Jejak Abu Ibrahim Woyla, Ulama Kharismatik Aceh
- 25 Agt 2024 21:56 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh : Abu Ibrahim Woyla, adalah ulama sufi kharismatik Aceh, lahir di Desa Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Aceh Barat tahun 1919. Dikenal sebagai Abu Beurahim Keuramat, ia sangat dihormati masyarakat Aceh karena kebijaksanaan dan kealimannya.
Saat meninggal pada 2009, ribuan orang melayat selama 30 hari sebagai bentuk penghormatan. Abu memulai perjalanan sufistiknya dengan belajar kepada Abu Syech Mud Blangpidie selama 12 tahun.
Selain Abu Ibrahim, banyak ulama lainnya juga berguru kepada Abu Syech Mud yang dikenal dengan ilmu tasawufnya. Setelah itu, Abu Ibrahim melanjutkan belajar kepada Abu Calang dan mendalami tarekat dengan Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy.
Abu Ibrahim dikenal dengan berbagai kelebihan, termasuk kemampuannya menempuh jarak jauh dengan cepat hanya berjalan kaki. Ia juga dikenal sering memberi isyarat tentang peristiwa besar yang akan terjadi.
Gus Dur pernah menyebut bahwa hanya ada satu sufi seperti Abu Ibrahim di dunia, selain di Sudan. Abu sering membagi-bagikan uang kepada siapa saja yang memintanya tanpa memandang jumlahnya, dikutip dari tulisan Dr. Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary, Lc
Kedermawanan dan kepeduliannya kepada semua makhluk tanpa memandang ras atau golongan adalah teladan yang diwariskan. Abu Ibrahim mencapai derajat kesufian melalui ilmu, mujahadah, dan pengabdian.
Setelah wafatnya, hampir tidak terdengar lagi sufi pengembara di Aceh. Kehidupan Abu Ibrahim Woyla adalah cermin perjalanan sufi sejati, yang menghabiskan hidup dalam zikir dan munajat kepada Allah.
Wafatnya pada 2009 menutup kiprah besarnya dalam usia 90 tahun, meninggalkan warisan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Aceh.
Salah satu anak dari Abu Woyla, Hayatun Nufus mengatakan kepada RRI, Tidak hanya warga Aceh Barat dan sekitarnya, warga Aceh Timur juga berziarah ke makam Abu, bahkan ada yang dari Medan. “Ramai orang berkunjung, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, ada yang dari Panton Labu, Blangpidie dan Medan,” ujarnya.
“Selain berziarah, ada juga potong Kambing dan dimasak (kenduri) untuk disedekahkan dan makan beramai-ramai,” ujar Hayatun Nufus. Dari pantauan Tim RRI terlihat di belakang mesjid tersedia tempat memasak dan alat masak serta piring dan sebagainya.
Hal itu menunjukan bahwa penziarah juga sering mengadakan makan bersama di seputaran makam Abu. Informasi yang didapatkan dari anak Abu mereka yang melaksanakan tersebut memiliki hajat.
Salah satu penziarah, Tgk Adami dari Lhok Nibong Aceh Timur, mengatakan tujuannya berkunjung ke makam Abu untuk berziarah dan mengambil berkah dari kekaramahan Abu sebagai wali Allah. “Mudah-mudahan cita-cita kami disampaikan oleh Allah SWT, dan diberikan berkat untuk kita semua dengan karamah Abu Woyla,” ucapnya.
Adami juga mengatakan ia sudah dua kali berziarah, sebelumnya pada tahun 2023 dan kini ia berkunjung kembali karena rindu, walau Abu sudah tiada. “ Mudah-mudahan dengan berkah Abu, kita semua diberkahi oleh Allah SWT,” ucapnya lagi.
Kepala RRI Meulaboh, Wenny Zulianti saat berziarah mengatakan, Abu Ibrahim Woyla adalah Tokoh terkenal di Aceh Barat. “Saya ingin melihat langsung Makam Abu dan merasakan bagaimana karismanya sampai saat ini, terbukti dengan dibangunnya Makam dan dirawat dengan sangat baik,” ucapnya.
“Sampai saat ini, orang-orang masih terus berkunjung, karena Abu adalah tokoh yang dikagumi dan sepatutnya untuk dikenal karena perjuangan untuk masyarakat Aceh. Mudah-mudahan kita juga diberi kesempatan untuk berbuat baik dimana pun kita berada," ucap Wenny.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....