Seruan 'Sell Indonesia', Momen Memperbaiki dan Memperkuat Kedaulatan Ekonomi
- 09 Jun 2026 09:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Seruan 'Sell Indonesia' tiba-tiba saja mencuat di tengah anjloknya pasar saham dan nilai tukar rupiah.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons seruan 'Sell Indonesia' dan mengatakan pihak yang menyerukan tidak memahami kondisi perekonomian secara menyeluruh.
- Pengamat Ekonomi Hans Kwee mengingatkan kemungkinan seruan 'Sell Indonesia' sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu yang tidak puas dan merasa terganggu dengan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia.

Sejumlah analis pasar modal di Indonesia mengakui adanya kepanikan di pasar menyusul seruan 'Sell Indonesia'. Tapi kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya tidak seburuk seperti yang digambarkan Boubouras.
"Tentu ada kepanikan yang terjadi di pasar karena rupiah melemah cukup cepat dan IHSG juga tertekan turun. Belum lagi adanya beberapa berita negatif yang menimbulkan kekhawatiran dan ada investor yang ikut-ikutan melakukan aksi jual," kata Pengamat Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal, Yohanis Hans Kwee.
Menurutnya reaksi pasar terhadap seruan 'Sell Indonesia' terlalu berlebihan karena kondisi fundamental Indonesia sebenarnya masih cukup baik. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen di kuartal I 2026 termasuk yang tertinggi di kawasan.
"Artinya perekonomian Indonesia tidak mengalami resesi. Inflasi Indonesia juga masih dalam kisaran target Bank Indonesia," ucapnya.
Hans Kwee menilai pemerintah cukup baik dalam meredam dampak konflik Timur Tengah dengan tidak menaikkan harga bahan bakar bersubsidi. Selain itu, pengelolaan fiskal membaik dengan surplus anggaran di bulan April.
Meski di bulan Mei, APBN kembali defisit, tapi defisitnya hanya 0,70 persen dari PDB. Neraca perdagangan Indonesia juga masih membukukan surplus, meski surplusnya menipis karena impor minyak dan gas yang meningkat.
Di sisi lain, Hans Kwee melihat kekhawatiran akan kebijakan ekspor satu pintu sudah mereda. Karena pemerintah menyatakan akan ada masa transisi selama setahun dan kebijakan itu baru akan diimplementasikan tahun 2027.
Sehingga cukup waktu bagi perusahan-perusahaan eksportir untuk melakukan penyesuaian. Selain itu perusahaan yang sudah melakukan kontrak jangka panjang juga bisa melanjutkan kontraknya.
"Jadi 'Sell Indonesia' itu cenderung kurang beralasan kalau melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Kondisi emiten-emiten di pasar modal Indonesia juga masih bagus semua," ujar Hans Kwee.
Hal serupa juga disampaikan Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong. "Itu hanya istilah, seperti istilah lain seperti sell everything trade, Trump trade. Memang bukan hal yang positif, namun tidak akan berdampak signifikan," ucap Lukman ketika dimintai tanggapan soal seruan 'Sell Indonesia'.
Lukman tidak menafikan, kepercayaan investor asing yang menurun saat ini. Karena pelemahan IHSG maupun nilai tukar rupiah yang sangat besar seperti saat ini, tidak pernah terjadi di luar krisis.
Namun Lukman meyakini, IHSG maupun nilai tukar rupiah bisa menguat kembali. Yaitu ketika level harga sudah cukup murah untuk menutup risiko, saat itulah para investor akan masuk kembali.
"Untuk perlemahan mata uang memang hal yang rumit dan tidak mudah diselesaikan. Bukan hanya rupiah, mata uang Yen, Rupee, Won, juga mengalami hal masalah yang sama," kata Lukman.
Lukman juga berharap pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah tidak berlangsung lama hingga akhir tahun. Tapi hal itu sangat tergantung pada perkembangan ekonomi di triwulan kedua dan ketiga.
"Kita lihat dulu apakah perkembangannya sesuai harapan pasar. Permintaan dolar AS menurun dan perekonomian di triwulan ketiga membaik, maka akan berdampak pada IHSG dan rupiah," ucapnya.
|
Selanjutnya,
Indonesia Bisa Melawan Kampanye 'Sell Indonesia'
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....