Empat Film Indonesia di BIFF 2026: Membaca Wajah Sinema Indonesia di Panggung Asia

  • 16 Sep 2026 00:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Empat film Indonesia telah terpilih untuk ditayangkan di Busan International Film Festival 2026 dengan penempatan di berbagai kategori program kompetisi.
  • BIFF 2026 akan menjadi penyelenggaraan ke-31 festival bergengsi ini, dilangsungkan pada 6-15 Oktober 2026 di Korea Selatan.
  • Festival ini menjadi platform penting bagi pertemuan sineas, karya-karya terbaik, dan pelaku industri perfilman Asia dalam satu wadah internasional.

Jika empat film Indonesia di Busan dibaca berdampingan, terlihat satu benang merah yang cukup kuat. Film-film tersebut sama-sama menempatkan manusia yang berhadapan dengan luka, ingatan, dan kekuasaan sebagai pusat cerita.

IBUKU membawa persoalan itu melalui hubungan seorang ibu dan anak. Membawa isu pekerja migran, perempuan, dan hak asasi manusia ke dalam cerita keluarga.

Di titik ini, persoalan personal tidak berdiri sendiri. Hubungan dalam IBUKU bersinggungan dengan persoalan yang lebih besar, seperti posisi perempuan dan pekerja migran, sistem hukum serta jarak geografis.

Sementara itu, Laut Bercerita tidak hanya berbicara tentang aktivisme dan penghilangan paksa. Film ini juga memperlihatkan bagaimana perempuan menghadapi kehilangan dari posisi yang berbeda.

Ada ibu yang menunggu anaknya pulang, adik yang memilih mencari jawaban. Tokoh tersebut membuat pengalaman kehilangan dalam Laut Bercerita tidak berhenti pada kisah Biru Laut.

Christine Hakim melihat posisi tersebut sebagai bentuk duka yang sangat berat. Menurutnya, kehilangan menjadi semakin menyakitkan karena masih menyisakan harapan bahwa sang anak suatu hari akan kembali.

“Hati saya berat sekali bagi seorang ibu. Kehilangan ini sebetulnya yang lebih berat karena adanya sebuah harapan. Harapan bahwa dia suatu hari akan kembali,” ujar Christine Hakim di Jakarta, 9 September 2026.

Yunita Siregar menyebut Asmara sebagai sosok yang menjadi penyangga emosional keluarganya. Ia harus tetap bertahan agar keluarganya tidak ikut runtuh menghadapi duka.

“Dia satu-satunya yang harus bisa bertahan supaya keluarga tetap tidak luruh untuk menghadapi duka. Uniknya, Asmara ini mengemas duka itu dengan sunyi. Justru sebenarnya di balik dukanya, lukanya jauh lebih dalam,” kata Yunita.

Gagasan mengenai luka dan ingatan juga muncul dalam Empat Musim Pertiwi. Film ini mengikuti Pertiwi yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara selama dua dekade, lalu berhadapan dengan trauma, keluarga, stigma.

Sejak awal pengembangannya, Kamila memang menempatkan pengalaman perempuan sebagai salah satu pusat gagasan film. Terinspirasi dari tempat wisata favoritnya dengan keluarga yaitu Gunung Bromo yang memiliki empat musim.

Adegan dalam film 'Empat Musim Pertiwi' dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi (Foto:Dok/Forka Films)

Ia mengatakan ingin bercerita mengenai “empat musim kehidupan perempuan” atau fase-fase kehidupan perempuan lewat inspirasi tersebut. “Memang dulu pengen sekali cerita tentang empat musim perempuan atau fase kehidupan perempuan,” ucapnya.

Karena itu, kepulangan Pertiwi bukan sekadar perjalanan kembali ke sebuah tempat. Desa menjadi ruang untuk mempertemukan kembali tubuh, ingatan, trauma, dan struktur sosial yang pernah membuatnya kehilangan kendali atas hidupnya.

Berbeda dari tiga film panjang tersebut, αLPα memadatkan persoalan kekuasaan ke dalam cerita seorang anak muda. Banyu yang ditangkap dan dikirim ke pusat rehabilitasi moral, lalu harus menghadapi sistem yang berusaha mengendalikan dirinya.

Melansir dari JAFF Market, Dhiwangkara Seta sendiri tumbuh dengan perhatian terhadap ketidaksetaraan sosial, perbedaan kelas, serta stigma maskulinitas. Latar tersebut ikut membentuk kecenderungannya menggunakan film sebagai medium untuk mengangkat persoalan sosial tersebut.

Ada ibu yang berusaha menembus jarak dan birokrasi, kehilangan dan penantian keluarga. Perempuan yang kembali menghadapi trauma, hingga anak muda yang menolak dikendalikan sistem.

Kesamaannya bukan berarti keempat film membawa pesan yang sama. Justru perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa sinema Indonesia dapat membicarakan persoalan kekuasaan melalui ruang yang sangat personal.

Di Busan, persoalan-persoalan itu kemudian keluar dari konteks Indonesia dan bertemu dengan penonton Asia. Apakah pengalaman tentang kehilangan, trauma, ketidakadilan, dan upaya bertahan itu dapat dikenali di tempat lain.

Di sinilah kekuatan empat film tersebut sebagai representasi sinema Indonesia. Mereka tidak perlu meninggalkan persoalan lokal untuk menjadi universal, tetapi justru membawa pengalaman lokal sebagai pintu masuk yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....