Menanti Pembenahan Latihan Dasar Militer Calon Manajer Kopdes

  • 28 Jun 2026 08:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lima orang peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan dan Kampung Nelayan Merah Putih meninggal karena sakit
  • Kementerian Pertahanan menegaskan latsarmil bukan meningkatkan kemampuan perang melainkan menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang nasionalisme
  • Pemerintah akan melakukan evaluasi Latihan Dasar Militer usai lima orang peserta meninggal
  • Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin meminta pendekatan militer untuk pelatihan manajemen calon manajer agar segera dihentikan

Kementerian Pertahanan menegaskan ada pemeriksaan kesehatan sebelum peserta mengikuti lantsarmil. Pemeriksaan tersebut meliputi laboratorium darah, urin, tes kehamilan, ronsen torak, EKG, USG, abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia memastikan pemeriksaan kesehatan peserta sesuai dengan prosedur (SOP). Kendati demikian, kondisi tubuh setiap peserta di lapangan berbeda-beda.

Ia mencontohkan pada pemeriksaan dinyatakan sehat namun kenyataannya terdeteksi penyakit di tubuh peserta. Padahal pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan ketat.

Ketut menyampaikan kronologi meninggalnya lima orang peserta latsarmil. Yonanda, mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan di Baturaja, Sumatra Selatan, Rabu 17 Juni 2026, pukul 16.00 WIB.

Yolanda dan peserta lainnya mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan dengan berjalan kaki. Satu jam kemudian, pelatih mendapati Yolanda mengalami penurunan kesadaran.

Tim kesatuan mengambil tindakan cepat dengan membawa Yolanda ke Kesehatan Satuan Pendidikan untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah dilakukan pemeriksaan, Yolanda dirujuk ke Rumah Sakit Noesmir Baturaja dan langsung mendapatkan penanganan medis.

“Meskipun telah dilakukan tindakan medis secara intensif, pada pukul 18.30 WIB, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia. Almarhum dengan diagnosis henti jantung,” katanya menjelaskan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia (Tengah) memberikan keterangan pers di Kementerian Pertahanan Jakarta, Sabtu 27 Juni 2026 (Foto: RRI/Bobby Sapulette)

Selanjutnya, Anisa Muyassaroh dan peserta lainnya mengikuti jadwal pendidikan pada Kamis 18 Juni 2026. Namun sebelum kegiatan, Anisa mengeluhkan sesak nafas disertai dengan mulai lalu dievakuasi ke pos kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan oleh dokter kesatuan.

Anisa dirujuk ke Rumah Sakit Dr. R Hardjanto, Balikpapan untuk mendapatkan penanganan medis. Kondisi Anisa semakin memburuk dan monitor elektrokardiogram (EKG) menunjukan Asistol, dan nyawa Anisa tidak dapat diselamatkan.

Berdasarkan keterangan medis, Anisa meninggal karena heat stroke atau serangan panas. Sementara itu, Novia Rahmadhani meninggal dunia karena Tuberculosis (TB), dan sebelumnya mengeluhkan kondisi kesehatan batuk berdahak, sesak nafas dan demam.

“Setelah dilakukan pemeriksaan awal, diberikan terapi, dan dipantau oleh tim kesehatan. Kesokan harinya, Selasa 23 Juni 2026, pukul 16.10 WIB, kondisi almarhumah semakin lemah sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Utama Dr. Esnawan Antariksa,” ujar Ketut menerangkan.

Dokter melakukan pemeriksaan termasuk rontgen dada atau foto thorax, dan didapati tuberculosis paru aktif lalu dirawat di ruang ICU isolasi. Kondisi pasien mengalami penurunan kesadaran dan tim medis melakukan upaya resusitasi jantung dan paru namun Novia mengembuskan nafas terakhir.

Sementara itu, Rifki Renaldi mendatangi ruang kesehatan dengan keluhan sesak nafas dan lemas pada Kamis 25 Juni 2026 pukul 14.30 WIB. Dokter memeriksa kondisi Rifki dan didapati masih stabil namun diberikan terapi oksigen.

Rifki sempat beristirahat dan kondisi sempat membaik, kemudian ia melanjutkan kegiatan. Namun pada sore hari, Rifki kembali mengeluhkan sesak nafas lalu dibawa ke ruang kesehatan.

Ketut menjelaskan Rifki dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr Esnawan Antariksa, kemudian dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Mulai pemeriksaan laboratorium, EKG, foto thorax, bantuan oksigen hingga dirawat di ICU.

Kendati mendapatkan tindakan medis, kesehatan Rifki semakin memburuk dan dinyatakan meninggal dunia pada Jumat 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB. Berdasarkan catatan medis, penyebab kematian terkait pernafasan dan komplikasi penyakit lainnya.

“Berdasarkan resume medis dan laporan khusus penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis. Dalam riwayat kesehatan juga terdapat informasi mengenai hipertensi dan obesitas yang menjadi bagian dari evaluasi medis,” kata Ketut.

Adapun peserta lainnya Nola Dya Sari, sempat mengikuti kegiatan belajar di kelas tanpa ada keluhan kesehatan. Namun pada sore, Nola menyampaikan keluhan sesak nafas disertai badan yang terasa panas, lalu dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang.

“Dalam proses penanganan terjadi henti jantung, sehingga dilakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi (mengembalikan irama jantung). Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, pada pukul 21.03 WIB, almarhumah dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

“Sebelum mengikuti pendidikan yang bersangkutan telah melalui tahapan seleksi kesehatan, seluruhnya dinyatakan memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan catatan kelebihan berat badan, saat ini hasil evaluasi medis terus didalami untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi yang dialami,” ujar Ketut.

Sementara itu, tim kesehatan Letkol TNI CKM dr Ihsan buka suara terkait dengan peserta Novia yang meninggal dunia karena TBC. Ia menegaskan pada pemeriksaan rontgen oleh pansel, tidak didapati TBC.

“Sedangkan yang terakhir pada saat pemeriksaan itu adalah dari diagnosa Rumah Sakit Esnawan adalah TBC. Tetapi kalau TBC, yang kami sempat diskusi dengan bukan TBC tapi adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus,” kata dr Ihsan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....