Abu Anak Krakatau dan Efek Domino di Langit Indonesia
- 08 Sep 2026 15:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Soekarno-Hatta kembali beroperasi setelah penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- Keselamatan penerbangan menjadi prioritas, dengan pemeriksaan runway, pesawat, serta pemantauan pergerakan abu vulkanik.
- Gangguan penerbangan berdampak luas, mulai dari ribuan penerbangan dan penumpang hingga arus logistik melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Bandara Soekarno-Hatta tidak hanya menjadi simpul perjalanan penumpang. Bandara tersebut juga memiliki peran penting dalam pengiriman barang bernilai tinggi dan komoditas yang membutuhkan waktu pengiriman cepat.
Supply Chain Indonesia mencermati potensi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap aktivitas logistik nasional. Gangguan penerbangan dapat menyebabkan perubahan jadwal, pengalihan penerbangan, hingga penumpukan kargo.
“Penutupan ruang udara, pembatalan atau pengalihan penerbangan dan perubahan jadwal, dapat menyebabkan penumpukan kargo. Sehingga dapat berdampak pada kegiatan produksi dan perdagangan,” kata CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi dalam keterangan tertulisnya, Senin 7 September 2026.
Data Supply Chain Indonesia menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan yang menggunakan Bandara Soekarno-Hatta. Pada 2025, nilai ekspor nonmigas melalui Soetta mencapai 9,90 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 20,77 miliar dolar AS.
Dengan nilai tersebut, arus perdagangan bruto melalui Soetta mencapai sekitar 30,67 miliar dolar AS per tahun. Nilainya setara dengan rata-rata sekitar 84,03 juta dolar AS setiap hari.
Gangguan penerbangan selama delapan jam diperkirakan berpotensi menunda arus ekspor dan impor sekitar 28 juta dolar AS. Sementara gangguan selama 48 jam berpotensi meningkatkan nilai barang yang tertunda menjadi sekitar 168 juta dolar AS.
“Perhitungan tersebut hanya mencakup perdagangan internasional melalui Soekarno–Hatta, belum termasuk pengiriman domestik. Perhitungannya bukan estimasi kerugian langsung,” ujar Setijadi.
Potensi dampak tersebut juga bergantung pada pembatalan penerbangan, pengalihan kargo, karakteristik komoditas, serta kecepatan pemulihan operasional. Karena itu, penanganan gangguan penerbangan perlu memperhitungkan rantai pasok secara lebih luas.
Barang mudah rusak, produk farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres membutuhkan penanganan khusus. Pengalihan melalui moda darat, kereta api, laut, atau jaringan multimoda dapat menjadi pilihan ketika penerbangan terganggu.
“Barang mudah rusak, produk farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres perlu mendapatkan prioritas. Pengiriman domestik dapat dialihkan ke moda darat, kereta api, laut, atau jaringan multimoda,” kata Setijadi.
Besarnya dampak tersebut membuat pemulihan operasional Soekarno-Hatta harus dilakukan secara hati-hati. Pemerintah perlu memastikan kondisi udara benar-benar aman sebelum kembali membuka seluruh aktivitas penerbangan.
|
Selanjutnya,
Dari Paper Test hingga Soetta Kembali Beroperasi
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....