Seruan 'Sell Indonesia', Momen Memperbaiki dan Memperkuat Kedaulatan Ekonomi
- 09 Jun 2026 09:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Seruan 'Sell Indonesia' tiba-tiba saja mencuat di tengah anjloknya pasar saham dan nilai tukar rupiah.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons seruan 'Sell Indonesia' dan mengatakan pihak yang menyerukan tidak memahami kondisi perekonomian secara menyeluruh.
- Pengamat Ekonomi Hans Kwee mengingatkan kemungkinan seruan 'Sell Indonesia' sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu yang tidak puas dan merasa terganggu dengan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia.
Alasan Dibalik Seruan 'Sell Indonesia'
SERUAN 'Sell Indonesia' tiba-tiba saja mencuat di tengah anjloknya pasar saham dan nilai tukar rupiah. Seruan itu disampaikan oleh sosok George Boubouras, kepala riset di perusahaan jasa keuangan dan manager investasi K2 Asset Management.
Perusahaan yang berbasis di Melbourne, Australia itu disebut-sebut memiliki dana kelolaan yang besarnya mencapai USD4,3 miliar. Boubouras sendiri konon sudah puluhan tahun mengelola investasi di Indonesia, sehingga seruannya cukup mempengaruhi sentimen pasar.
Seruan Boubouras agar para investor menghindari atau melepas asset di Indonesia, jika terus berlanjut diprakirakan akan menambah tekanan. Baik di pasar modal maupun pasar valas yang belakangan ini terus merosot karena aliran keluar modal asing.
Sejumlah analis menyebut seruan 'Sell Indonesia' adalah 'warning' namun bukan berarti kondisi perekonomian Indonesia seburuk yang digambarkan Boubouras. Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik harusnya menjadi senjata untuk melawan kampanye 'Sell Indonesia'.
Meskipun tantangannya berat. Karena bukan tidak mungkin ada pihak ketiga yang sengaja memanfaatkan situasi untuk makin melemahkan perekonomian Indonesia.
Kondisi Indonesia Tak Seburuk yang Digambarkan Boubouras

George Boubouras setidaknya mengedepankan tiga isu yang melatarbelakangi seruannya. Yakni kebijakan pemerintah Indonesia, kondisi fiskal dan arah politik Indonesia.
Dari sisi kebijakan pemerintah dan kebijakan fiskal, Boubouras mengkritisi program prioritas pemerintah yang dinilainya terlalu populis. Seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih yang banyak menyerap anggaran.
Boubouras juga mengkritisi kebijakan pemerintah lainnya seperti pembentukan Danantara dan program ekspor satu pintu. Menurut Boubouras kebijakan itu merupakan cerminan intervensi negara ke perekonomian.
Kondisi itu mengikis kepercayaan para investor pada perekonomian Indonesia, sehingga aliran keluar modal asing terus terjadi. Akibatnya nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah dengan cepat.
Menurut Boubouras, pasar saham Indonesia turun sekitar 36-37 persen sejak awal tahun hingga Mei 2026 . Penurunan itu menjadikan pasar saham Indonesia dengan kinerja terburuk di dunia.
Sama halnya dengan nilai tukar rupiah yang selama lima bulan terakhir sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen . Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin pada bulan Mei, tidak mampu menahan pelemahan rupiah.
Sejumlah langkah intervensi di pasar valas, baik di pasar luar negeri maupun domestik juga tidak berpengaruh signifikan. Rupiah terus melemah melampaui level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Cadangan devisa Indonesia selama lima bulan terakhir juga semakin tergerus. Sebagian cadangan devisa digunakan menstabilkan nilai tukar rupiah .
Belum lagi penilaian dari sejumlah lembaga rating internasional seperti S&P Global, Fitch dan Moody's. Penilaian lembaga-lembaga ini mengarah pada kekhawatiran akan tata kelola fiskal dan outlook yang negatif pada prospek perekonomian Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga sedang menunggu hasil rebalancing penyedia indeks global MSCI. Ada kekhawatiran yang mengemuka bahwa MSCI kemungkinan akan menurunkan level Indonesia ke frontier market.
Sehingga pelaku pasar atau investor masih memilih 'wait and see' atau memindahkan investasinya ke asset yang lebih aman. Situasi diperburuk dengan konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah maupun antara Rusia-Ukraina yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Boubouras juga menyinggung mundurnya Sri Mulyani dari jabatan Menteri Keuangan yang menurutnya sebagai penjaga disiplin fiskal. Saat ini para investor kehilangan kepercayaan akan komitmen pemerintah dalam pengelolaan fiskal.
George Boubouras menyatakan akan terus menyerukan 'Sell Indonesia' jika kondisi Indonesia tidak berubah. Biar bagaimanapun, Indonesia membutuhkan investor untuk membiayai program-programnya.
Indonesia Bisa Melawan Kampanye 'Sell Indonesia'

Sejumlah analis pasar modal di Indonesia mengakui adanya kepanikan di pasar menyusul seruan 'Sell Indonesia'. Tapi kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya tidak seburuk seperti yang digambarkan Boubouras.
"Tentu ada kepanikan yang terjadi di pasar karena rupiah melemah cukup cepat dan IHSG juga tertekan turun. Belum lagi adanya beberapa berita negatif yang menimbulkan kekhawatiran dan ada investor yang ikut-ikutan melakukan aksi jual," kata Pengamat Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal, Yohanis Hans Kwee.
Menurutnya reaksi pasar terhadap seruan 'Sell Indonesia' terlalu berlebihan karena kondisi fundamental Indonesia sebenarnya masih cukup baik. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen di kuartal I 2026 termasuk yang tertinggi di kawasan.
"Artinya perekonomian Indonesia tidak mengalami resesi. Inflasi Indonesia juga masih dalam kisaran target Bank Indonesia," ucapnya.
Hans Kwee menilai pemerintah cukup baik dalam meredam dampak konflik Timur Tengah dengan tidak menaikkan harga bahan bakar bersubsidi. Selain itu, pengelolaan fiskal membaik dengan surplus anggaran di bulan April.
Meski di bulan Mei, APBN kembali defisit, tapi defisitnya hanya 0,70 persen dari PDB. Neraca perdagangan Indonesia juga masih membukukan surplus, meski surplusnya menipis karena impor minyak dan gas yang meningkat.
Di sisi lain, Hans Kwee melihat kekhawatiran akan kebijakan ekspor satu pintu sudah mereda. Karena pemerintah menyatakan akan ada masa transisi selama setahun dan kebijakan itu baru akan diimplementasikan tahun 2027.
Sehingga cukup waktu bagi perusahan-perusahaan eksportir untuk melakukan penyesuaian. Selain itu perusahaan yang sudah melakukan kontrak jangka panjang juga bisa melanjutkan kontraknya.
"Jadi 'Sell Indonesia' itu cenderung kurang beralasan kalau melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Kondisi emiten-emiten di pasar modal Indonesia juga masih bagus semua," ujar Hans Kwee.
Hal serupa juga disampaikan Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong. "Itu hanya istilah, seperti istilah lain seperti sell everything trade, Trump trade. Memang bukan hal yang positif, namun tidak akan berdampak signifikan," ucap Lukman ketika dimintai tanggapan soal seruan 'Sell Indonesia'.
Lukman tidak menafikan, kepercayaan investor asing yang menurun saat ini. Karena pelemahan IHSG maupun nilai tukar rupiah yang sangat besar seperti saat ini, tidak pernah terjadi di luar krisis.
Namun Lukman meyakini, IHSG maupun nilai tukar rupiah bisa menguat kembali. Yaitu ketika level harga sudah cukup murah untuk menutup risiko, saat itulah para investor akan masuk kembali.
"Untuk perlemahan mata uang memang hal yang rumit dan tidak mudah diselesaikan. Bukan hanya rupiah, mata uang Yen, Rupee, Won, juga mengalami hal masalah yang sama," kata Lukman.
Lukman juga berharap pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah tidak berlangsung lama hingga akhir tahun. Tapi hal itu sangat tergantung pada perkembangan ekonomi di triwulan kedua dan ketiga.
"Kita lihat dulu apakah perkembangannya sesuai harapan pasar. Permintaan dolar AS menurun dan perekonomian di triwulan ketiga membaik, maka akan berdampak pada IHSG dan rupiah," ucapnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah merespons seruan 'Sell Indonesia' yang ramai di pemberitaan media dalam dan luar negeri. Menurut Purbaya, pihak yang menyerukan 'Sell Indonesia' tidak memahami kondisi perekonomian secara menyeluruh.
Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia sampai saat ini masih bagus dan penggunaan fiskal tetap terjaga. Pemerintah akan terus berupaya mengkomunikasikan hal itu pada para investor.
"Teman-teman investor, tolong lihat lebih detil dan pahami kondisi ekonomi Indonesia seperti apa. Yang bisa saya katakan adalah fiskal bagus, ekonomi bagus," kata Menkeu Purbaya saat melakukan kunjungan ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Sementara itu, Hans Kwee juga mengingatkan kemungkinan seruan 'Sell Indonesia' sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu. Pihak yang tidak puas dan merasa terganggu dengan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia.
"Mungkin juga mereka tidak puas sehingga ada 'serangan' ke Indonesia dengan pemberitaan yang buruk. Mereka merasa terganggu dengan kebijakan kita, mulai dari ekspor satu pintu dan lainnya," ucap Hans Kwee.
Menurutnya, negara-negara tetangga Indonesia juga ada yang merasa terganggu dan tidak puas dengan kebijakan pemerintah Indonesia. Untuk itu pemerintah harus mampu membuktikan kebijakan-kebijakan yang diambil diimplementasikan dengan benar sehingga dapat mengembalikan kepercayaan para investor.
"Tentu saja pemerintah punya pekerjaan rumah untuk melakukan banyak perbaikan. Sehingga kepercayaan investor kembali pulih," kata Hans Kwee menegaskan.
Dari sisi eksternal, harapannya konflik akan segera berakhir. Dari dalam negeri, pemerintah harus melakukan efisiensi anggaran dengan benar dan tepat sasaran.
Hans Kwee mencontohkan evaluasi dan efisiensi anggaran dalam program Makan Bergizi Gratis atau Koperasi Desa Merah Putih. Anggarannya mungkin bisa dialihkan untuk memperkuat bantuan sosial ke masyarakat.
Transfer ke Daerah, tambah Hans Kwee juga harus lebih diperhatikan. Sehingga pemerintah daerah punya cukup anggaran untuk menjalankan programnya dan menciptakan lapangan pekerjaan.
"Kalau kita bisa melakukan efisiensi dengan baik dan komunikasi pemerintah dilakukan dengan efektif. Saya yakin Indonesia akan melewati periode sulit ini. Rupiah akan kembali menguat dan IHSG akan 'rebound'," ujar Hans Kwee.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....