Wajah Baru Museum Kesaktian Pancasila, Hidupkan Memori Sejarah Bangsa

  • 04 Okt 2026 15:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo Subianto meresmikan pembaruan museum yang mencakup narasi sejarah, tata pamer, diorama digital, dan teknologi imersif untuk memperkuat fungsi edukasi.
  • Museum mempertahankan bangunan bersejarah, kendaraan klasik, serta barang pribadi para pahlawan revolusi melalui perawatan dan konservasi agar nilai autentiknya tetap terjaga.
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menekankan pentingnya museum dalam mengenalkan sejarah, menanamkan nilai Pancasila, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.

Museum Pengkhianatan PKI di kawasan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, menyimpan rekam jejak peristiwa Gerakan 30 September 1965. Museum ini menghadirkan berbagai diorama dan benda bersejarah yang menggambarkan peristiwa penculikan serta pembunuhan sejumlah perwira TNI Angkatan Darat.

Keberadaan museum tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kawasan wisata sejarah, tetapi juga ruang untuk mengenal perjalanan bangsa. Melalui koleksi yang ditampilkan, pengunjung diajak memahami peristiwa yang meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Indonesia sekaligus mengenang jasa para Pahlawan Revolusi.

Museum Pengkhianatan PKI dibangun sebagai bagian dari Monumen Pancasila Sakti yang didirikan untuk memperingati perjuangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), khususnya TNI Angkatan Darat, dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara. Kawasan ini menjadi pengingat atas peristiwa yang mengubah perjalanan politik dan kehidupan bangsa Indonesia pada 1965.

Menurut informasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Museum Pengkhianatan PKI menyajikan berbagai diorama yang menggambarkan peristiwa pemberontakan G30S/PKI. Diorama tersebut memperlihatkan rangkaian upaya PKI menggulingkan pemerintahan Indonesia yang terjadi di sejumlah daerah.

Penyajian sejarah melalui diorama memberikan gambaran visual mengenai peristiwa yang berlangsung pada masa itu. Pengunjung dapat melihat rekonstruksi kejadian dalam bentuk tiga dimensi yang dilengkapi suara pendukung untuk memperkuat suasana dan membantu memahami konteks peristiwa.

Museum ini memiliki 34 diorama yang menggambarkan berbagai peristiwa terkait G30S/PKI. Koleksi tersebut menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi sejarah, terutama mengenai penculikan dan pembunuhan para perwira TNI Angkatan Darat.

Selain diorama, museum menyimpan sejumlah benda bersejarah yang berkaitan dengan tokoh dan peristiwa G30S/PKI. Beberapa di antaranya berupa pakaian yang digunakan Jenderal Ahmad Yani, mobil dinas miliknya, serta kendaraan yang digunakan dalam penculikan D.I. Pandjaitan.

Benda-benda tersebut memperlihatkan sisi lain dari peristiwa sejarah yang tidak hanya dapat dipahami melalui catatan tertulis. Keberadaan artefak asli juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenali peninggalan sejarah yang berkaitan langsung dengan para tokoh dalam peristiwa tersebut.

Museum Pengkhianatan PKI diresmikan Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1992. Pembangunannya berawal dari prakarsa Kepala Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Brigadir Jenderal TNI Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, yang kemudian mendapat persetujuan Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima ABRI Jenderal TNI M. Yusuf serta Presiden Soeharto.

Pendirian museum tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah saat itu untuk mendokumentasikan peristiwa G30S/PKI melalui penyajian koleksi sejarah. Sejak diresmikan, museum ini menjadi salah satu ruang edukasi yang memperkenalkan narasi sejarah peristiwa 1965 kepada masyarakat.

Peristiwa G30S pada 30 September 1965 menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Peristiwa tersebut diawali penculikan sejumlah petinggi TNI Angkatan Darat yang kemudian dibunuh, sementara jasad mereka ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Peristiwa itu menimbulkan korban jiwa, terutama dari kalangan perwira TNI Angkatan Darat. Pemerintah Republik Indonesia kemudian memberikan gelar Pahlawan Revolusi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan mereka.

Untuk mengenang para korban sekaligus menghormati perjuangan mereka, pemerintah membangun Monumen Pancasila Sakti yang juga dikenal sebagai Monumen Pahlawan Revolusi. Kawasan tersebut kemudian dilengkapi berbagai fasilitas sejarah, termasuk Museum Pengkhianatan PKI yang menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi mengenai peristiwa G30S.

Keberadaan monumen dan museum dalam satu kawasan menghadirkan pengalaman pembelajaran sejarah yang saling melengkapi. Pengunjung tidak hanya menyaksikan diorama dan benda peninggalan, tetapi juga dapat mengenali lokasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Dalam konteks pendidikan, museum memiliki peran penting untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi muda melalui pendekatan visual dan pengalaman langsung. Penyajian koleksi memungkinkan pengunjung memperoleh gambaran mengenai peristiwa masa lalu sekaligus memahami nilai-nilai kebangsaan yang berkembang setelahnya.

Museum Pengkhianatan PKI berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta. Kawasan ini dapat menjadi tujuan wisata sejarah bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat peristiwa G30S/PKI dan perjuangan para Pahlawan Revolusi.

Museum beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Melalui keberadaan museum tersebut, ingatan tentang peristiwa sejarah terus dihadirkan sebagai bagian dari pembelajaran bersama dalam memahami perjalanan bangsa Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....