” kata Purwowibowo.

Ia juga menjelaskan, penggunaan pencahayaan buatan (grow light) berbasis fotonika di greenhouse mampu mempercepat pertumbuhan tanaman. “Cahaya biru meningkatkan kehijauan daun, sedangkan cahaya merah mempercepat pembentukan buah. Kombinasinya meningkatkan produktivitas cabai secara signifikan,” jelasnya.

Sementara itu, Peneliti Ahli Utama BRIN Edi Kurniawan menuturkan bahwa AI berperan meniru kemampuan berpikir manusia, dari persepsi hingga pengambilan keputusan. BRIN telah mengembangkan sistem deep learning untuk mengklasifikasi 11 spesies daun mangrove di Bali dan mendeteksi enam jenis penyakit padi dari citra daun.

Selain itu, BRIN juga tengah membuat model AI untuk mengelompokkan biji kopi berdasarkan standar SCAA dan SNI 01-2907-2008 guna membantu petani meningkatkan mutu hasil panen. “AI berpotensi besar mendukung pertanian presisi dari pra-panen hingga pasca-panen, asalkan tersedia dataset yang representatif,” ucap Edi.

Melalui kolaborasi lintas bidang antara fotonika, mikrokontroler, dan AI, BRIN berharap dapat membangun sistem pertanian presisi yang tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan produktivitas nasional. “Kami ingin pertanian Indonesia bergerak ke arah yang modern, efisien, dan tetap berakar pada kearifan lokal,” tutup Sensus.

(Fika Hamzah)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....