Piala Dunia 2026 Tak Sekedar Menghibur, tapi juga Gerakkan UMKM

  • 02 Jul 2026 02:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penyelenggaraan nonton bareng Piala Dunia 2026 menjadi penggerak ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas UMKM, dukungan pemerintah, dan kolaborasi berbagai pihak
  • Antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia meningkatkan omzet pelaku usaha, mulai dari pedagang kuliner, penjual jersey, hingga pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah
  • Pemerintah, TVRI, DPR, pemerintah daerah, dan sektor swasta melihat momentum Piala Dunia sebagai peluang memperkuat ekonomi rakyat melalui kolaborasi yang berkelanjutan
Nobar Piala Dunia Sekaligus Penggerak Ekonomi Daerah

PIALA Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit antarnegara di lapangan hijau, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut menghadirkan peluang baru bagi pelaku usaha di berbagai daerah Indonesia.

Antusiasme masyarakat menyaksikan pertandingan melahirkan beragam aktivitas ekonomi yang terus tumbuh di berbagai wilayah. Kegiatan nonton bareng (nobar) menjadi ruang berkumpul sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.

Setiap pertandingan yang disaksikan bersama menghadirkan keramaian di berbagai lokasi penyelenggaraan nobar di seluruh Indonesia. Kondisi tersebut dimanfaatkan pelaku usaha untuk menjajakan makanan, minuman, hingga berbagai atribut bertema sepak bola.

Tidak hanya pedagang kuliner yang menikmati dampak positif dari meningkatnya antusiasme masyarakat selama Piala Dunia berlangsung. Penjual jersey, aksesori olahraga, hingga pelaku ekonomi kreatif juga merasakan peningkatan permintaan dari para pembeli.

Fenomena tersebut kemudian menarik perhatian pemerintah yang melihat besarnya potensi ekonomi di balik euforia masyarakat. Momentum Piala Dunia dinilai mampu mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah.

Dukungan pemerintah kemudian diwujudkan melalui kebijakan yang mendorong penyelenggaraan nobar secara lebih luas di daerah. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Sejumlah kementerian, pemerintah daerah, lembaga penyiaran, hingga pelaku usaha kemudian membangun kolaborasi untuk menyukseskan penyelenggaraan nobar. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat ekonomi sehingga dapat dirasakan masyarakat secara lebih merata.

Di sisi lain, pelaku UMKM mulai merasakan peningkatan omzet sejak turnamen bergulir dan menarik perhatian masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan olahraga tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian rakyat.

Meski demikian, besarnya manfaat ekonomi tersebut tidak muncul begitu saja selama Piala Dunia berlangsung. Berbagai pihak berperan menghadirkan ekosistem yang mampu menghubungkan euforia sepak bola dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

TVRI Membawa Euforia Piala Dunia Lebih Dekat dengan Masyarakat dan UMKM

Pemerintah melihat Piala Dunia 2026 sebagai momentum untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Kegiatan nobar dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi hingga tingkat daerah.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menerbitkan Surat Edaran (SE) kepada seluruh kepala daerah mengenai penyelenggaraan nobar. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui UMKM.

Melalui surat bernomor 400.2.7/4657/SJ tersebut, Mendagri mengimbau seluruh gubernur, bupati, dan wali kota mendukung penyelenggaraan nobar Piala Dunia 2026. Ia juga meminta kepala daerah menyiapkan lokasi-lokasi strategis serta ruang publik sebagai tempat pelaksanaan kegiatan tersebut.

"Saya sudah membuat surat edaran untuk menjadi landasan rekan-rekan kepala daerah untuk membuat kebijakan, membuat turunannya. Seperti edaran kepada camat, kepala desa untuk membuat nonton bareng, ini lumayan dari tanggal 11 Juni sampai 19 Juli," ujar Tito di Kangtor Kementerian Dalam Negeri Jakarta, Senin 15 Juni 2026.

Ia mengatakan kehadiran masyarakat di lokasi tersebut diharapkan memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan. Selain itu, Tito juga mengimbau Pemda untuk melakukan publikasi dan sosialisasi agar kegiatan nobar dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

"Ini momentum juga yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, membuat sistem ekonomi jadi bergerak. Kalau ada nobar otomatis masyarakat kumpul, di situ ada dorongan untuk UMKM bergerak," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto. Menurutnya, kegiatan nobar tidak hanya memperkuat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi.

Ia menilai pemerintah daerah perlu mengoptimalkan potensi ekonomi yang muncul selama turnamen berlangsung. Bima mengatakan UMKM menjadi kelompok yang paling berpeluang memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya aktivitas masyarakat.

“Inikan bukan saja kemudian menyatukan anak-anak muda dalam satu forum-forum yang santai, tetapi juga menggairahkan perekonomian, targetnya ke sana,” ujarnya.

Wammendagri ini juga mengungkapkan, kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai pemerintah daerah. Sejumlah daerah mulai menyiapkan lokasi nobar yang melibatkan pelaku usaha lokal sebagai bagian kegiatan.

Antusiasme daerah menyambut kebijakan tersebut kemudian direspons berbagai lembaga. Salah satunya melalui penyelenggaraan nobar berskala nasional yang melibatkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai pemegang hak siar.

Momentum tersebut membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk menyaksikan pertandingan bersama. Semakin banyak titik nobar diselenggarakan, semakin luas pula peluang ekonomi yang tercipta.

Penjual Jersey Ikut Panen Rezeki Saat Piala Dunia Bergulir

Sebagai pemegang hak siar free to air Piala Dunia 2026, TVRI menyiapkan penyelenggaraan nobar di berbagai daerah. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat menikmati pertandingan secara bersama-sama.

Direktur Utama TVRI, Tubagus Fiki Chikara Satari, mengatakan TVRI tidak hanya berfokus menghadirkan siaran berkualitas bagi masyarakat. TVRI juga menyiapkan sistem pemantauan untuk mengukur dampak ekonomi selama penyelenggaraan Piala Dunia.

“Tentunya ini sangat menggembirakan dan membuat kami lebih optimis karena TVRI tidak hanya menyiarkan Piala Dunia. Tapi juga ingin menghadirkan ruang kebersamaan masyarakat yang dapat menggerakkan ekonomi lokal,” kata Fiki usai audiensi di Mabes Polri Jakarta, Rabu 10 Juni 2026.

Dukungan juga datang dari kalangan media melalui berbagai bentuk kolaborasi. CEO Bisnis Indonesia Group, Arif Budisusilo, menilai Piala Dunia menjadi momentum yang mampu menyatukan masyarakat sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi.

“Kerja sama ini diharapkan mampu menghadapi tantangan disrupsi media. Sekaligus menghidupkan kembali gairah ekonomi di tingkat akar rumput,” kata Arif.

Dengan semakin banyaknya titik nobar diselenggarakan, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi masyarakat. Kehadiran ribuan penonton membuka peluang usaha bagi pedagang makanan, minuman, hingga penjual berbagai atribut sepak bola.

Manfaat ekonomi tersebut mulai terlihat tidak hanya di lokasi penyelenggaraan nobar. Para pedagang jersey di pusat perdagangan juga mulai merasakan peningkatan permintaan sejak Piala Dunia bergulir.

Pemerintah Optimistis Piala Dunia Menggerakkan Ekonomi Kreatif dan UMKM

Dampak ekonomi dari penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya dirasakan lokasi penyelenggaraan nobar. Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di pusat perdagangan juga mulai menikmati meningkatnya minat masyarakat terhadap atribut sepak bola.

Salah satunya dirasakan Arif, penjual jersey di Tanah Abang yang mengaku penjualannya meningkat signifikan sejak turnamen berlangsung. Ia mengatakan, kondisi penjualan yang sebelumnya cenderung sepi kini mulai ramai sejak bergulirnya Piala Dunia 2026.

Selain itu, lanjut dia, meningkatnya minat masyarakat terhadap jersey tim peserta turnamen turut mendorong kenaikan permintaan di tokonya. "Sejak piala dunia ini ya semakin tinggi jualannya, makin melonjak drastis begitu dari hari-hari biasanya gitu," kata Arif kepada RRI.CO.ID di Blok B Tanah Abang Jakarta Pusat, Selasa 16 Juni 2026.

Arif menyebut peningkatan omzet yang diperolehnya mencapai lebih dari 50 persen. Kenaikan tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum berlangsungnya ajang sepak bola terbesar di dunia itu.

"Peningkatannya bisa lebih dari 50 persen gitu. Dari yang tadinya cuma 10 persen jadi 50 persen ke atas, jadi bisa langsung melonjak tinggi gitu," ujarnya.

Ia mengatakan, jersey tim nasional Brasil, Belanda, Argentina, dan Spanyol menjadi produk yang paling banyak dicari pembeli. Menurutnya, keempat negara tersebut mendominasi permintaan selama Piala Dunia berlangsung.

Untuk harga, Arif menjual jersey dengan kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per potong. Ia menilai harga dapat dipengaruhi oleh popularitas dan performa tim yang bersangkutan.

Penjual jersey ini juga menunjukan Piala Dunia 2026 memberikan pengaruh besar terhadap penjualan jersey. “Piala Dunia ini berpengaruh besar banget, sebelumnya itu kayak jersey club saja begitu,” kata Arif.

Arif mengatakan, penjualan jersey yang dijalankannya masih mengandalkan transaksi langsung di toko. Hingga kini, ia belum memasarkan produknya melalui platform marketplace dalam pemasaran produknya.

Hal serupa juga disampaikan Putri, penjual jersey di kawasan Tanah Abang. Menurutnya, permintaan jersey peserta Piala Dunia sempat meningkat menjelang turnamen, meski saat ini kondisi kembali sepi setelah stok habis.

Putri mengatakan, seluruh persediaan jersey yang dimiliki sebelumnya terjual dalam waktu singkat. Bahkan, stok yang tersedia dapat habis hanya dalam satu hari dan hingga kini pihaknya masih menunggu pasokan baru.

“Kalau ada bajunya pasti rame ya, tapi sekarang lagi kosong, jadi sepi. Belum ready lagi,” ucap Putri.

Meningkatnya penjualan jersey menunjukkan euforia Piala Dunia mampu menciptakan peluang usaha baru. Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang makanan, tetapi juga pelaku usaha fesyen olahraga.

Fenomena tersebut memperlihatkan olahraga mampu menggerakkan sektor perdagangan secara lebih luas. Pemerintah pun melihat momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi kreatif nasional.

DPR Yakin Nobar Menjadi Ruang Kebersamaan dan Penguatan UMKM

Pemerintah menilai penyelenggaraan Piala Dunia memiliki dampak ekonomi yang melampaui sektor olahraga. Euforia masyarakat dinilai mampu menghidupkan berbagai subsektor ekonomi kreatif di Indonesia.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menyebut, antusiasme masyarakat terhadap turnamen ini dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan sektor ekonomi. Menurutnya, berbagai produk lokal dapat dipromosikan melalui aktivitas tersebut.

Ia menilai kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci memaksimalkan manfaat ekonomi Piala Dunia. Momentum tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing produk lokal.

“Kita berterima kasih kepada Bapak Presiden yang mengamanahkan TVRI dan RRI agar World Cup bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Kami dari Kementerian Ekonomi Kreatif juga melihat ini mendukung perekonomian dan para pegiat ekonomi kreatif di berbagai daerah,” ucapnya kepada RRI.CO.ID, di Kompleks Parlemen Jakarta, Senin 15 Juni 2026

Senada dengan itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan juga melihat kegiatan nobar memberi ruang bagi pelaku UMKM. Menurutnya, kehadiran masyarakat di satu lokasi dinilai mampu meningkatkan transaksi ekonomi.

Ia mengatakan semakin banyak masyarakat mengikuti kegiatan nobar, semakin besar pula peluang yang diperoleh pelaku usaha. "Ini (Piala Dunia) akan memberikan dampak ekonomi terutama UMKM yang luar biasa," kata Menko Pangan tersebut.

Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga menunjukkan Piala Dunia menghadirkan manfaat lebih luas. Namun, dukungan terhadap UMKM juga membutuhkan peran berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Peran tersebut kemudian mendapat perhatian DPR RI yang mendorong penyelenggaraan nobar menjadi ruang kebersamaan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Pandangan tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat ekonomi Piala Dunia.

Probolinggo Menjadi Contoh Dampak Nyata Nobar bagi UMKM

Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai momentum Piala Dunia perlu dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, penyelenggaraan nobar dapat menggerakkan pelaku usaha lokal apabila melibatkan UMKM di setiap lokasi kegiatan.

Saleh mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan masyarakat. Ia juga menyebut kegiatan nobar mampu membuka peluang promosi bagi berbagai produk usaha mikro dan ekonomi kreatif daerah.

"Momentum Piala Dunia ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Setiap kegiatan nonton bareng dapat melibatkan pedagang makanan, minuman, dan berbagai usaha kecil lainnya," ucap legislator fraksi Golkar tersebut.

Selain itu, pihaknya juga mendorong keterlibatan sponsor maupun pihak yang memiliki kemampuan lebih untuk ikut memeriahkan penyelenggaraan nobar. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pemberian hadiah, jersey, bola, maupun bentuk bantuan lainnya dengan tetap mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.

"Apabila ada sponsor atau pihak yang memiliki kemampuan lebih, mereka dapat turut berpartisipasi untuk memeriahkan kegiatan nonton bareng. Misalnya dengan menyediakan hadiah, kaus bola, atau bentuk dukungan lainnya," katanya.

Dukungan tersebut mulai terlihat dari berbagai daerah yang menggelar nobar bersama masyarakat. Salah satunya dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo dengan melibatkan pelaku UMKM dalam setiap kegiatan.

Kolaborasi jadi Kunci Mengubah Euforia Piala Dunia Menjadi Kekuatan Ekonomi

Pemerintah Kota Probolinggo menjadi salah satu daerah yang memanfaatkan euforia Piala Dunia. Penyelenggaraan nobar dilakukan dengan melibatkan pelaku UMKM di sekitar lokasi kegiatan.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengatakan kegiatan nobar tidak hanya menjadi hiburan masyarakat. Menurutnya, aktivitas tersebut juga mampu menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar.

"Kita berupaya melaksanakan imbauan Kementerian Dalam Negeri untuk sebanyak mungkin menggelar nobar Piala Dunia. Harapannya, nanti UMKM juga bisa merasakan manfaatnya dari gelaran nobar ini, sehingga perekonomian lokal bisa berputar," katanya.

Pemerintah Kota Probolinggo berencana terus menggelar nobar selama ajang Piala Dunia 2026 masih berlangsung. Jadwal penyelenggaraan akan disesuaikan dengan pertandingan yang digelar sepanjang turnamen internasional tersebut.

Selain memperkuat kebersamaan masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi nobar. Pelaku UMKM lokal menjadi kelompok yang diproyeksikan memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya jumlah pengunjung.

Keberhasilan Probolinggo menggelar nobar menunjukkan dampak ekonomi Piala Dunia mulai dirasakan hingga tingkat daerah. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa olahraga mampu menjadi penggerak ekonomi ketika didukung kolaborasi berbagai pihak.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyambut baik penyelenggaraan nobar Piala Dunia 2026 di berbagai daerah. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun pihak swasta sebagai bentuk dukungan terhadap antusiasme masyarakat menyaksikan ajang sepak bola dunia.

"Kita monitor juga di beberapa daerah, banyak inisiatif nobar-nobar yang dilakukan oleh, ada oleh pemerintah daerah, oleh swasta. Saya kira ini juga sesuatu yang sangat positif dan sangat bagus," kata Prasetyo di Hambalang Jawa Barat, Jumat 19 Juni 2026.

Prasetyo berharap kegiatan tersebut bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat. "Kita berharap itu menumbuhkan kegiatan ekonomi riil di masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama TVRI Tubagus Fiki Chikara Satari menilai penyelenggaraan nobar menjadi bentuk pelayanan publik sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, semakin banyak titik penyelenggaraan, semakin luas pula manfaat yang dapat dirasakan pelaku usaha.

Potensi ekonomi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp2,34 triliun selama penyelenggaraan Piala Dunia. Perhitungan tersebut menunjukkan besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan berbagai daerah.

Keberhasilan memanfaatkan momentum tersebut bergantung pada kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah, media, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....