Ceuta: Ribuan Migran, Krisis Kemanusiaan dan Ketegangan Politik
- 04 Agt 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ratusan migran dari Maroko berhasil menyeberangi Selat Mediterania dan tiba di pantai El Tarajal, Ceuta, dalam kondisi kelelahan dan memprihatinkan.
- Ceuta, sebuah enklave Spanyol di Afrika Utara, telah berubah dari sekadar gerbang transisi menjadi titik krisis kemanusiaan yang serius dalam beberapa hari terakhir.
- Para migran, banyak di antaranya membawa anak-anak, menghadapi tantangan hidup yang ekstrem termasuk kelaparan, kelelahan, dan paparan cuaca ekstrem di pantai.
Ceuta merupakan salah satu dari dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara, bersama Melilla. Meski berada di pesisir Maroko, Ceuta adalah bagian dari Spanyol sekaligus wilayah Uni Eropa.
Status ttersebut yang menjadikan Ceuta satu-satunya pintu masuk darat menuju Uni Eropa dari benua Afrika. Secara geografis, Ceuta hanya seluas sekitar 18 kilometer persegi.
Namun, posisinya yang strategis membuat kota ini selama puluhan tahun menjadi magnet bagi migran dari Maroko maupun Afrika Sub-Sahara yang ingin mencapai Eropa.
Ceuta menjadi pusat perhatian setelah sekitar 50.000 orang mencoba menyeberang dari Maroko menuju wilayah tersebut dalam situasi yang kacau. Peristiwa itu memicu krisis kemanusiaan karena jumlah pendatang yang tiba mencapai lebih dari dua pertiga jumlah penduduk Ceuta.
Wilayah ini bersama Melilla menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika. Meski berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580, Maroko tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai wilayah Spanyol.
Melansir dari The Guardian, Ceuta menjadi salah satu tujuan utama migran karena dianggap sebagai pintu masuk menuju Eropa. Banyak orang datang untuk mencari peluang ekonomi yang lebih baik atau melarikan diri dari konflik dan kekerasan di negara asal mereka.
Para migran biasanya mencoba mencapai Ceuta dengan berenang dari kota Fnideq atau Belyounech di Maroko. Upaya penyeberangan menuju Ceuta dan Melilla bukanlah hal baru.
Pada 2022, sebanyak 23 orang meninggal saat sekitar 2.000 migran mencoba memasuki Melilla dari Maroko. Sebelumnya pada 2014, sedikitnya 14 orang juga tewas dalam usaha memasuki Ceuta melalui pagar perbatasan atau jalur laut.
|
Selanjutnya,
Kronologi Gelombang Migrasi Ceuta
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....