Sebanyak 28.478 Siswa Baru Ditetapkan Masuk Sekolah Rakyat

  • 14 Jul 2026 23:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Jumlah peserta didik masih berpotensi bertambah seiring proses verifikasi dan penetapan pemerintah daerah
  • Sekolah Rakyat menerapkan sistem penjangkauan aktif, bukan pendaftaran terbuka, bagi keluarga Desil 1 dan Desil 2 DTSEN
  • Total peserta didik Sekolah Rakyat kini mencapai 43.346 siswa yang tersebar dalam 1.550 rombongan belajar
  • Kemensos menyebut pembentukan rombongan belajar jenjang SD lebih menantang karena orang tua masih ragu melepas anak tinggal di asrama
  • Kemensos menetapkan 28.478 siswa baru sebagai peserta didik Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027

RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Sosial menetapkan 28.478 siswa baru sebagai peserta didik Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring proses verifikasi, penetapan pemerintah daerah, serta kesiapan sarana dan prasarana di setiap satuan pendidikan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan data jumlah peserta didik masih bersifat dinamis. Penambahan siswa baru masih dimungkinkan setelah seluruh tahapan verifikasi dan penetapan di daerah selesai dilakukan.

"Data terus bergerak. Apa yang kami sampaikan hari ini adalah data per hari ini dan masih dimungkinkan bertambah seiring hasil verifikasi dan penetapan bersama pemerintah daerah," kata Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Senin 13 Juli 2026.

Gus Ipul menjelaskan Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran seperti sekolah pada umumnya. Pemerintah menerapkan mekanisme penjangkauan aktif terhadap anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Menurutnya, proses penjangkauan dilakukan oleh pendamping sosial bersama pemerintah daerah dan Badan Pusat Statistik (BPS). Setelah melalui pleno daerah dan ditetapkan kepala daerah, nama calon peserta didik disahkan sebagai siswa Sekolah Rakyat.

"Sekolah Rakyat tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan. Penjangkauan dilakukan oleh para pendamping sosial di daerah bekerja sama dengan pemerintah daerah dan BPS," ucapnya.

Ia mengatakan hingga saat ini sebanyak 28.478 siswa baru telah ditetapkan. Jika digabungkan dengan siswa angkatan sebelumnya, total peserta didik Sekolah Rakyat kini mencapai 43.346 siswa.

Jumlah tersebut tersebar dalam 1.550 rombongan belajar di berbagai daerah. Pemerintah memperkirakan angka tersebut masih bertambah mengikuti kesiapan sekolah dan penetapan pemerintah daerah.

"Per hari ini ada 28.478 siswa baru dan akan terus bertambah seiring penetapan dari pemerintah daerah serta menyesuaikan kesiapan sarana dan prasarana. Jika ditambah siswa existing, secara keseluruhan terdapat 43.346 siswa dengan 1.550 rombongan belajar," ucap Gus Ipul.

Kemensos mencatat siswa baru jenjang Sekolah Dasar mencapai 6.305 orang yang terbagi dalam 210 rombongan belajar. Jenjang Sekolah Menengah Pertama berjumlah 11.186 siswa dalam 373 rombongan belajar, sedangkan Sekolah Menengah Atas sebanyak 11.077 siswa dalam 369 rombongan belajar.

Gus Ipul mengakui pembentukan rombongan belajar pada jenjang SD berjalan lebih lambat dibandingkan SMP dan SMA. Kondisi tersebut dipengaruhi kesiapan orang tua melepas anak usia dini untuk tinggal di asrama.

"Pada jenjang SD tantangan pembentukan rombel memang lebih besar. Di usia inilah orang tua kerap belum siap melepas anak tinggal jauh di asrama sehingga proses pendekatan dan meyakinkan keluarga membutuhkan waktu serta pendampingan yang lebih panjang," katanya.

Ia menegaskan seluruh peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang masuk Desil 1 dan Desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Karena itu, proses penerimaan tidak menggunakan tes akademik.

Seleksi dilakukan berdasarkan kondisi sosial ekonomi keluarga yang telah diverifikasi pemerintah. Setelah diterima, para siswa akan mengikuti proses adaptasi sebelum memulai kegiatan belajar.

"Basisnya adalah DTSEN, yaitu keluarga pada Desil 1 dan Desil 2 yang secara sosial ekonomi berada pada kondisi paling bawah atau prasejahtera. Karena tidak menggunakan tes akademik, maka diperlukan proses adaptasi agar mereka siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat," kata Gus Ipul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....