Empat Film Indonesia di BIFF 2026: Membaca Wajah Sinema Indonesia di Panggung Asia

  • 16 Sep 2026 00:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Empat film Indonesia telah terpilih untuk ditayangkan di Busan International Film Festival 2026 dengan penempatan di berbagai kategori program kompetisi.
  • BIFF 2026 akan menjadi penyelenggaraan ke-31 festival bergengsi ini, dilangsungkan pada 6-15 Oktober 2026 di Korea Selatan.
  • Festival ini menjadi platform penting bagi pertemuan sineas, karya-karya terbaik, dan pelaku industri perfilman Asia dalam satu wadah internasional.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang kehadiran Indonesia di Busan tidak berhenti pada berapa banyak film yang berhasil masuk seleksi. Yang lebih penting adalah apa yang bisa dibawa pulang setelah film bertemu dengan penonton, kritikus, dan pelaku industri dari berbagai negara.

Bagi Yosep Anggi Noen, Busan memiliki arti yang lebih personal. Festival tersebut bukan ruang asing baginya, karena hampir dua dekade lalu ia pernah mengikuti workshop film di kota yang sama.

“Busan adalah festival yang besar dan penting untuk perfilman Asia dan dunia. Berada dalam kompetisi utama, Laut Bercerita mengusung kisah yang penting disuarakan ke dunia,” ujar Anggi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.

Ada perjalanan yang menarik dalam pernyataan tersebut. Anggi kembali ke Busan bukan hanya sebagai pembuat film yang membawa karya baru, tetapi sebagai sineas yang pernah belajar di sana pada awal kariernya.

Kini, ia kembali dengan film panjang yang berbicara tentang sejarah Indonesia. Bagi Anggi, perjalanan tersebut juga menunjukkan perubahan posisi film Indonesia dalam percakapan sinema internasional.

“Film-film Indonesia saat ini tersebar di seluruh dunia, bukti bahwa kisah-kisah dari Indonesia relevan secara global. Di sisi lain, kualitasnya semakin baik karena mampu disandingkan dengan film-film kelas dunia,” katanya.

Pernyataan tersebut penting karena keberhasilan film Indonesia di festival internasional tidak hanya dapat dibaca sebagai pencapaian individu. Ada perubahan yang lebih luas ketika cerita Indonesia semakin sering hadir dalam ruang-ruang sinema internasional.

Gita Fara melihat Busan dari perspektif yang berbeda. Sebagai produser Laut Bercerita, ia memandang festival tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan cerita Indonesia dengan penonton yang lebih luas.

“Busan International Film Festival adalah platform yang tepat untuk penonton pertama yang menyaksikan film ini. Sebuah film membawa cerita tentang Indonesia, disaksikan oleh penonton sinema Asia dan internasional,” ujar Gita.

Harapannya bahkan tidak berhenti pada respons terhadap film. Gita ingin pemutaran Laut Bercerita dapat memantik percakapan yang lebih luas di kawasan Asia.

Cara pandang itu membuat festival tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk memperoleh label “film Indonesia yang masuk festival internasional”. Festival menjadi ruang pertemuan antara cerita, penonton, dan gagasan.

Hal serupa terlihat dari perjalanan IBUKU. Film Eddie Cahyono tersebut telah melewati perjalanan panjang sejak terpilih dalam Asian Project Market di Busan pada 2015, sebelum akhirnya masuk Competition BIFF 2026.

Bagi Tika Bravani, yang menjalani debut sebagai produser melalui film tersebut, keikutsertaan di kompetisi utama Busan menjadi pengalaman baru. Ia berharap film tersebut tidak hanya mendapat perhatian festival, tetapi juga menemukan penonton yang benar-benar terhubung dengan ceritanya.

“Saya berharap film ini nantinya bisa menemukan penonton yang tepat, mereka yang bisa ikut tersentuh oleh kisah seorang ibu yang tak pernah berhenti menyayangi anaknya,” tutur Tika.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah film tidak selesai ketika mendapat seleksi festival. Setelah itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang akan menonton, bagaimana cerita tersebut, dan apa yang muncul setelahnya.

Di sinilah empat film Indonesia memiliki posisi yang menarik. Laut Bercerita, IBUKU, Empat Musim Pertiwi, dan αLPα.

Mereka datang dengan bentuk dan program yang berbeda. Namun, semuanya memiliki kesempatan untuk memperkenalkan cara sineas Indonesia melihat manusia dan persoalan di sekitarnya.

Busan juga memberikan konteks baru bagi cerita-cerita tersebut. Film Indonesia tidak lagi hanya dibaca berdasarkan keberadaannya sebagai produk nasional, tetapi ditempatkan berdampingan dengan karya Asia lainnya.

Karena itu, “pulang dari Busan” tidak harus berarti membawa pulang sebuah penghargaan. Tetapi bisa berarti membawa pulang jaringan baru, penonton baru dan percakapan baru dari sudut pandang yang berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....