Wajah Baru Museum Kesaktian Pancasila, Hidupkan Memori Sejarah Bangsa

  • 04 Okt 2026 15:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo Subianto meresmikan pembaruan museum yang mencakup narasi sejarah, tata pamer, diorama digital, dan teknologi imersif untuk memperkuat fungsi edukasi.
  • Museum mempertahankan bangunan bersejarah, kendaraan klasik, serta barang pribadi para pahlawan revolusi melalui perawatan dan konservasi agar nilai autentiknya tetap terjaga.
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menekankan pentingnya museum dalam mengenalkan sejarah, menanamkan nilai Pancasila, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, menyimpan sejumlah benda bersejarah yang sebagian telah mengalami penggantian material. Meski demikian, replika yang digunakan tetap mengacu pada bentuk dan bahan serupa untuk menjaga nilai autentik peninggalan tersebut.

Kawasan seluas 14,6 hektare di Jalan Monumen Pancasila Sakti menjadi ruang edukasi sejarah tentang peristiwa G30S bagi masyarakat. Koleksi yang tersimpan mencakup bangunan, kendaraan klasik, serta barang pribadi para jenderal sebagai bagian dari narasi sejarah bangsa.

Kepala Museum Pengkhianatan PKI, Letkol Caj (K) Winarsih, menjelaskan bahwa sejumlah bangunan telah menggunakan material pengganti karena faktor usia. Namun, beberapa bagian asli masih dipertahankan, termasuk ubin dan pilar yang menjadi saksi peristiwa bersejarah tersebut.

"Tidak semua benda masih orisinal, tetapi lemari dan mesin jahit di dalam bangunan masih asli hingga sekarang," ucapnya. Ia menjelaskan, beberapa bagian bangunan telah mengalami perubahan material, sedangkan ubin dan pilar tetap dipertahankan dalam kondisi aslinya.

Tiga bangunan utama yang menyimpan jejak peristiwa tersebut meliputi Pos Komando, Dapur Umum, serta rumah penyiksaan dan penyekapan. Pos Komando menjadi tempat pasukan G30S menjalankan operasi penculikan tujuh jenderal pada 1 Oktober 1965.

Dapur Umum dahulu berfungsi menyiapkan kebutuhan logistik pasukan, sementara rumah lainnya menjadi lokasi penyiksaan dan penyekapan para pahlawan revolusi. Perawatan bangunan dilakukan dengan mempertahankan karakter material lama agar pengunjung tetap dapat melihat gambaran kondisi pada masa itu.

"Kami tetap memelihara bangunan dengan material yang sesuai, termasuk genting dan dinding bambu anyaman yang masih autentik," ujarnya. Ia mengatakan, usia peninggalan yang telah mencapai puluhan tahun membuat perawatan harus dilakukan secara cermat dan berkelanjutan.

Selain bangunan, kawasan monumen juga menyimpan empat kendaraan klasik yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa penculikan para jenderal. Salah satunya truk Dodge 500 produksi 1961 dengan nomor polisi B 2982 L yang kini telah digantikan replika.

Truk tersebut merupakan kendaraan jemputan PN Arta Yasa yang digunakan untuk mengangkut jenazah Brigjen TNI DI Panjaitan dari kediamannya. Sementara itu, tiga kendaraan lainnya masih orisinal, yakni mobil dinas Jenderal Ahmad Yani, Toyota Land Cruiser milik Mayjen Soeharto, dan panser Batalyon Kavaleri 3 Kodam VIII Brawijaya.

"Material kendaraan masih utuh karena kami melakukan perawatan setiap hari, termasuk memberikan oli untuk menjaga kondisinya," katanya. Meski demikian, Winarsih menyebut mesin kendaraan tersebut sudah tidak dapat dihidupkan meskipun bagian fisiknya masih terawat dengan baik.

Perhatian serupa juga diberikan terhadap barang pribadi tujuh pahlawan revolusi yang tersimpan di bagian utara monumen. Pakaian dinas hingga dompet disimpan dalam lemari kaca dengan bahan pengawet khusus untuk menjaga kondisi benda tetap terpelihara.

Ia menjelaskan, perawatan pakaian bersejarah membutuhkan koordinasi dengan Museum Tekstil agar proses pelestarian berjalan sesuai standar konservasi. Upaya tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab pengelola dalam menjaga warisan sejarah sekaligus menghadirkan pembelajaran bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....