Wajib Tahu Ciri-ciri Makanan MBG yang Sudah Basi
- 29 Sep 2025 12:55 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh : Kasus keracunan massal yang terjadi berulang kali pada penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah meningkatkan kekhawatiran publik, khususnya orang tua dan tenaga pendidik. Walaupun pemerintah berjanji akan memperketat pengawasan dapur dan distribusi, langkah pencegahan di tingkat penerima sangat krusial.
Pakar keamanan pangan menyarankan agar setiap penerima program, terutama siswa dan orang tua, memahami ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi. Mengidentifikasi makanan basi adalah pertahanan pertama untuk menghindari risiko keracunan, yang sering disebabkan oleh kontaminasi bakteri seperti Salmonella dan Bacillus cereus.
Berikut adalah panduan praktis dan cepat untuk mengenali makanan MBG yang berpotensi basi atau terkontaminasi.
1. Perubahan Aroma (Bau)
Indikator paling mudah untuk mendeteksi makanan basi adalah melalui baunya. Seperti bau asam atau menyengat, makanan yang mengandung protein tinggi seperti lauk daging, ayam, telur, atau olahan susu jika basi akan mengeluarkan bau asam, busuk, atau amonia.
Bau apek atau berkapur, nasi atau makanan karbohidrat lain yang basi seringkali mengeluarkan bau apek seperti jamur atau bau seperti cairan fermentasi. Selanjutnya Bau Tengik Minyak atau lemak yang sudah teroksidasi pada gorengan atau makanan bersantan akan mengeluarkan bau tengik yang kuat.
2. Perubahan Tekstur dan Penampakan
Tekstur makanan yang berubah juga menjadi sinyal bahaya. Lendir dan Berair, Lauk pauk seperti tumisan sayur atau olahan daging yang mengeluarkan cairan berlendir atau terasa basah dan licin saat disentuh harus dihindari.
Perubahan warna menjadi kusam, kehijauan, atau kehitaman pada sayuran dan lauk merupakan tanda kerusakan. Nasi atau roti yang ditumbuhi bercak-bercak warna (hijau, hitam, putih) sudah pasti berjamur dan tidak aman.
Kekerasan atau Kekenyalan Tidak Wajar, Sayuran yang seharusnya renyah menjadi sangat layu atau lembek. Sebaliknya, beberapa lauk mungkin menjadi sangat keras dan kering akibat terpapar udara terlalu lama.
3. Perhatikan Suhu dan Waktu Distribusi
Waktu tunggu antara memasak dan mengonsumsi (disebut holding time) adalah faktor utama keracunan.
Makanan yang sudah dingin, tetapi terasa sedikit hangat kembali saat diterima, bisa menjadi indikasi telah lama disimpan dalam suhu ruang. Suhu antara 5∘C hingga 60∘C adalah 'Zona Bahaya' di mana bakteri berkembang biak dengan cepat.
Jika makanan diterima lebih dari 4 jam setelah waktu seharusnya dimasak, risiko keracunan meningkat drastis. Jika memungkinkan, tanyakan kepada pihak sekolah atau pengelola mengenai jam pasti makanan itu selesai diolah.
Jika Anda menemukan satu atau lebih ciri-ciri di atas pada menu MBG yang diterima, segera pisahkan dan jangan dikonsumsi. Laporkan temuan tersebut kepada guru atau pihak sekolah agar dapat diteruskan ke Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait untuk dilakukan evaluasi. Keselamatan dan kesehatan anak adalah prioritas utama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....