Transformasi Hijau Jadi Kunci Daya Saing IKM di Pasar Global
- 26 Jul 2026 13:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Transformasi hijau menjadi kebutuhan strategis bagi IKM untuk mempertahankan daya saing di pasar global menurut Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita.
- Standar keberlanjutan internasional mengubah cara pelaku usaha membangun daya saing produk mereka di pasar global.
- Proses produksi yang ramah lingkungan kini menjadi faktor penentu utama penerimaan produk di pasar global, menggantikan fokus sebelumnya pada kualitas dan efisiensi biaya.
Sekditjen IKMA Kemenperin Yedi Sabaryadi menjelaskan Program Pemberdayaan IKM Hijau tidak berhenti pada penyusunan pedoman. Pemerintah juga menyiapkan mekanisme pendampingan agar pelaku usaha mampu menerapkan aktivitas hijau secara bertahap.
"Program Pemberdayaan IKM dilaksanakan dalam dua tahap dengan masing-masing tahap berlangsung selama tiga sampai empat bulan. Tahap pertama membekali IKM mengenai prinsip hijau, pendampingan, penguatan kemampuan digital, serta pemilihan role model IKM," ujar Yedi.
Menurut Yedi, tahap kedua difokuskan pada penguatan aspek manajemen agar pelaku IKM mampu mengungkapkan praktik hijau yang berkelanjutan. Peserta juga dipandu menyusun laporan keberlanjutan sesuai dengan karakteristik usahanya masing-masing.
"Tahap kedua merupakan tahap manajemen lanjutan yang membekali IKM dengan pengetahuan dasar dan kemampuan mengungkapkan praktik hijau berkelanjutan. IKM juga dipandu menyusun dan membuat laporan keberlanjutan sesuai karakteristik usaha masing-masing," kata Yedi.
Yedi menilai perkembangan kebijakan, teknologi, standar keberlanjutan, serta kebutuhan dunia usaha akan terus berubah. Karena itu, pemerintah merancang Program Pemberdayaan IKM Hijau agar disempurnakan melalui masukan, evaluasi, dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
"Kami menyadari bahwa perkembangan kebijakan, teknologi, standar keberlanjutan, maupun kebutuhan dunia usaha akan terus berkembang. Oleh karena itu Program Pemberdayaan IKM Hijau dirancang adaptif melalui masukan evaluasi serta kolaborasi pemangku kepentingan," ucap Yedi.
Menurut Yedi, optimalisasi Program Pemberdayaan IKM Hijau memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Keterlibatan pemerintah daerah, perguruan tinggi, asosiasi industri, dunia usaha, lembaga pembiayaan diharapkan memperkuat transformasi IKM menuju industri hijau.
"Kami membuka kolaborasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, asosiasi industri, dunia usaha, lembaga pembiayaan, organisasi profesi. Kolaborasi tersebut diharapkan mengoptimalkan pelaksanaan Program Pemberdayaan IKM Hijau dalam mendorong transformasi IKM," ujar Yedi.
Kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat skala IKM di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data, jumlah IKM mencapai sekitar 4,45 juta unit usaha atau 99,7 persen dari seluruh unit usaha industri nasional.
Besarnya populasi IKM juga berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja nasional. Data menunjukkan sektor tersebut mempekerjakan sekitar 13,07 juta tenaga kerja hingga Februari 2026 berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional.
Yedi berharap Program Pemberdayaan IKM Hijau meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam menerapkan praktik produksi yang efisien dan ramah lingkungan. Upaya tersebut diharapkan memperkuat daya saing produk IKM di pasar nasional maupun global.
"Keberhasilan program ini tentunya sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak, khususnya para pelaku IKM sebagai aktor utama transformasi. Kami berharap program ini dapat meningkatkan kapasitas, menerapkan praktik produksi, memperkuat daya saing produk IKM," kata Yedi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....