Raisa Menemukan Jati Diri Baru dalam Peran Srikandi
- 23 Agt 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pagelaran Sabang Merauke 2026 melibatkan sekitar 1.700 pelaku seni dan kreatif.
- Pertunjukan menghadirkan lebih dari 1.500 kostum karya 16 desainer.
- Sebanyak 60 musisi orkestra, 119 anggota paduan suara, dan sekitar 50 alat musik tradisional terlibat.
- Raisa Andriana menjalani transformasi dari penyanyi menjadi tokoh Srikandi.
- Pagelaran memperlihatkan budaya dapat menjadi ruang tumbuh bagi ekonomi kreatif.
RRI.CO.ID, Jakarta – Cahaya di Indonesia Arena perlahan berubah warna, menyapu panggung yang dipenuhi ratusan penari dalam balutan busana Nusantara. Jumat, 21 Agustus 2026, malam itu budaya tidak sekadar dikenang, tetapi hadir hidup di hadapan ribuan pasang mata.
Alunan musik mengiringi setiap gerakan, membawa penonton berpindah dari satu cerita ke cerita lain tanpa meninggalkan tempat duduknya. Pagelaran Sabang Merauke 2026 menjadikan panggung sebagai ruang pertemuan antara tradisi, teknologi, dan denyut ekonomi kreatif.
Di tengah gemuruh pertunjukan, Raisa Andriana menjalani malam yang berbeda dari panggung-panggung musik yang biasa ditemuinya. Kali ini, ia tidak hanya membawa suara, tetapi juga tubuh dan emosinya untuk menjelma menjadi Srikandi.
Peran tersebut menuntut Raisa keluar dari ruang yang selama ini paling dikenalnya sebagai penyanyi. Ia harus belajar akting, blocking, gerak, hingga membangun interaksi dengan pemain lain agar perjalanan Srikandi terasa utuh.
“Aku merasa hari ini akhirnya pecah telur juga jadi Srikandi. Ketika dialog Srikandi aku utarakan, penonton benar-benar tepuk tangannya pakai hati,” ujar Raisa.
Lagu Cahaya Hati yang dibawakan Raisa pun menemukan warna berbeda ketika menjadi bagian dari perjalanan Srikandi. Lagu itu tidak lagi berdiri sendiri, tetapi tumbuh bersama cerita tentang keberanian, keteguhan, dan pencarian jati diri.
Tak jauh dari sana, Yura Yunita membawa penonton memasuki dunia lain melalui karakter Mahadewi. Ia muncul di atas naga berkepala tiga yang menyemburkan asap, menghadirkan salah satu pemandangan paling mencolok malam itu.
Adegan tersebut menjadi bagian paling menantang bagi Yura selama menjalani perannya dalam pertunjukan. Kostum Mahadewi dengan sentuhan magis semakin memperkuat kesan karakter yang hadir di tengah permainan visual panggung.

Namun, kemegahan Sabang Merauke tidak berhenti pada apa yang terlihat dari kursi penonton. Di belakang cahaya dan tepuk tangan, terdapat rantai panjang pekerjaan yang membuat roda ekonomi kreatif ikut bergerak.
Desainer membutuhkan penjahit, koreografer bertemu dengan penari, sementara pemusik bekerja berdampingan dengan penata suara dan teknisi. Setiap profesi saling bertaut, menjadikan budaya bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga ruang bagi banyak orang untuk berkarya.
Semangat itulah yang menjadi salah satu napas penyelenggaraan Pagelaran Sabang Merauke dari tahun ke tahun. Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi perlu dirawat dan dikembangkan agar nilai ekonomi di sekitarnya turut tumbuh.
Presiden Direktur iForte & Protelindo Group F. Aming Santoso melihat perjalanan lima tahun pagelaran itu sebagai buah dari kebersamaan. Menurutnya, kolaborasi membuat pertunjukan tersebut terus berkembang dan menemukan bentuk yang lebih baik setiap tahunnya.
Dukungan dunia usaha terhadap pagelaran juga memperlihatkan hubungan yang semakin dekat antara budaya dan industri kreatif. Tradisi yang dahulu hidup dalam ruang-ruang lokal kini dapat menemukan panggung lebih luas tanpa harus kehilangan akarnya.

Di atas panggung, semua unsur itu akhirnya bertemu dalam satu tarikan napas yang sama. Musik, tari, busana, teknologi, dan manusia saling mengisi hingga membuat kebudayaan terasa dekat dengan kehidupan hari ini.
Pagelaran Sabang Merauke 2026 pun tidak hanya meninggalkan gemerlap lampu ketika pertunjukan usai. Ia meninggalkan gambaran bahwa budaya dapat terus tumbuh ketika ruang kreativitas dan kesempatan ekonomi berjalan berdampingan.
Ketika tepuk tangan terakhir memenuhi Indonesia Arena, ribuan pelaku di balik pertunjukan telah menyampaikan cerita mereka tanpa perlu banyak kata. Dari panggung itu, Nusantara menunjukkan bahwa warisan budaya dapat tetap berakar kuat sekaligus bergerak mengikuti zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....