Industri AMDK, antara Kebutuhan Pasar dan Keselamatan Lingkungan
- 13 Apr 2026 18:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Industri AMDK di Indonesia tumbuh pesat seiring meningkatnya permintaan pasar.
- Para pelaku industri AMDK wajib memperhatikan dampak lingkungan akibat usaha yang mereka jalankan.
- Salah satu dampak lingkungan yang timbul dalam industri ini yaitu penggunaan air tanah dan penumpukan sampah akibat kemasan AMDK dengan plastik sekali pakai.
INDUSTRI Air Minum dalam Kemasan (AMDK) saat ini menjadi salah satu industri yang tumbuh dengan pesat di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari tingkat permintaan pasar yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut total kapasitas produksi AMDK mencapai 47 miliar liter per tahunnya. Angka ini naik tajam dari tadinya hanya 6 juta liter per tahun pada tahun 1973.
Peningkatan kapasitas juga tidak lepas dari tumbuhnya pabrik AMDK baru, dari 1 pabrik pada tahun 1973 menjadi 707 pada 2025. Jumah ini juga dibarengi dengan total sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) aktif untuk produk AMDK yang mencapai 1.348 buah sertifikat.
Menurut Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, mengatakan industri AMDK dalam negeri menunjukkan kinerja yang sangat positif. Sektor ini memperkuat manufaktur nasional dan menjadi semakin penting.
"Industri AMDK penuhi kebutuhan masyarakat akan air minum berkualitas baik. Sektor ini adalah bagian dari rantai nilai industri makanan dan minuman dan memiliki posisi strategis dalam ekosistem manufaktur nasional," katanya, belum lama ini.
Namun demikian, meski industri AMDK saat ini bertumbuh pesat dan menguntungkan di Indonesia, industri bukan tanpa masalah. Salah satu masalah dari industri ini adalah dampak lingkungan yang timbul akibat industri ini.
|
Selanjutnya,
Problem Lingkungan Penggunaan Air Tanah
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....