Ceuta: Ribuan Migran, Krisis Kemanusiaan dan Ketegangan Politik

  • 04 Agt 2026 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ratusan migran dari Maroko berhasil menyeberangi Selat Mediterania dan tiba di pantai El Tarajal, Ceuta, dalam kondisi kelelahan dan memprihatinkan.
  • Ceuta, sebuah enklave Spanyol di Afrika Utara, telah berubah dari sekadar gerbang transisi menjadi titik krisis kemanusiaan yang serius dalam beberapa hari terakhir.
  • Para migran, banyak di antaranya membawa anak-anak, menghadapi tantangan hidup yang ekstrem termasuk kelaparan, kelelahan, dan paparan cuaca ekstrem di pantai.

DI bibir pantai El Tarajal, Ceuta, ratusan orang duduk berdesakan di atas bebatuan. Sebagian hanya membawa pakaian yang melekat di badan, sebagian lain memeluk anak-anak mereka yang kelelahan setelah berenang menyeberangi laut dari Maroko.

Bagi mereka, Ceuta bukanlah tujuan akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang dianggap lebih baik di Eropa. Namun dalam beberapa hari terakhir, gerbang itu justru berubah menjadi titik krisis kemanusiaan.

Gelombang migran yang masuk ke Ceuta sejak akhir Juli menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara tersebut. Puluhan ribu orang menyeberang melalui laut maupun perbatasan darat hanya dalam hitungan hari.

Sebagian besar kemudian kembali ke Maroko, baik secara sukarela maupun setelah dipulangkan. Namun, ribuan lainnya masih bertahan di Ceuta, membuat fasilitas penampungan kewalahan.

Hingga awal Agustus, diperkirakan sekitar 3.000–5.000 migran masih berada di wilayah itu. Sementara itu, sedikitnya 83 orang dilaporkan meninggal selama krisis berlangsung, dilansir dari Al Jazeera, Selasa 4 Agustus 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....