Piala Dunia 2026 Tak Sekedar Menghibur, tapi juga Gerakkan UMKM

  • 02 Jul 2026 02:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penyelenggaraan nonton bareng Piala Dunia 2026 menjadi penggerak ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas UMKM, dukungan pemerintah, dan kolaborasi berbagai pihak
  • Antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia meningkatkan omzet pelaku usaha, mulai dari pedagang kuliner, penjual jersey, hingga pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah
  • Pemerintah, TVRI, DPR, pemerintah daerah, dan sektor swasta melihat momentum Piala Dunia sebagai peluang memperkuat ekonomi rakyat melalui kolaborasi yang berkelanjutan

Dampak ekonomi dari penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya dirasakan lokasi penyelenggaraan nobar. Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di pusat perdagangan juga mulai menikmati meningkatnya minat masyarakat terhadap atribut sepak bola.

Salah satunya dirasakan Arif, penjual jersey di Tanah Abang yang mengaku penjualannya meningkat signifikan sejak turnamen berlangsung. Ia mengatakan, kondisi penjualan yang sebelumnya cenderung sepi kini mulai ramai sejak bergulirnya Piala Dunia 2026.

Selain itu, lanjut dia, meningkatnya minat masyarakat terhadap jersey tim peserta turnamen turut mendorong kenaikan permintaan di tokonya. "Sejak piala dunia ini ya semakin tinggi jualannya, makin melonjak drastis begitu dari hari-hari biasanya gitu," kata Arif kepada RRI.CO.ID di Blok B Tanah Abang Jakarta Pusat, Selasa 16 Juni 2026.

Arif menyebut peningkatan omzet yang diperolehnya mencapai lebih dari 50 persen. Kenaikan tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum berlangsungnya ajang sepak bola terbesar di dunia itu.

"Peningkatannya bisa lebih dari 50 persen gitu. Dari yang tadinya cuma 10 persen jadi 50 persen ke atas, jadi bisa langsung melonjak tinggi gitu," ujarnya.

Ia mengatakan, jersey tim nasional Brasil, Belanda, Argentina, dan Spanyol menjadi produk yang paling banyak dicari pembeli. Menurutnya, keempat negara tersebut mendominasi permintaan selama Piala Dunia berlangsung.

Untuk harga, Arif menjual jersey dengan kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per potong. Ia menilai harga dapat dipengaruhi oleh popularitas dan performa tim yang bersangkutan.

Penjual jersey ini juga menunjukan Piala Dunia 2026 memberikan pengaruh besar terhadap penjualan jersey. “Piala Dunia ini berpengaruh besar banget, sebelumnya itu kayak jersey club saja begitu,” kata Arif.

Arif mengatakan, penjualan jersey yang dijalankannya masih mengandalkan transaksi langsung di toko. Hingga kini, ia belum memasarkan produknya melalui platform marketplace dalam pemasaran produknya.

Hal serupa juga disampaikan Putri, penjual jersey di kawasan Tanah Abang. Menurutnya, permintaan jersey peserta Piala Dunia sempat meningkat menjelang turnamen, meski saat ini kondisi kembali sepi setelah stok habis.

Putri mengatakan, seluruh persediaan jersey yang dimiliki sebelumnya terjual dalam waktu singkat. Bahkan, stok yang tersedia dapat habis hanya dalam satu hari dan hingga kini pihaknya masih menunggu pasokan baru.

“Kalau ada bajunya pasti rame ya, tapi sekarang lagi kosong, jadi sepi. Belum ready lagi,” ucap Putri.

Meningkatnya penjualan jersey menunjukkan euforia Piala Dunia mampu menciptakan peluang usaha baru. Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang makanan, tetapi juga pelaku usaha fesyen olahraga.

Fenomena tersebut memperlihatkan olahraga mampu menggerakkan sektor perdagangan secara lebih luas. Pemerintah pun melihat momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi kreatif nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....