B50 Solar dan Eksistensi Kelapa Sawit

  • 10 Jul 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50.
  • Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri, ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi
  • Minyak sawit harus dilakukan tata kelola alokasi penggunaannya dengan sejumlah sektor bidang lainnya. Sebab jika pemanfaatan hanya difokuskan untuk B50, akan memberikan dampak pada sektor bidang lain yang menggunakan sawit.

INDONESIA resmi menerapkan campuran minyak sawit sebanyak 50 persen untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar (B50). Hal ini tertuang dalam peluncuran mandatory B50 yang diresmikan langsung Presiden Prabowo Subianto, di Karawang, Jawa Barat.

Kepala Negara menilai, keberhasilan dalam penerapan B50 ini merupakan awal yang baik untuk kemandirian energi. Dengan demikian Presiden Prabowo menuturkan, kekayaan alam bangsa Indonesia ini, dapat memberikan dampak oisitif terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Biodiesel B50 bertajuk "Langkah Nyata untuk Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional" di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada Kamis 9 Juli 2026 (Foto: BPMI Setpres)

"Dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50. Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri, ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," kata Presiden Prabowo dalam peluncuran mandatory B50, Kamis 9 Juli 2026.

Presiden menyatakan, capaian kemandirian energi melalui B50 menunjukan kemampuan Indonesia dalam kedaulatan bangsa. Sebab ditekankan Kepala Negara, keterpenuhan energi menjadi salah satu faktor penting dalam kedaulatan bangsa.

"Pertama, mampukah bangsa itu menghasilkan pangannya untuk rakyat. Kedua, mampukah bangsa itu memiliki sumber energi sendiri? Tidak tergantung bangsa lain, ketiga, mampukah negara itu juga memiliki sumber air?. Hampir semua pakar peradaban manusia sadar dan mengerti, tanpa tiga-tiga ini, suatu bangsa sulit untuk survive," ujar Kepala Negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....