Empat Film Indonesia di BIFF 2026: Membaca Wajah Sinema Indonesia di Panggung Asia
- 16 Sep 2026 00:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Empat film Indonesia telah terpilih untuk ditayangkan di Busan International Film Festival 2026 dengan penempatan di berbagai kategori program kompetisi.
- BIFF 2026 akan menjadi penyelenggaraan ke-31 festival bergengsi ini, dilangsungkan pada 6-15 Oktober 2026 di Korea Selatan.
- Festival ini menjadi platform penting bagi pertemuan sineas, karya-karya terbaik, dan pelaku industri perfilman Asia dalam satu wadah internasional.
Empat Film, Empat Ruang di Busan
EMPAT film Indonesia akan hadir dalam Busan International Film Festival atau BIFF 2026 di Korea Selatan. Keempatnya menempati program berbeda, mulai dari kompetisi utama hingga kompetisi film pendek.
BIFF 2026 menjadi penyelenggaraan ke-31 yang berlangsung pada 6 hingga 15 Oktober 2026. Festival ini menjadi salah satu ruang penting bagi pertemuan sineas, karya, dan pelaku industri perfilman Asia.
Tahun ini, dua film Indonesia masuk dalam program Competition, yakni Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen dan IBUKU garapan Eddie Cahyono. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini berada di program A Window on Asian Cinema.
Film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta melengkapi kehadiran Indonesia melalui program Wide Angle – Asian Short Film Competition. Perbedaan program tersebut menunjukkan bahwa empat film Indonesia datang dengan posisi dan jalur yang beragam di BIFF 2026.
Kehadiran empat film tersebut menarik untuk dilihat lebih jauh karena BIFF bukan hanya menjadi ruang pemutaran film. Festival ini juga menjadi tempat karya-karya Asia bertemu dengan penonton, kritikus, programmer, dan pelaku industri dari berbagai negara.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya tentang berapa banyak film Indonesia yang berhasil masuk ke BIFF tahun ini. Yang lebih penting adalah melihat wajah sinema Indonesia seperti apa yang sedang dibawa ke panggung perfilman Asia.
Keempat film tersebut hadir dengan cerita dan persoalan yang berbeda. Laut Bercerita membawa ingatan tentang sejarah dan pengalaman penghilangan paksa, sementara IBUKU berangkat dari hubungan ibu dan anak dalam persoalan pekerja migran serta hukuman mati.
Di sisi lain, Empat Musim Pertiwi menghadirkan kisah perempuan yang kembali menghadapi masa lalu setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. αLPα membawa cerita anak muda dan pergulatannya dengan lingkungan sosial serta institusi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sinema Indonesia tidak hadir dengan satu suara di Busan. Empat film ini justru menawarkan beragam cara untuk melihat manusia, masyarakat, dan persoalan yang berkembang di Indonesia.
Dua Cerita Indonesia di Kompetisi Utama
Empat film Indonesia yang hadir di Busan International Film Festival 2026 tidak berada dalam satu program yang sama. Dua film masuk Competition, satu film berada di A Window on Asian Cinema, sementara satu lainnya bersaing dalam kompetisi film pendek.
IBUKU karya Eddie Cahyono dan The Sea Speaks His Name atau Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen masuk program Competition. Keduanya menjadi bagian dari 14 film yang dipilih untuk program tersebut.
Posisi tersebut membuat kedua film memiliki ruang yang cukup penting untuk memperkenalkan cerita Indonesia dalam kompetisi utama festival. Keduanya juga tercatat sebagai film yang menjalani pemutaran perdana dunia di Busan.

Laut Bercerita membawa kisah yang berangkat dari novel karya Leila S. Chudori. Film ini mengikuti Biru Laut dan kelompok aktivis mahasiswa yang berhadapan dengan situasi politik Indonesia menjelang Reformasi 1998.
Namun, Yosep Anggi Noen tidak ingin membuat film tersebut sebagai drama sejarah yang terasa kaku. Ia memilih pendekatan populer agar kisah sejarah tersebut dapat lebih dekat dengan penonton masa kini.
“Kami membuat film ini tuh pendekatannya populer. Jadi pendekatannya bukan pendekatan film sejarah yang sangat kaku, tapi ini film populer,” ujar Anggi kepada media, Jumat 21 Agustus 2026.
Pilihan tersebut menjadi penting karena Laut Bercerita membawa peristiwa sejarah yang sangat spesifik dari Indonesia. Film ini kemudian mencoba menerjemahkan sejarah tersebut melalui hubungan persahabatan, keluarga, kehilangan, dan penantian.
Anggi mengatakan, salah satu hal yang ingin ditonjolkan adalah pengalaman emosional para tokohnya. Baginya, penantian keluarga terhadap orang yang hilang juga dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan.
Kehadiran Laut Bercerita di Busan juga memiliki arti personal bagi sang sutradara. Hampir dua dekade sebelumnya, Anggi pernah mengikuti workshop film untuk pembuat film pemula di Busan.
“Busan adalah festival yang besar dan penting untuk perfilman Asia dan dunia. Berada dalam kompetisi utama, Laut Bercerita mengusung kisah yang penting disuarakan ke dunia,” ujar Anggi.
Jika Laut Bercerita membawa sejarah politik Indonesia, IBUKU bergerak melalui persoalan keluarga, pekerja migran, dan hukuman mati. Film Eddie Cahyono mengikuti Sumiati yang berusaha menemui putrinya Sri yang menghadapi hukuman mati di Arab Saudi.
Bagi produser Tika Bravani, kekuatan cerita IBUKU terletak pada persoalan yang sangat personal sekaligus dapat dipahami banyak orang. “Ibu itu sangat personal, tapi juga sangat universal buat semua orang,” ujarnya.
Sementara itu, film ketiga hadir melalui program A Window on Asian Cinema. Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini mengikuti Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara selama bertahun-tahun.
Film ini memiliki perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai ke Busan. Kamila mengatakan ide Empat Musim Pertiwi pertama kali ditulis pada 2017, sebelum akhirnya mulai diproduksi pada 2023.
“Empat Musim Pertiwi ini saya pertama kali tulis idenya tahun 2017,” kata Kamila. Ia menyebut proses pembuatannya sebagai salah satu perjalanan film yang paling berat dalam kariernya.
Berbeda dari tiga film panjang tersebut, BIFF juga memberikan ruang bagi sinema pendek Indonesia melalui αLPα karya Dhiwangkara Seta. Film berdurasi 16 menit itu masuk Wide Angle – Asian Short Film Competition.
αLPα mengikuti Banyu, vokalis punk berusia 17 tahun yang ditangkap setelah tampil dalam pertunjukan bawah tanah yang dilarang. Ia kemudian dibawa ke sebuah fasilitas pembinaan dan harus berhadapan dengan sosok serta kenyataan dari masa lalunya.
Keempat film tersebut akhirnya menunjukkan empat jalur yang berbeda untuk sebuah karya Indonesia mencapai Busan. Ada film yang masuk kompetisi utama, film yang ditempatkan dalam program khusus sinema Asia, dan film pendek yang berkompetisi melalui ruang tersendiri.
Perbedaan itu menjadi penting karena memperlihatkan bahwa kehadiran Indonesia di BIFF 2026 tidak dibangun oleh satu jenis cerita. Film-film tersebut datang membawa sejarah, keluarga, pengalaman perempuan, hingga kegelisahan anak muda dalam bentuk sinematik yang berbeda.
Perempuan, Ingatan, dan Mereka yang Berhadapan dengan Sistem
Dari empat film Indonesia yang hadir di Busan International Film Festival 2026, dua di antaranya mendapat tempat di program Competition. Keduanya adalah Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen dan IBUKU garapan Eddie Cahyono.
Keduanya sama-sama berangkat dari persoalan Indonesia, tetapi memilih jalan cerita yang berbeda. Laut Bercerita membawa penonton pada ingatan sejarah, sedangkan IBUKU bergerak melalui hubungan ibu dan anak, pekerja migran dan hukuman mati.
Laut Bercerita merupakan adaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Ceritanya mengikuti Biru Laut dan kelompok aktivis mahasiswa yang hidup dalam situasi politik Indonesia menjelang Reformasi 1998.
Mengubah novel tersebut menjadi film tentu bukan sekadar memindahkan cerita dari halaman ke layar. Ada bagian yang harus dipilih, dipadatkan, bahkan dihilangkan agar cerita dapat bekerja sebagai film layar lebar.
Leila S. Chudori mengakui proses tersebut tidak mudah baginya sebagai penulis. Ia mengatakan harus merelakan sejumlah adegan yang disukainya dari novel untuk kepentingan adaptasi film.
“Saya selalu ingat kalimat pertama Mas Anggi. Kita harus ikhlas ya sama adegan-adegan yang mungkin kita enggak bisa masukin padahal kita sayang sama adegan itu,” ujar Leila dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa adaptasi Laut Bercerita tidak hanya menjadi pekerjaan sutradara. Prosesnya juga menjadi pertemuan antara karya sastra yang sudah memiliki pembaca dengan bahasa sinema yang harus membangun pengalaman baru.
“Memang tugas terberat saya adalah memilih sisi mana yang harus kita tampilkan dalam film dan mana yang tidak. Itu pada proses penulisan itu sudah kita kerjakan,” ujar Anggi.
Dalam proses kreatifnya, Anggi juga memanfaatkan kedekatannya dengan Yogyakarta. Ia tumbuh di daerah tersebut, sementara sebagian besar latar dalam novel juga berada di Yogyakarta.
Namun, Anggi menilai dunia film tidak hanya dibangun melalui lokasi dan ruang. Ia juga ingin menghadirkan energi anak muda yang menjadi nyawa dari cerita tersebut.
“Universe itu tidak melulu soal tempat, tidak melulu soal space, tapi soal nyawa. Maka nyawa itu muncul dari tokoh-tokoh anak-anak muda dalam film ini,” ujarnya.
Jika Laut Bercerita berangkat dari ingatan politik Indonesia, IBUKU mengambil persoalan yang lebih dekat dengan ruang keluarga. Film Eddie Cahyono mengikuti Sumiati, diperankan Christine Hakim, yang berusaha menemui putrinya yang terancam hukuman mati di Arab Saudi.
Di balik perjalanan seorang ibu tersebut, film ini membawa isu pekerja migran, perempuan, hubungan keluarga, serta persoalan hukum. Konflik personal kemudian bertemu dengan persoalan yang lebih besar, termasuk jarak geografis dan birokrasi yang harus dihadapi Sumiati.

Yang menarik, perjalanan IBUKU menuju Busan sebenarnya sudah dimulai lebih dari satu dekade lalu. Lembaga Sensor Film (LSF) mencatat proyek film tersebut pernah memperoleh pendanaan melalui Asian Project Market di Busan pada 2015.
Sepuluh tahun kemudian, proyek itu kembali ke Busan dalam bentuk film yang telah selesai. Bedanya, kali ini IBUKU tidak datang sebagai proyek yang sedang mencari dukungan, melainkan sebagai salah satu dari 14 film yang berkompetisi di program utama.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa festival film dapat menjadi bagian dari proses panjang sebuah karya. Busan bukan hanya tempat untuk memperkenalkan film yang sudah selesai, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan yang membantu sebuah proyek berkembang.
Film ini juga menjadi produksi bersama Indonesia dan Jepang. Eddie Cahyono bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, sementara Christine Hakim dan Ayushita menjadi pemeran utama.
Bagi Eddie, cerita tersebut tidak berhenti pada hubungan dua karakter. Persoalan yang dihadapi ibu dan anak membuka ruang untuk membicarakan pengalaman perempuan, pekerja migran, serta pilihan-pilihan sulit.
Tika Bravani sebagai prosedur berharap film ini dapat menyentuh pentonon. Tentang hubungan seorang ibu dan anak yang tidak pernah hilang meskipun sebuah masalah menghampiri.
“Saya berharap film ini nantinya bisa menemukan penonton yang tepat, mereka yang bisa ikut tersentuh oleh kisah seorang ibu yang tak pernah berhenti menyayangi anaknya, meski hubungan mereka pernah retak oleh masa lalu," kata Tika dalam keterangan tertulis, Jumat, 11 September 2026.
Dua film tersebut akhirnya memperlihatkan cara yang berbeda dalam membawa persoalan Indonesia ke kompetisi utama BIFF. Keduanya juga menunjukkan bahwa cerita yang berangkat dari Indonesia tidak harus meninggalkan konteks lokalnya agar dapat dibaca secara lebih luas.
Di titik ini, posisi kedua film di Competition menjadi lebih dari sekadar pencapaian festival. Keduanya memperlihatkan bagaimana pengalaman Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam bahasa sinema.
BIFF Bukan Sekadar Tempat Menayangkan Film
Jika empat film Indonesia di Busan dibaca berdampingan, terlihat satu benang merah yang cukup kuat. Film-film tersebut sama-sama menempatkan manusia yang berhadapan dengan luka, ingatan, dan kekuasaan sebagai pusat cerita.
IBUKU membawa persoalan itu melalui hubungan seorang ibu dan anak. Membawa isu pekerja migran, perempuan, dan hak asasi manusia ke dalam cerita keluarga.
Di titik ini, persoalan personal tidak berdiri sendiri. Hubungan dalam IBUKU bersinggungan dengan persoalan yang lebih besar, seperti posisi perempuan dan pekerja migran, sistem hukum serta jarak geografis.
Sementara itu, Laut Bercerita tidak hanya berbicara tentang aktivisme dan penghilangan paksa. Film ini juga memperlihatkan bagaimana perempuan menghadapi kehilangan dari posisi yang berbeda.
Ada ibu yang menunggu anaknya pulang, adik yang memilih mencari jawaban. Tokoh tersebut membuat pengalaman kehilangan dalam Laut Bercerita tidak berhenti pada kisah Biru Laut.
Christine Hakim melihat posisi tersebut sebagai bentuk duka yang sangat berat. Menurutnya, kehilangan menjadi semakin menyakitkan karena masih menyisakan harapan bahwa sang anak suatu hari akan kembali.
“Hati saya berat sekali bagi seorang ibu. Kehilangan ini sebetulnya yang lebih berat karena adanya sebuah harapan. Harapan bahwa dia suatu hari akan kembali,” ujar Christine Hakim di Jakarta, 9 September 2026.
Yunita Siregar menyebut Asmara sebagai sosok yang menjadi penyangga emosional keluarganya. Ia harus tetap bertahan agar keluarganya tidak ikut runtuh menghadapi duka.
“Dia satu-satunya yang harus bisa bertahan supaya keluarga tetap tidak luruh untuk menghadapi duka. Uniknya, Asmara ini mengemas duka itu dengan sunyi. Justru sebenarnya di balik dukanya, lukanya jauh lebih dalam,” kata Yunita.
Gagasan mengenai luka dan ingatan juga muncul dalam Empat Musim Pertiwi. Film ini mengikuti Pertiwi yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara selama dua dekade, lalu berhadapan dengan trauma, keluarga, stigma.
Sejak awal pengembangannya, Kamila memang menempatkan pengalaman perempuan sebagai salah satu pusat gagasan film. Terinspirasi dari tempat wisata favoritnya dengan keluarga yaitu Gunung Bromo yang memiliki empat musim.

Ia mengatakan ingin bercerita mengenai “empat musim kehidupan perempuan” atau fase-fase kehidupan perempuan lewat inspirasi tersebut. “Memang dulu pengen sekali cerita tentang empat musim perempuan atau fase kehidupan perempuan,” ucapnya.
Karena itu, kepulangan Pertiwi bukan sekadar perjalanan kembali ke sebuah tempat. Desa menjadi ruang untuk mempertemukan kembali tubuh, ingatan, trauma, dan struktur sosial yang pernah membuatnya kehilangan kendali atas hidupnya.
Berbeda dari tiga film panjang tersebut, αLPα memadatkan persoalan kekuasaan ke dalam cerita seorang anak muda. Banyu yang ditangkap dan dikirim ke pusat rehabilitasi moral, lalu harus menghadapi sistem yang berusaha mengendalikan dirinya.
Melansir dari JAFF Market, Dhiwangkara Seta sendiri tumbuh dengan perhatian terhadap ketidaksetaraan sosial, perbedaan kelas, serta stigma maskulinitas. Latar tersebut ikut membentuk kecenderungannya menggunakan film sebagai medium untuk mengangkat persoalan sosial tersebut.
Ada ibu yang berusaha menembus jarak dan birokrasi, kehilangan dan penantian keluarga. Perempuan yang kembali menghadapi trauma, hingga anak muda yang menolak dikendalikan sistem.
Kesamaannya bukan berarti keempat film membawa pesan yang sama. Justru perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa sinema Indonesia dapat membicarakan persoalan kekuasaan melalui ruang yang sangat personal.
Di Busan, persoalan-persoalan itu kemudian keluar dari konteks Indonesia dan bertemu dengan penonton Asia. Apakah pengalaman tentang kehilangan, trauma, ketidakadilan, dan upaya bertahan itu dapat dikenali di tempat lain.
Di sinilah kekuatan empat film tersebut sebagai representasi sinema Indonesia. Mereka tidak perlu meninggalkan persoalan lokal untuk menjadi universal, tetapi justru membawa pengalaman lokal sebagai pintu masuk yang lebih luas.
Apa yang Dibawa Indonesia Pulang dari Busan?
Masuknya empat film Indonesia ke BIFF 2026 memang penting secara artistik. Namun, nilai kehadiran Indonesia di Busan tidak berhenti ketika film selesai diputar di hadapan penonton.
BIFF berlangsung bersamaan dengan Asian Contents & Film Market atau ACFM. Forum ini menjadi ruang pertemuan pelaku industri film dan konten dari berbagai negara, mulai dari produser, investor, distributor, hingga perusahaan produksi.
Pada 2026, ACFM berlangsung pada 10 hingga 13 Oktober di BEXCO. Pasar industri resmi BIFF tersebut menjadi bagian penting dari ekosistem yang mempertemukan karya dengan peluang bisnis dan kerja sama internasional.
Salah satu ruang penting di dalamnya adalah Asian Project Market atau APM. Program ini secara khusus mempertemukan proyek film Asia yang berada dalam tahap pengembangan dengan calon investor, produser, distributor berbagai negara.
Perjalanan IBUKU menunjukkan bagaimana hubungan tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang. Proyek Eddie Cahyono sebelumnya terpilih dalam Asian Project Market 2015, sebelum akhirnya selesai dan masuk Competition BIFF pada 2026.
Artinya, Busan bagi film Indonesia bukan selalu menjadi titik akhir perjalanan. Festival dan market dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah proyek sejak masih berupa gagasan hingga akhirnya menemukan bentuk dan penontonnya.
Pengalaman tersebut penting karena tantangan film Indonesia tidak hanya terletak pada produksi. Setelah film selesai, pembuat film masih harus mencari jalur distribusi, festival, mitra internasional, serta penonton di luar pasar domestik.
Selain APM, ekosistemnya mencakup Busan Story Market, Asian Cinema Fund, Producer Hub, Doc Square, hingga Platform BUSAN. Masing-masing memiliki fungsi berbeda dalam pengembangan karya, pendanaan, distribusi, jejaring, dan pengembangan talenta.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa festival film besar kini tidak hanya bekerja sebagai ruang apresiasi. Festival juga menjadi bagian dari rantai industri yang mempertemukan pembuat cerita dengan pihak-pihak lainnya.
Pada 2026, misalnya, Busan Story Market memilih dua IP dari Indonesia di antara 25 karya Asia yang masuk seleksi. Dua IP tersebut ditemukan melalui kolaborasi dengan JAFF IP Connection, menunjukkan adanya hubungan terbuka antara ekosistem di pasar Asia.
Busan Story Market sendiri tidak sekadar memamerkan cerita. Program tersebut mempertemukan pemilik IP dengan pelaku industri untuk mengeksplorasi peluang pengembangan ke berbagai bentuk media.
Di titik ini, posisi Indonesia di Busan menjadi lebih menarik. Kehadiran Laut Bercerita, IBUKU, Empat Musim Pertiwi, dan αLPα memperlihatkan karya yang sudah selesai dan siap ditonton.
Sementara kehadiran IP Indonesia di pasar industri menunjukkan sisi lain Indonesia. Dimana juga memiliki cerita yang masih dapat dikembangkan untuk menjangkau bentuk, pasar, dan penonton yang lebih luas.
Karena itu, ukuran keberhasilan Indonesia di Busan seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah film yang masuk seleksi. Pertanyaan yang lebih jauh adalah apa yang terjadi setelah film-film tersebut diputar dan para pembuatnya bertemu dengan ekosistem industri Asia.
Di sinilah BIFF menjadi penting bagi sinema Indonesia. Busan menyediakan panggung untuk mempertontonkan karya sekaligus ruang untuk membangun hubungan.
Pada akhirnya, empat film Indonesia di BIFF 2026 bukan hanya membawa cerita dari Indonesia ke Korea Selatan. Mereka juga membuka kemungkinan agar cerita, pembuat film, dan industri Indonesia terhubung lebih jauh dengan jaringan sinema Asia.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kehadiran Indonesia di Busan tidak berhenti pada berapa banyak film yang berhasil masuk seleksi. Yang lebih penting adalah apa yang bisa dibawa pulang setelah film bertemu dengan penonton, kritikus, dan pelaku industri dari berbagai negara.
Bagi Yosep Anggi Noen, Busan memiliki arti yang lebih personal. Festival tersebut bukan ruang asing baginya, karena hampir dua dekade lalu ia pernah mengikuti workshop film di kota yang sama.
“Busan adalah festival yang besar dan penting untuk perfilman Asia dan dunia. Berada dalam kompetisi utama, Laut Bercerita mengusung kisah yang penting disuarakan ke dunia,” ujar Anggi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Ada perjalanan yang menarik dalam pernyataan tersebut. Anggi kembali ke Busan bukan hanya sebagai pembuat film yang membawa karya baru, tetapi sebagai sineas yang pernah belajar di sana pada awal kariernya.
Kini, ia kembali dengan film panjang yang berbicara tentang sejarah Indonesia. Bagi Anggi, perjalanan tersebut juga menunjukkan perubahan posisi film Indonesia dalam percakapan sinema internasional.
“Film-film Indonesia saat ini tersebar di seluruh dunia, bukti bahwa kisah-kisah dari Indonesia relevan secara global. Di sisi lain, kualitasnya semakin baik karena mampu disandingkan dengan film-film kelas dunia,” katanya.
Pernyataan tersebut penting karena keberhasilan film Indonesia di festival internasional tidak hanya dapat dibaca sebagai pencapaian individu. Ada perubahan yang lebih luas ketika cerita Indonesia semakin sering hadir dalam ruang-ruang sinema internasional.
Gita Fara melihat Busan dari perspektif yang berbeda. Sebagai produser Laut Bercerita, ia memandang festival tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan cerita Indonesia dengan penonton yang lebih luas.
“Busan International Film Festival adalah platform yang tepat untuk penonton pertama yang menyaksikan film ini. Sebuah film membawa cerita tentang Indonesia, disaksikan oleh penonton sinema Asia dan internasional,” ujar Gita.
Harapannya bahkan tidak berhenti pada respons terhadap film. Gita ingin pemutaran Laut Bercerita dapat memantik percakapan yang lebih luas di kawasan Asia.
Cara pandang itu membuat festival tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk memperoleh label “film Indonesia yang masuk festival internasional”. Festival menjadi ruang pertemuan antara cerita, penonton, dan gagasan.
Hal serupa terlihat dari perjalanan IBUKU. Film Eddie Cahyono tersebut telah melewati perjalanan panjang sejak terpilih dalam Asian Project Market di Busan pada 2015, sebelum akhirnya masuk Competition BIFF 2026.
Bagi Tika Bravani, yang menjalani debut sebagai produser melalui film tersebut, keikutsertaan di kompetisi utama Busan menjadi pengalaman baru. Ia berharap film tersebut tidak hanya mendapat perhatian festival, tetapi juga menemukan penonton yang benar-benar terhubung dengan ceritanya.
“Saya berharap film ini nantinya bisa menemukan penonton yang tepat, mereka yang bisa ikut tersentuh oleh kisah seorang ibu yang tak pernah berhenti menyayangi anaknya,” tutur Tika.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah film tidak selesai ketika mendapat seleksi festival. Setelah itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang akan menonton, bagaimana cerita tersebut, dan apa yang muncul setelahnya.
Di sinilah empat film Indonesia memiliki posisi yang menarik. Laut Bercerita, IBUKU, Empat Musim Pertiwi, dan αLPα.
Mereka datang dengan bentuk dan program yang berbeda. Namun, semuanya memiliki kesempatan untuk memperkenalkan cara sineas Indonesia melihat manusia dan persoalan di sekitarnya.
Busan juga memberikan konteks baru bagi cerita-cerita tersebut. Film Indonesia tidak lagi hanya dibaca berdasarkan keberadaannya sebagai produk nasional, tetapi ditempatkan berdampingan dengan karya Asia lainnya.
Karena itu, “pulang dari Busan” tidak harus berarti membawa pulang sebuah penghargaan. Tetapi bisa berarti membawa pulang jaringan baru, penonton baru dan percakapan baru dari sudut pandang yang berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....