Ceuta: Ribuan Migran, Krisis Kemanusiaan dan Ketegangan Politik

  • 04 Agt 2026 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ratusan migran dari Maroko berhasil menyeberangi Selat Mediterania dan tiba di pantai El Tarajal, Ceuta, dalam kondisi kelelahan dan memprihatinkan.
  • Ceuta, sebuah enklave Spanyol di Afrika Utara, telah berubah dari sekadar gerbang transisi menjadi titik krisis kemanusiaan yang serius dalam beberapa hari terakhir.
  • Para migran, banyak di antaranya membawa anak-anak, menghadapi tantangan hidup yang ekstrem termasuk kelaparan, kelelahan, dan paparan cuaca ekstrem di pantai.

Pemerintah Spanyol memperkirakan sekitar 69.500 migran telah kembali ke Maroko dalam empat hari setelah kedatangan massal tersebut. Jumlah tersebut melebihi perkiraan awal sekitar 50.000 orang yang tiba di Ceuta, dilansir dari Reuters.

Banyak migran memilih kembali karena kesulitan memperoleh makanan setelah sejumlah toko tutup. Para migran juga menghadapi penolakan dari sebagian warga lokal, serta tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol.

Pemimpin Ceuta, Juan Jesús Vivas, mengatakan sekitar 3.000 hingga 5.000 migran masih berada di wilayah tersebut. Ia menyebut dua pusat penerimaan migran, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak, telah mengalami kelebihan kapasitas.

Pemerintah setempat juga menangani ratusan anak migran yang mendapatkan perlindungan hukum khusus sehingga tidak dapat langsung dideportasi. Ratusan anak migran tanpa pendamping masih terlantar di Ceuta, dilansir dari Al Jazeera.

Sebagian anak migran mengalami trauma setelah menyaksikan anggota keluarga mereka meninggal dalam perjalanan melalui Laut Mediterania. Dari sekitar 60.000 migran yang tiba di Ceuta, diperkirakan 3.000 hingga 5.000 orang masih bertahan karena berhasil menghindari pengusiran.

Di antara mereka terdapat lebih dari 800 anak migran tanpa pendamping yang kini menghadapi masa depan tidak pasti. Berdasarkan hukum Spanyol, anak migran tanpa pendamping wajib mendapatkan perlindungan khusus dari pemerintah.

Undang-undang Spanyol mengatur bahwa anak-anak dan remaja yang datang tanpa pendamping orang dewasa harus mendapatkan perlindungan khusus dari pemerintah. Mereka juga wajib menerima penanganan segera dari layanan perlindungan anak.

Selain itu, sejumlah migran dari negara lain masih berada di Ceuta setelah gelombang penyeberangan tersebut. Mereka termasuk warga Sudan yang melarikan diri dari konflik, warga Palestina dari Gaza, warga Afghanistan, serta masyarakat dari beberapa negara Afrika.

Pusat penerimaan migran di Ceuta yang memiliki kapasitas sekitar 600 orang telah penuh. Kondisi tersebut membuat banyak migran kesulitan mendapatkan tempat tinggal dan makanan.

Sebagian dari mereka terpaksa tidur di luar ruangan, di pantai, atau di kawasan perbukitan sekitar Ceuta. Para migran tersebut masih bertahan dengan harapan dapat melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Eropa yang terlihat di seberang laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....