Tarian Telik Sandi, Wujud Spionase Zaman Kesultanan Cirebon
- 16 Jan 2024 12:00 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Dalam dunia pengintaian atau
penyusupan, dahulu kita mengenal istilah "Telik Sandi". Istilah ini
berasal dari bahasa Indonesia dan dikenal pada zaman kerajaan-kerajaan, di mana
Telik Sandi adalah sebutan untuk mata-mata kerajaan yang bertugas mengawasi kerajaan-kerajaan
lain. Ini mirip dengan konsep intelijen yang kita kenal saat ini, di mana
kecerdasan dan ketelitian dalam pengolahan informasi sangat penting.
Merunut Etimologis, kata "Telik Sandi" merupakan gabungan kata "telik" yang berarti cermat dan teliti, dengan "sandi" yang berarti rahasia. Oleh karena itu, Telik Sandi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang cerdas yang memiliki sifat rahasia, dan mereka ditugaskan dengan tugas yang memerlukan kecermatan dan ketelitian, seperti memata-matai kerajaan lain atas perintah kerajaan atau penguasa.
Telik Sandi sendiri memiliki kisah masa lalu yang cukup menarik dari sejarah kesultanan kerajaan Cirebon. Dimana pada sekitar abad ke-14 Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati berseteru dengan Kerajaan Rajagaluh di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.
Perseteruan itu tak lepas dari keinginan Kerajaan Rajagaluh menguasai kembali Kesultanan Cirebon yang sebelumnya telah lepas dari Kerajaan Pajajaran pimpinan Prabu Siliwangi. Kesultanan Cirebon mencium rencana penyerangan Kerajaan Rajagaluh yang ketika itu dipimpin Pangeran Cakraningrat ke Cirebon.
Untuk ini, Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai penari ronggeng dan berhasil masuk ke wilayah Kerajaan Rajagaluh. Bersama Nyi Mas Gandasari, turut pula sejumlah prajurit Kesultanan Cirebon yang menyamar sebagai penari perempuan. Misi mereka mencari kelemahan Pangeran Cakraningrat. Nama Nyi Mas Gandasari selanjutnya menjadi terkenal karena pesonanya hingga menarik rasa penasaran Pangeran Cakraningrat. Nyi Mas Gandasari berikut rombongannya pun dipanggil ke istana Kerajaan Rajagaluh.
Singkat cerita, Nyi Mas Gandasari dan rombongan mata-matanya itu berhasil melemahkan kesaktian Pangeran Cakraningrat dengan merebut sebuah benda pusaka berupa bokor mas (kandaga mas). Sempat terjadi pertempuran antara Pangeran Cakraningrat yang mengetahui benda pusakanya dicuri, dengan Nyi Mas Gandasari. Namun, kemenangan di tangan Kesultanan Cirebon.
Prajurit-prajurit yang menyamar dalam rombongan Nyi Mas Gandasari itulah yang kini direkonstruksi dalam pertunjukan tarian telik sandi atau ronggeng bugis saat ini. Sudah tentu, fungsinya tak lagi sama seperti kisah abad ke-14 itu.
Lantaran kepiawaian seorang telik sandi pada masa kesultanan kerajaan di Cirebon inilah yang kemudian, menuai ide sebuah tarian Telik Sandi atau Ronggeng Bugis. Ketika era 90an tarian telik sandi kemudian diciptakan salah satu tokoh seniman Cirebon, Handoyo (alm). Almarhum yang merupakan seniman Cirebon sekaligus pendiri Sanggar Seni Pringgadhing, adalah orang yang pertama kali mengangkat tari ‘telik sandi’ itu ke atas pentas. Handoyo juga membuat tarian ini dengan diiringi gending Cirebon dan sebuah tembang berjudul 'Angkut'.
Tari ini menceritakan tentang sekelompok telik sandi yang menjadi pahlawan semasa Kesultanan Cirebon. Mereka adalah 'pasukan khusus' yang dibentuk Sultan Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Bertemakan spionase, telik sandi ditarikan laki-laki sejumlah paling sedikit lima orang. Yang jenaka dari tarian ini, seluruh penarinya berdandan layaknya perempuan, dengan atasan kebaya dan kain sebagai bawahan yang dilengkapi selendang. Bibir mereka bergincu, wajah mereka dipulas bedak putih ditambah pemerah di pipi, sementara hiasan bunga tersemat di atas kepala.
“Tarian Telik Sandi, merupakan tontonan yang sering saya tunggu-tunggu di setiap kegiatan di keraton, ya satu karena ada sejarahnya dan yang bikin saya makin tertarik ya itu, dandanannya yang lucu dan gerakan tarinya sangat jenaka, bikin saya selalu tertawa terus”, papar H. Sofiyanto salah seorang warga sekitar Keraton Kesultanan Kanoman Cirebon, saat ditemui KBRN Minggu (14/1/2024).
Tak hanya penampilan, aksi teatrikal yang mewarnai keseluruhan gerak tari membuat telik sandi kerap mengundang tawa. Secara keseluruhan, telik sandi menjadi pertunjukan yang menyenangkan dan menarik untuk ditonton.
Beberapa sanggar Tari di Cirebon masih melestarikan tarian telik sandi ini. Salah satunya Sanggar Klapa Jajar Kesultanan Kanoman, yang beralamat di Kampung Kanoman Utara Rw. 10 Kelurahan Pekalipan Kota Cirebon. Bahkan tarian telik sandi tersebut juga sering digelar oleh para seniman tari dari Sanggar Klapa Jajar, dibeberapa kegiatan perjamuan tamu yang datang di Keraton Kesultanan Cirebon serta kegiatan pemerintahan daerah seperti hari jadi kota Cirebon hingga acara yang yang berskala Nasional Festival Keraton Nusantara.
“Tari Telik Sandi atau Ronggeng Bugis sering tampil di banyak acara, dan Alhamdullilah sanggar Klapa Jajar yang sampai saat ini masih melestarikan tarian ini, kami sering dipanggil di beberapa acara, baik acara di pemerintahan bahkan tingkat nasional,“ ujar Elang Rahmat (biasa disapa Ca Mamat-red) selaku Pimpinan Sanggar Klapa Jajar Kesultanan Kanoman, Kanoman Utara Kelurahan Pekalipan Kota Cirebon.
Tarian Telik Sandi atau Ronggeng Bugis memang belum seterkenal tari topeng yang bisa langsung mengingatkan siapapun pada Cirebon. Namun, kejenakaan tarian ini dipandang mampu menarik minat siapapun yang menyaksikannya, hingga dinilai berpotensi sebagai tarian yang unik dan ikonik di Cirebon. (Dew)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....