Prajurit TNI Gugur dalam Misi UNIFIL, Keanggotaan Indonesia di BoP Digoyang

  • 31 Mar 2026 18:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tentara Nasional Indonesia (TNI) kehilangan tiga prajurit terbaiknya yang sedang menjalankan tugas misi perdamaian UNIFIL di Lebanon Selatan
  • Kepala Operasi Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Jean‑Pierre Lacroix menyebut serangan terhadap pasukan perdamaian termasuk kejahatan perang.
  • Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengaku belum memiliki informasi yang detil tentang dua insiden serangan tersebut dan akan melakukan investigasi
  • Pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan terhadap pasukan perdamaian yang menewaskan prajurit Indonesia dan meminta penyelidikan secara menyeluruh
Pengamat Timur Tengah dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung, Dina Y. Sulaeman (Foto:Tangkapan Layar Youtube Dina Y. Sulaeman)

Sikap Indonesia yang hanya mengutuk dan meminta investigasi oleh banyak pihak dianggap tidak cukup. Pemerintah harus berani bersikap lebih tegas sebagai penghormatan terhadap prajurit Indonesia yang gugur.

Pengamat Timur Tengah dan Analis Geopolitik, Dina Y Sulaeman mengatakan, Indonesia harusnya berani menyebut siapa pelaku serangan, yaitu zionis Israel.

“Memang harus menunggu investigasi, tapi insiden ini kan sebenarnya dengan mudah bisa dsimpulkan. Kenapa? karena selama ini Israel sudah berkali-kali menyerang UNIFIL di Lebanon,” kata Dina yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung.

Dina memberi contoh tahun 1996, ketika pasukan zionis Israel menembaki pasukan UNIFIL dalam peristiwa Qana di Lebanon. Sejak tahun 2023 sampai hari ini, pasukan zionis Israel juga berulang kali menyerang pasukan perdamaian UNIFIL.

“Kita sudah mengorbankan banyak hal, Indonesia adalah negara yang paling banyak mengirimkan pasukan untuk UNIFIL. Tapi ternyata tentara-tentara kita tidak terlindungi di sana,” ucapnya.

Dina juga menyebut, serangan terhadap prajurit Indonesia di Lebanon ini, menjadi momentum bagi Indonesia untuk keluar dari Board of Peace (BoP). Termasuk membatalkan pengiriman pasukan ke Gaza, sekaligus menarik pasukan Indonesia dari UNIFIL.

“Sebaiknya tarik saja karena tidak ada gunanya juga. Karena sebenarnya pasukan penjaga perdamaian sebenanrnya operasi politik bukan operasi militer,” kata Dina lagi.

Sehingga pasukan perdamaian, bahkan kalau diserang tidak boleh membalas langsung, ada tahapannya. Jadi keberadaan pasukan Indonesia di Lebanon tidak membuat perubahan apapun.

“Pasukan kita tidak bisa mencegah Israel untuk menyerang Lebanon, tapi malah membuat tentara kita berada dalam bahaya. Karena Israelnya sendiri tidak peduli dengan hukum internasional, tidak peduli bahwa itu adalah pasukan penjaga perdamaian,” ujar Dina menegaskan.

Sekalipun hasil investigasi UNIFIL membuktikan pelaku serangan adalah zionis Israel, Dina skeptis PBB akan memberikan sanksi tegas pada zionis Israel. Dari pengalaman sebelumnya, resolusi PBB untuk menekan zionis Israel selalu dipatahkan oleh negara pendukung Israel yang memiliki hak veto.

Desakan agar Indonesia keluar dari BoP cukup beralasan, mengingat zionis Israel juga masuk keanggotaan BoP. Tindakan zionis Israel menyerang pasukan dari sesama negara anggota BoP harusnya dipertanyakan.

Sejumlah anggota DPR juga mendesak pemerintah keluar dari BoP setelah gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon. “Daripada berlarut-larut dan menimbulkan persoalan yang lebih besar, sebaiknya pemerintah mengambil langkah keluar (dari BoP),” kata Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin.

Desakan serupa disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Fahrur Rozi. Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan opsi keluar dari BoP karena BoP sudah tidak efektif.

“Keluar dari BoP akan menjadi pesan politik yang kuat bagi AS maupun Israel. Bahwa Indonesia tidak menoleransi kekerasan terhadap pasukannya maupun pelanggaran terhadap perdamaian di kawasan,” kata Fahrur Rozi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....