Prajurit TNI Gugur dalam Misi UNIFIL, Keanggotaan Indonesia di BoP Digoyang
- 31 Mar 2026 18:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tentara Nasional Indonesia (TNI) kehilangan tiga prajurit terbaiknya yang sedang menjalankan tugas misi perdamaian UNIFIL di Lebanon Selatan
- Kepala Operasi Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Jean‑Pierre Lacroix menyebut serangan terhadap pasukan perdamaian termasuk kejahatan perang.
- Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengaku belum memiliki informasi yang detil tentang dua insiden serangan tersebut dan akan melakukan investigasi
- Pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan terhadap pasukan perdamaian yang menewaskan prajurit Indonesia dan meminta penyelidikan secara menyeluruh
Investigasi dan Tanggung Jawab UNIFIL
TENTARA Nasional Indonesia (TNI) kehilangan tiga prajurit terbaiknya yang sedang menjalankan tugas misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Selain tiga prajurit yang gugur, sejumlah prajurit lainnya yang mengalami luka-luka dalam dua insiden terpisah.
Peristiwa ini terjadi di tengah masifnya serangan tentara Israel ke Lebanon Selatan. United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menyatakan akan melakukan investigas atas dua insiden tersebut.
Kepala Operasi Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Jean‑Pierre Lacroix menyebut serangan terhadap pasukan perdamaian termasuk kejahatan perang. “Insiden ini tidak bisa diterima,” ucapnya dalam keterangan pers di Markas Besar PBB, New York.
Kecaman terhadap serangan terhadap pasukan perdamaian juga berdatangan dari berbagai negara. Mereka juga menyampikan bela sungkawa pada pemerintah Indonesia.
Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia, apakah cukup dengan mengecam dan menuntut investigasi saja? Sejumlah pihak mengatakan, peristiwa ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).
Momentum Indonesia Keluar dari Board of Peace

Saat ini terdapat sekitar 8.000 pasukan UNIFIl yang bertugas di Lebanon Selatan. Mereka berasal dari 47 negara, termasuk Indonesia dengan 756 personel sebagai Kontingen Garuda (Konga).
PBB membentuk UNIFIL pada Maret 1978 untuk memulihkan keamanan Lebanon setelah serangan zionis Israel ke wilayah itu. Melalui mandat PBB, pasukan UNIFIL memastikan tentara zionis mundur dari wilayah Lebanon.
UNIFIL masih tetap dipertahankan di Lebanon Selatan, karena zionis Israel masih sering melakukan serangan ke wilayah itu. Puncaknya adalah perang zionis Isarel dengan kelompok pejuang Hizbullah tahun 2006.
Setelah perang tersebut, pasukan UNIFIL ditempatkan di perbatasan untuk menjaga keamanan Lebanon Selatan. Serangan yang menewaskan pasukan UNIFIL dari Indonesia dua hari kemarin, disebut menjadi insiden terburuk sepanjang sejarah UNIFIL.
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengaku belum memiliki informasi yang detil tentang dua insiden serangan tersebut. “Kami akan melakukan investigasi dan mengungkap apa sebenarnya yang terjadi,” kata Ardiel.
Penyelidikan, ujarnya akan dilakukan sesuai prosedur yang belaku dan hasilnya akan dibagikan pada pihak-pihak terkait. “Jika kami menemukan siapa pelakunya, kami akan menyampaikan protes resmi,” ucap Ardiel.
Sejauh ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan tiga prajurit TNI. Yang jelas, dua insiden kemarin terjadi di tengah masifnya serangan militer zionis Israel ke wilayah Lebanon.
Namun militer zionis Israel membantah serangan itu dilakukan pasukannya. Zionis Israel berdalih posisi prajurit Indonesia berada di “wilayah pertempuran aktif” pasukan Israel yang sedang melakukan operasi terhadap pejuang Hizbullah.
Sementara itu, pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan terhadap pasukan perdamaian yang menewaskan prajurit Indonesia. Selain itu Indonesia juga meminta penyelidikan secara menyeluruh serta langkah-langkah diplomasi agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.
“Kami meminta investigasi penuh dari UNIFIL, untuk bisa menemukan sumber insiden ini. Kami sekali lagi meminta semua pihak untuk melakukan deeskalasi,” kata Menteri Luar Negeri, Sugiono dalam pernyataannya dari Tokyo, Jepang, mendamping lawatan Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Tetap Indonesia di PBB sudah diminta untuk segera bertemu dengan perwakilan PBB untuk menyampaikan desakan Indonesia. Dewan Keamanan PBB diharapkan menggelar pertemuan khusus untuk membahas persoalan ini.
Sekjen PBB, Antonio Guterres sudah menyampaikan bela sungkawa kepada pemerintah Indonesia. Gutteres juga mengutuk keras serangan yang terjadi dan meminta semua pihak menjunjung tinggi hukum internasional.
“Semua pihak harus menjunjung tinggi kewajiban berdasarkan hukum internasional. Yaitu memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB,” ujar Gutteres.
Penghormatan untuk Prajurit TNI yang Gugur

Sikap Indonesia yang hanya mengutuk dan meminta investigasi oleh banyak pihak dianggap tidak cukup. Pemerintah harus berani bersikap lebih tegas sebagai penghormatan terhadap prajurit Indonesia yang gugur.
Pengamat Timur Tengah dan Analis Geopolitik, Dina Y Sulaeman mengatakan, Indonesia harusnya berani menyebut siapa pelaku serangan, yaitu zionis Israel.
“Memang harus menunggu investigasi, tapi insiden ini kan sebenarnya dengan mudah bisa dsimpulkan. Kenapa? karena selama ini Israel sudah berkali-kali menyerang UNIFIL di Lebanon,” kata Dina yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung.
Dina memberi contoh tahun 1996, ketika pasukan zionis Israel menembaki pasukan UNIFIL dalam peristiwa Qana di Lebanon. Sejak tahun 2023 sampai hari ini, pasukan zionis Israel juga berulang kali menyerang pasukan perdamaian UNIFIL.
“Kita sudah mengorbankan banyak hal, Indonesia adalah negara yang paling banyak mengirimkan pasukan untuk UNIFIL. Tapi ternyata tentara-tentara kita tidak terlindungi di sana,” ucapnya.
Dina juga menyebut, serangan terhadap prajurit Indonesia di Lebanon ini, menjadi momentum bagi Indonesia untuk keluar dari Board of Peace (BoP). Termasuk membatalkan pengiriman pasukan ke Gaza, sekaligus menarik pasukan Indonesia dari UNIFIL.
“Sebaiknya tarik saja karena tidak ada gunanya juga. Karena sebenarnya pasukan penjaga perdamaian sebenanrnya operasi politik bukan operasi militer,” kata Dina lagi.
Sehingga pasukan perdamaian, bahkan kalau diserang tidak boleh membalas langsung, ada tahapannya. Jadi keberadaan pasukan Indonesia di Lebanon tidak membuat perubahan apapun.
“Pasukan kita tidak bisa mencegah Israel untuk menyerang Lebanon, tapi malah membuat tentara kita berada dalam bahaya. Karena Israelnya sendiri tidak peduli dengan hukum internasional, tidak peduli bahwa itu adalah pasukan penjaga perdamaian,” ujar Dina menegaskan.
Sekalipun hasil investigasi UNIFIL membuktikan pelaku serangan adalah zionis Israel, Dina skeptis PBB akan memberikan sanksi tegas pada zionis Israel. Dari pengalaman sebelumnya, resolusi PBB untuk menekan zionis Israel selalu dipatahkan oleh negara pendukung Israel yang memiliki hak veto.
Desakan agar Indonesia keluar dari BoP cukup beralasan, mengingat zionis Israel juga masuk keanggotaan BoP. Tindakan zionis Israel menyerang pasukan dari sesama negara anggota BoP harusnya dipertanyakan.
Sejumlah anggota DPR juga mendesak pemerintah keluar dari BoP setelah gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon. “Daripada berlarut-larut dan menimbulkan persoalan yang lebih besar, sebaiknya pemerintah mengambil langkah keluar (dari BoP),” kata Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin.
Desakan serupa disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Fahrur Rozi. Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan opsi keluar dari BoP karena BoP sudah tidak efektif.
“Keluar dari BoP akan menjadi pesan politik yang kuat bagi AS maupun Israel. Bahwa Indonesia tidak menoleransi kekerasan terhadap pasukannya maupun pelanggaran terhadap perdamaian di kawasan,” kata Fahrur Rozi.

Gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon Selatan, bukan hanya duka bagi TNI tapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Tiga prajurit yang gugur adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, gugur akibat serangan artileri di kawasan Adchit Al Qusayr pada Minggu 29 Maret 2026.
Dua prajurit lainnya adalah Sersan Satu Muhammad Nur Ichwandan Kapten (inf) Zulmi Aditya Iskandar. Kedunaya gugur aakibat ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan, Senin 30 Maret 2026.
Selain yang gugur, dalam serangan di Adchit Al Qusayr, tiga prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka. Sedangkan dalam insiden di Bani Haiyyan, dua prajurit juga mengalami luka-luka.
Kementerian Pertahanan dalam siaran persnya menegaskan akan tetap memprioritaskan keselamatan pasukan perdamaian. “Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional PBB,” kata Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam siaran pers tersebut.
Indonesia, tambah Rico, berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Serta mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....