Empat Film Indonesia di BIFF 2026: Membaca Wajah Sinema Indonesia di Panggung Asia
- 16 Sep 2026 00:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Empat film Indonesia telah terpilih untuk ditayangkan di Busan International Film Festival 2026 dengan penempatan di berbagai kategori program kompetisi.
- BIFF 2026 akan menjadi penyelenggaraan ke-31 festival bergengsi ini, dilangsungkan pada 6-15 Oktober 2026 di Korea Selatan.
- Festival ini menjadi platform penting bagi pertemuan sineas, karya-karya terbaik, dan pelaku industri perfilman Asia dalam satu wadah internasional.
EMPAT film Indonesia akan hadir dalam Busan International Film Festival atau BIFF 2026 di Korea Selatan. Keempatnya menempati program berbeda, mulai dari kompetisi utama hingga kompetisi film pendek.
BIFF 2026 menjadi penyelenggaraan ke-31 yang berlangsung pada 6 hingga 15 Oktober 2026. Festival ini menjadi salah satu ruang penting bagi pertemuan sineas, karya, dan pelaku industri perfilman Asia.
Tahun ini, dua film Indonesia masuk dalam program Competition, yakni Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen dan IBUKU garapan Eddie Cahyono. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini berada di program A Window on Asian Cinema.
Film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta melengkapi kehadiran Indonesia melalui program Wide Angle – Asian Short Film Competition. Perbedaan program tersebut menunjukkan bahwa empat film Indonesia datang dengan posisi dan jalur yang beragam di BIFF 2026.
Kehadiran empat film tersebut menarik untuk dilihat lebih jauh karena BIFF bukan hanya menjadi ruang pemutaran film. Festival ini juga menjadi tempat karya-karya Asia bertemu dengan penonton, kritikus, programmer, dan pelaku industri dari berbagai negara.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya tentang berapa banyak film Indonesia yang berhasil masuk ke BIFF tahun ini. Yang lebih penting adalah melihat wajah sinema Indonesia seperti apa yang sedang dibawa ke panggung perfilman Asia.
Keempat film tersebut hadir dengan cerita dan persoalan yang berbeda. Laut Bercerita membawa ingatan tentang sejarah dan pengalaman penghilangan paksa, sementara IBUKU berangkat dari hubungan ibu dan anak dalam persoalan pekerja migran serta hukuman mati.
Di sisi lain, Empat Musim Pertiwi menghadirkan kisah perempuan yang kembali menghadapi masa lalu setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. αLPα membawa cerita anak muda dan pergulatannya dengan lingkungan sosial serta institusi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sinema Indonesia tidak hadir dengan satu suara di Busan. Empat film ini justru menawarkan beragam cara untuk melihat manusia, masyarakat, dan persoalan yang berkembang di Indonesia.
|
Selanjutnya,
Empat Film, Empat Ruang di Busan
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....