Seruan 'Sell Indonesia', Momen Memperbaiki dan Memperkuat Kedaulatan Ekonomi
- 09 Jun 2026 09:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Seruan 'Sell Indonesia' tiba-tiba saja mencuat di tengah anjloknya pasar saham dan nilai tukar rupiah.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons seruan 'Sell Indonesia' dan mengatakan pihak yang menyerukan tidak memahami kondisi perekonomian secara menyeluruh.
- Pengamat Ekonomi Hans Kwee mengingatkan kemungkinan seruan 'Sell Indonesia' sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu yang tidak puas dan merasa terganggu dengan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia.

George Boubouras setidaknya mengedepankan tiga isu yang melatarbelakangi seruannya. Yakni kebijakan pemerintah Indonesia, kondisi fiskal dan arah politik Indonesia.
Dari sisi kebijakan pemerintah dan kebijakan fiskal, Boubouras mengkritisi program prioritas pemerintah yang dinilainya terlalu populis. Seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih yang banyak menyerap anggaran.
Boubouras juga mengkritisi kebijakan pemerintah lainnya seperti pembentukan Danantara dan program ekspor satu pintu. Menurut Boubouras kebijakan itu merupakan cerminan intervensi negara ke perekonomian.
Kondisi itu mengikis kepercayaan para investor pada perekonomian Indonesia, sehingga aliran keluar modal asing terus terjadi. Akibatnya nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah dengan cepat.
Menurut Boubouras, pasar saham Indonesia turun sekitar 36-37 persen sejak awal tahun hingga Mei 2026 . Penurunan itu menjadikan pasar saham Indonesia dengan kinerja terburuk di dunia.
Sama halnya dengan nilai tukar rupiah yang selama lima bulan terakhir sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen . Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin pada bulan Mei, tidak mampu menahan pelemahan rupiah.
Sejumlah langkah intervensi di pasar valas, baik di pasar luar negeri maupun domestik juga tidak berpengaruh signifikan. Rupiah terus melemah melampaui level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Cadangan devisa Indonesia selama lima bulan terakhir juga semakin tergerus. Sebagian cadangan devisa digunakan menstabilkan nilai tukar rupiah .
Belum lagi penilaian dari sejumlah lembaga rating internasional seperti S&P Global, Fitch dan Moody's. Penilaian lembaga-lembaga ini mengarah pada kekhawatiran akan tata kelola fiskal dan outlook yang negatif pada prospek perekonomian Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga sedang menunggu hasil rebalancing penyedia indeks global MSCI. Ada kekhawatiran yang mengemuka bahwa MSCI kemungkinan akan menurunkan level Indonesia ke frontier market.
Sehingga pelaku pasar atau investor masih memilih 'wait and see' atau memindahkan investasinya ke asset yang lebih aman. Situasi diperburuk dengan konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah maupun antara Rusia-Ukraina yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Boubouras juga menyinggung mundurnya Sri Mulyani dari jabatan Menteri Keuangan yang menurutnya sebagai penjaga disiplin fiskal. Saat ini para investor kehilangan kepercayaan akan komitmen pemerintah dalam pengelolaan fiskal.
George Boubouras menyatakan akan terus menyerukan 'Sell Indonesia' jika kondisi Indonesia tidak berubah. Biar bagaimanapun, Indonesia membutuhkan investor untuk membiayai program-programnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....