Prajurit TNI Gugur dalam Misi UNIFIL, Keanggotaan Indonesia di BoP Digoyang

  • 31 Mar 2026 18:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tentara Nasional Indonesia (TNI) kehilangan tiga prajurit terbaiknya yang sedang menjalankan tugas misi perdamaian UNIFIL di Lebanon Selatan
  • Kepala Operasi Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Jean‑Pierre Lacroix menyebut serangan terhadap pasukan perdamaian termasuk kejahatan perang.
  • Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengaku belum memiliki informasi yang detil tentang dua insiden serangan tersebut dan akan melakukan investigasi
  • Pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan terhadap pasukan perdamaian yang menewaskan prajurit Indonesia dan meminta penyelidikan secara menyeluruh
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel (Foto;Tangkapan Layar Youtube Al Arabiya)

Saat ini terdapat sekitar 8.000 pasukan UNIFIl yang bertugas di Lebanon Selatan. Mereka berasal dari 47 negara, termasuk Indonesia dengan 756 personel sebagai Kontingen Garuda (Konga).

PBB membentuk UNIFIL pada Maret 1978 untuk memulihkan keamanan Lebanon setelah serangan zionis Israel ke wilayah itu. Melalui mandat PBB, pasukan UNIFIL memastikan tentara zionis mundur dari wilayah Lebanon.

UNIFIL masih tetap dipertahankan di Lebanon Selatan, karena zionis Israel masih sering melakukan serangan ke wilayah itu. Puncaknya adalah perang zionis Isarel dengan kelompok pejuang Hizbullah tahun 2006.

Setelah perang tersebut, pasukan UNIFIL ditempatkan di perbatasan untuk menjaga keamanan Lebanon Selatan. Serangan yang menewaskan pasukan UNIFIL dari Indonesia dua hari kemarin, disebut menjadi insiden terburuk sepanjang sejarah UNIFIL.

Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengaku belum memiliki informasi yang detil tentang dua insiden serangan tersebut. “Kami akan melakukan investigasi dan mengungkap apa sebenarnya yang terjadi,” kata Ardiel.

Penyelidikan, ujarnya akan dilakukan sesuai prosedur yang belaku dan hasilnya akan dibagikan pada pihak-pihak terkait. “Jika kami menemukan siapa pelakunya, kami akan menyampaikan protes resmi,” ucap Ardiel.

Sejauh ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan tiga prajurit TNI. Yang jelas, dua insiden kemarin terjadi di tengah masifnya serangan militer zionis Israel ke wilayah Lebanon.

Namun militer zionis Israel membantah serangan itu dilakukan pasukannya. Zionis Israel berdalih posisi prajurit Indonesia berada di “wilayah pertempuran aktif” pasukan Israel yang sedang melakukan operasi terhadap pejuang Hizbullah.

Sementara itu, pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan terhadap pasukan perdamaian yang menewaskan prajurit Indonesia. Selain itu Indonesia juga meminta penyelidikan secara menyeluruh serta langkah-langkah diplomasi agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.

“Kami meminta investigasi penuh dari UNIFIL, untuk bisa menemukan sumber insiden ini. Kami sekali lagi meminta semua pihak untuk melakukan deeskalasi,” kata Menteri Luar Negeri, Sugiono dalam pernyataannya dari Tokyo, Jepang, mendamping lawatan Presiden Prabowo Subianto.

Wakil Tetap Indonesia di PBB sudah diminta untuk segera bertemu dengan perwakilan PBB untuk menyampaikan desakan Indonesia. Dewan Keamanan PBB diharapkan menggelar pertemuan khusus untuk membahas persoalan ini.

Sekjen PBB, Antonio Guterres sudah menyampaikan bela sungkawa kepada pemerintah Indonesia. Gutteres juga mengutuk keras serangan yang terjadi dan meminta semua pihak menjunjung tinggi hukum internasional.

“Semua pihak harus menjunjung tinggi kewajiban berdasarkan hukum internasional. Yaitu memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB,” ujar Gutteres.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....