Beda Generasi, Satu Arena: Sepuh dan Anak Muda Taklukkan Lokapasar Digital Dunia
- 30 Agt 2026 00:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memperkuat regulasi ekosistem digital melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 untuk melindungi konsumen dan mengutamakan produk dalam negeri.
- Kementerian Komdigi dan Kementerian UMKM mendorong transformasi usaha mikro agar beralih dari sekadar masuk platform digital menuju peningkatan produktivitas serta adopsi kecerdasan buatan.
- Pelaku usaha rumahan Sambal RoaRia membuktikan pentingnya penguatan standar mutu dan kejujuran produksi di sektor hulu guna menjamin keberlanjutan pasar domestik maupun ekspor.
Platform lokapasar Shopee menjadi salah satu layanan yang dirambah etalase digital Sambal RoaRia. Penjualan di platform Shopee mencatatkan pergerakan transaksi yang memuaskan bagi pasangan lansia ini.
"Udah mulai jualan di Shopee, ternyata penjualannya juga bagus, bersaing dengan penjualan di tempat lain," ujar Clay Wala.
Fitur bebas ongkos kirim menjadi jembatan yang memudahkan pembeli menjangkau produk rumahan mereka. Clay memahami bahwa tambahan ongkir sering kali memberatkan pembeli sambal kemasan botol kaca.
"Kami jual sambalnya di Shopee itu Rp39.000. Kalau misalnya kena ongkir Rp10.000 jadi Rp49.000, udah hampir Rp50.000, udah berasa mahal," ucap Titin.
Uniknya, aktivitas berniaga daring ini perlahan menumbuhkan kebiasaan baru bagi sepasang lansia tersebut. Titin dan suaminya turut memanfaatkan aplikasi digital untuk memenuhi berbagai kebutuhan harian keluarga.
"Di Shopee itu jadi akhirnya kita memang hari-hari belanja di Shopee. Vitamin aja di Shopee, terus itu lotion apa di Shopee, beli ragi bikin tape ketan dari Shopee," kata Titin Wala yang tengah menunggu kedatangan pesanan kacang mete dari Shopee, sembari di-iya-kan suaminya yang penggemar tape.
Tantangan teknis muncul ketika platform mewajibkan penggunaan plastik pembungkus gelembung tebal berlapis-lapis. Clay mengkhawatirkan ancaman timbulan sampah plastik yang terus menumpuk di perairan pesisir Jakarta.
"Waktu Anies baru jadi gubernur, 6 bulan kemudian dia bilang sampah di Teluk Jakarta, sampah plastik, itu naik 16 persen gara-gara Covid. (Ini karena-red) banyak yang pesan online," ujar Clay Wala.
Hal tersebut yang membuat Clay merancang alternatif bantalan peredam menggunakan cacahan kertas karton bergelombang yang ramah lingkungan. Ia menguji paket sambal dengan menjatuhkannya dari ketinggian satu meter tanpa mengalami pecah wadah.
Di balik optimisme kelancaran transaksi digital, tantangan lain tetap membayangi dapur produksi mereka. Kenaikan harga bahan baku pokok menuntut keuletan ekstra agar usaha mereka tetap dapat bertahan.
Harga komoditas cabai rawit merah sempat melesat hingga mencapai angka Rp110.000 per kilogram. Minyak goreng kemasan dan wadah botol kaca impor pun turut mengalami kenaikan harga.

"Sekarang kan kebayang enggak ya ibu-ibu nih yang UKM, gas aja dari Rp215 (ribu-red) naik Rp225 (ribu-red), naik Rp250 (ribu-red). Terus dari minyak nih Rp28, Rp30, Rp35, sekarang Rp45 (ribu-red). Terus botol, botol dari Rp4.000, Rp4.200 sekarang Rp4.400," kata Titin Wala.
Meningkatnya biaya produksi tersebut membuat sejumlah sejawat UMKM di lingkungannya juga menyerah. Sebagian pelaku usaha mikro terpaksa menghentikan aktivitas produksi akibat ketiadaan modal cadangan.
"Teman-teman saya UKM tuh, yang jual sambal tuh, kasihan loh banyak yang berhenti karena cabai rawit," ujar Titin Wala.
Pasokan bahan baku utama ikan roa asap dari Gorontalo bahkan melonjak ke angka Rp250.000 per kilogram. Gelombang laut musim barat membuat para nelayan tradisional timur kesulitan melaut menangkap ikan.
"Roanya sendiri saya punya keluarga, jadi pesanlah dari sana. Sekarang naik Rp250 (ribu-red). Kalau misalnya musim hujan kayak kemarin, susah banget karena nelayannya susah katanya. Jadi dari Rp200, Rp225, Rp250 (ribu-red), gitu ajalah," ucap Titin Wala.
Kendati margin keuntungan kian tipis, Titin pantang mengurangi takaran daging ikan roa. Ia tetap menahan harga jual pada kisaran Rp35.000 hingga Rp39.000 per botol kemasan.
Pengadaan bahan baku ikan roa pun sempat menorehkan pengalaman pahit berupa hilangnya kiriman uang pesanan. Uang jutaan rupiah yang dikirim ke perairan timur raib tanpa ada kejelasan kabar.
"Kalau yang pesan ikan itu, kami sudah bayar tapi ikannya enggak datang. Nah, itu kita enggak berani ngomong ketipu karena takutnya orangnya waktu itu kan kalau melaut ada musim barat," kata Clay Wala.
Peristiwa serupa terulang saat memesan pasokan ikan melalui perantara agen penampung di Jakarta. Surat konfirmasi resmi yang dikirimkan pasutri sepuh ini tak pernah berbalas jawaban.
"Terus kita susulin pakai surat. Saya pikir ah mungkin siapa tahu dianya ke mana atau hilang HP-nya. Tapi tetap enggak ada jawaban, ya gitulah, sudah," ujar Titin Wala.
Di tengah berbagai aral tersebut, Sambal RoaRia berhasil menembus kurasi ketat Clubhouse Stamford. Dari 14 pelaku usaha mikro yang mendaftar, hanya sambal Titin yang lolos bermitra.
"Dikumpullah dari 14 UKM, masukkan produk di sana, dikurasi, yang lolos cuman satu, Sambal Roa, sampai sekarang," ujar Clay Wala.
"Ada juga itu hotel yang beli sambal roanya aja tanpa botol. Jadi dikilo untuk menu nasi goreng. Hotel mana, harus rahasia katanya," ucap Titin Wala.
Cita rasa autentik sambal rumahan ini melanglang buana melintasi berbagai benua di dunia. Istri-istri duta besar membawa botol kemasan kaca ini hingga ke Jerman, Jepang, dan Puerto Riko.
Clay bercerita sebotol Sambal RoaRia dipotret tepat di depan patung Nelson Mandela Afrika Selatan. Kemasan sambal berhias pita merah putih juga dibagikan dalam perayaan di KBRI Beijing.
Koki ternama Filipina, RV Manabat, bahkan mendemonstrasikan kelezatan sambal ini pada siaran televisi nasionalnya. Di London, seorang diaspora Indonesia menemukan sebotol Sambal RoaRia dijual seharga Rp400.000 per kemasan.
"Sempat ke Amazon internasional, sempat muncul dengan bahasa Spanyol. Sempat juga ada teman yang kabarin bahwa di Inggris juga dijual dan harganya itu, dalam rupiah kita, bisa Rp400.000 per botol," kata Clay Wala.
Kiprah sambal rumahan ini tercatat dalam buku kuliner khusus karya pakar lingkungan Amanda Katili. Buku tersebut merangkum kisah para juru masak nasional bersama RoaRia sebagai pelaku UMKM.
"Ini juga nih ada buku mengenai sambal roa, yang nulisnya Dr. Amanda Katili. Jadi yang diundang chef-chef nasional lah, ya UKM-nya saya," ujar Titin Wala.
Kementerian Perdagangan pun menobatkan Sambal RoaRia sebagai 10 Besar Finalis UMKM Pangan Award 2024. Pemerintah Kota Depok turut menganugerahkan penghargaan prestisius kategori UMKM Sepanjang Masa tahun 2026.
Kami memandangi berbagai deretan dokumen penghargaan dan sertifikasi yang tertata rapi di atas meja kayu ruang tamu. Dokumen-dokumen ini menjadi bukti ketangguhan mereka menapaki belantara lokapasar digital di tanah air.
|
Selanjutnya,
Deru perputaran ekonomi digital
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....