B50 Solar dan Eksistensi Kelapa Sawit

  • 10 Jul 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50.
  • Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri, ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi
  • Minyak sawit harus dilakukan tata kelola alokasi penggunaannya dengan sejumlah sektor bidang lainnya. Sebab jika pemanfaatan hanya difokuskan untuk B50, akan memberikan dampak pada sektor bidang lain yang menggunakan sawit.

Lebih lanjut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut bahwa berdasarkan hasil uji coba, B50 memiliki sejumlah dampak positif. Seperti dicontohkannya, dampak positif penggunaan B50 terhadap kendaraan angkutan berat, yang memakai BBM solar.

Ia menyebut bahwa uji coba telah dilakukan selama enam bulan, terhadap seluruh jenis kendaraan berat. Dari hasil uji coba tersebut, Bahlil menuturkan terdapat kepraktisan dalam perawatan kendaraan dengan penggunaan B50.

"Jadi kereta api, mobil—mobil bus, tidak hanya Toyota, Mercedes pun (diuji coba), dari Asia sampai Eropa semuanya kita tes. Kalau B40, itu filternya itu diganti pada ukuran 10.000 sampai dengan 20.000 kilometer, nah untuk B50 ada yang 40.000 Km belum diganti filternya," ujar Bahlil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, saat menyampaikan laporan peluncuran B50 dalam peluncuran Biodiesel B50 bertajuk "Langkah Nyata untuk Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional" di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Kamis 9 Juli 2026 (Foto: Tangkap Layar YouTube Sekretariat Presiden)

Selain itu, Menteri ESDM menuturkan bahwa penerapan B50 juga bertampak positif terhadap sejumlah sektor bidang lainnya. B50 berbahan baku minyak sawit ini dijelaskannya, meningkatkan kebutuhan Crude Palm Oil (CPO) dalam negeri.

Bila sebelum B50 diremikan, kebutuhan sawit nasional dijelaskan Bahlil, hanya mencapai 15,2 juta ton. Sementara itu dikatakan Bahlil, dengan B50 ini maka para petani sawit akan mendapatkan kepastian pasar dalam negeri.

"Kami juga melaporkan bahwa B50 ini meningkatkan kebutuhan CPO kita dari 15,2 juta menjadi 16,3 juta sampai dengan 17 juta ton. Meningkatkan nilai tambah industri CPO dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada program B40, menjadi 2,1 juta tenaga kerja dengan B50," katanya.

Selanjutnya, Kewaspadaan B50
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....